Educational, Informative, and Inspirational Blog unclebonn.com: Politik
Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Saturday, April 4, 2026

Profil Emanuel Melkiades Laka Lena

https://www.unclebonn.com/2026/04/profil-emanuel-melkiades-laka-lena.html

Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt.
(lahir 10 Desember 1976) adalah seorang apoteker dan politikus Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2025–2030. Sebelum menjabat sebagai gubernur, ia merupakan anggota DPR RI periode 2019–2024 dan kembali terpilih pada 2024 dari daerah pemilihan NTT II. Ia dikenal sebagai salah satu petinggi Partai Golkar yang memiliki latar belakang kuat di dunia aktivisme mahasiswa dan organisasi profesi kesehatan.


Kehidupan awal dan pendidikan


Melki Laka Lena lahir di Oeba, Kupang, dari pasangan Johanes Gadjo Kede dan Sofia Wangga. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di NTT sebelum melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi di Pulau Jawa.

  • SD: SDK Don Bosco 3 Kupang (lulus 1989)
  • SMP: Seminari Kisol, Manggarai Timur dan SMP Katolik Ndao, Ende (lulus 1992)
  • SMA: Sekolah Menengah Farmasi (SMF) Kupang (lulus 1995)
  • Sarjana: S1 Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (lulus 2001)
  • Profesi: Pendidikan Profesi Apoteker, Universitas Sanata Dharma (lulus 2002)


Karier awal dan aktivisme


Karier politiknya berakar dari keterlibatannya dalam organisasi mahasiswa Katolik. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) periode 2002–2004. Selain itu, ia juga aktif sebagai:

  • Ketua Ikatan Keluarga Flobamora NTT-DIY (2000–2002)
  • Deklarator Organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat (NasDem) pada tahun 2010.
  • Ketua Yayasan Saint Mary's College Jakarta (2013–Sekarang).


Di bidang profesional, ia sempat bekerja sebagai konsultan di beberapa perusahaan energi, seperti Puri Consulting Energy dan GSM Konsep, serta menjadi Tim Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada periode 2005–2009.


Karier legislatif


Melki Laka Lena mulai masuk ke lingkar inti kekuasaan legislatif sebagai Tenaga Ahli Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI (2012–2013) dan Staf Khusus Ketua DPR RI (2014–2018).


Pada Pemilu 2019, ia terpilih menjadi anggota DPR RI dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan kependudukan. Selama di parlemen, ia memimpin berbagai agenda krusial, termasuk:

  • Ketua Panitia Kerja (Panja) Undang-Undang Kesehatan.
  • Deputi Kerja Sama Satgas Lawan Covid-19 DPR RI (2020–2022).
  • Ketua Panja Tata Kelola Obat dan Alat Kesehatan.


Karier politik di Partai Golkar


Di internal partai, Melki menduduki berbagai posisi strategis yang memperkuat posisinya di tingkat nasional:

  • Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi NTT (2017–Sekarang).
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) (2015–2016).
  • Wakil Ketua Umum PPK Kosgoro 1957.


Gubernur Nusa Tenggara Timur (2025–sekarang)


Melki Laka Lena maju dalam Pilkada Serentak 2024 sebagai Calon Gubernur NTT berpasangan dengan Johni Asadoma. Pasangan ini diusung oleh koalisi besar yang dipimpin oleh Partai Golkar dan Partai Gerindra. Setelah memenangkan pemilihan dengan suara signifikan, Melki resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Kepresidenan.


Dalam masa jabatannya, ia mengusung visi penguatan ekonomi berbasis potensi lokal melalui program One Village One Product dan fokus pada penanganan isu-isu mendasar di NTT seperti stunting, kemiskinan ekstrem, dan perbaikan infrastruktur wilayah kepulauan.


Kehidupan pribadi


Ia menikah dengan Mindriyati Astiningsih dan dikaruniai seorang putri bernama Michelle Pininta Rivera Laka Lena.


Baca Juga : Sang Pamong dari Batutua: Jejak Pengabdian Daniel Adoe untuk Kota Kasih

 



Monday, March 30, 2026

Sang Pamong dari Batutua: Jejak Pengabdian Daniel Adoe untuk Kota Kasih

https://www.unclebonn.com/2026/03/sang-pamong-dari-batutua-jejak.html

Di ufuk barat Pulau Rote, tepatnya di Batutua, seorang anak laki-laki lahir pada 1 Agustus 1950. Dari pasangan Cornelis Adoe dan M. Ndoloe, anak itu diberi nama Daniel Adoe. Kala itu, mungkin tak ada yang menyangka bahwa bocah yang menghabiskan masa kecilnya di Sekolah Rakyat GMIT ini kelak akan menjadi nakhoda bagi ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Akar yang Kuat di Tanah Rote


Perjalanan Daniel adalah prototipe dari ketekunan anak daerah. Lulus dari SMP Negeri Ba’a pada 1965, ia menyeberangi lautan menuju Kupang untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 173. Di kota inilah, benih-benih kepemimpinan Daniel mulai berkecambah.


Baca Juga : El Asamau : Belajar Bahasa Inggris Tidak Ada yang Instan


Ia tidak memilih jalur instan. Daniel memilih jalur "Pamong Praja"—sebuah jalan sunyi pengabdian birokrasi. Pilihannya jatuh pada APDN Kupang (lulus 1974) dan kemudian menajamkan taji akademisnya di Universitas Brawijaya Malang hingga meraih gelar Sarjana Lengkap pada 1979. Bagi seorang pemuda NTT di era 70-an, menempuh pendidikan di Malang adalah sebuah prestasi yang prestisius sekaligus menempa mentalitas adaptifnya.


Meniti Tangga Birokrasi


Karier Daniel dimulai dari unit terkecil pemerintahan. Ia sempat mencicipi kerasnya medan sebagai Kepala Kantor Kecamatan Amanuban Timur di Timor Tengah Selatan (TTS). Pengalaman lapangan inilah yang membentuk perspektifnya: bahwa kebijakan di balik meja harus selaras dengan debu di jalanan desa.


Baca Juga : Dari ASN ke Petani Global: Kisah Inspiratif El Asamau Membangun NTT dari Akar Rumput


Kepiawaiannya mengelola administrasi membawanya kembali ke lingkaran inti kekuasaan. Dari Kasubag di Setda NTT hingga menjadi Pembantu Direktur APDN Kupang, Daniel membuktikan bahwa ia bukan sekadar birokrat, melainkan juga seorang pendidik bagi calon-calon pamong muda.


Panggung Politik dan "Duo Dan" yang Fenomenal


Transisi Daniel dari birokrat murni ke panggung politik terjadi secara organik. Dua periode di DPRD Provinsi NTT (1987-1997), termasuk menjabat sebagai Wakil Ketua, menjadi kawah candradimuka baginya untuk memahami dialektika kekuasaan.


Namun, sejarah mencatat namanya paling tajam saat ia memimpin Kota Kupang. Setelah menjabat sebagai Wakil Walikota mendampingi tokoh legendaris S.K. Lerik (2002-2007), Daniel Adoe mencetak sejarah baru. Pada Pilkada 2007, ia berpasangan dengan Daniel Hurek—yang populer dengan sebutan "Duo DAN".


Ini bukan sekadar kemenangan biasa. Itu adalah Pilkada langsung pertama di mana rakyat Kota Kupang memilih pemimpinnya secara demokratis. Kemenangan Duo DAN menjadi simbol harapan baru bagi "Kota Kasih". Di bawah kepemimpinannya sebagai Walikota (2007-2012), Daniel dikenal sebagai sosok yang tenang namun taktis dalam menata kerumitan kota yang sedang bertumbuh pesat. Baca Juga Cerita Menarik Lainnya : Hercules vs John Kei: Dua "Penguasa Jalanan" Jakarta dan Jejak Kekuasaan Dunia Bawah Tanah


Organisasi sebagai Napas


Kesuksesan Daniel tidak jatuh dari langit. Ia adalah "orang organisasi" sejati. Jejaknya terekam di berbagai lini, mulai dari mahasiswa Golkar, KNPI, AMPI, hingga Kosgoro. Bahkan di masa senjanya dalam politik, ia dipercaya memimpin Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) NTT dan Ketua DPD II Golkar Kota Kupang.


Kini, di masa pensiunnya, Daniel Adoe kembali ke pelukan keluarga—bersama Ibu Welmintje Apriana Bendjamin dan keenam putra-putrinya. Namun, warisan pengabdiannya dari Batutua hingga ke meja Walikota tetap menjadi inspirasi bagi banyak pemuda di NTT. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang gemilang, seseorang harus bersedia meniti tangga dari yang paling bawah, dengan integritas yang tetap teguh terjaga.* 


Baca Juga Cerita Inspiratif Berikut : Mengenal Lebih Dekat Suster Elisabeth Sutedja Lulusan Terbaik Harvard University yang Memilih Hidup Membiara

Sunday, March 29, 2026

Hercules vs John Kei: Dua "Penguasa Jalanan" Jakarta dan Jejak Kekuasaan Dunia Bawah Tanah

https://www.unclebonn.com/2026/03/hercules-vs-john-kei-dua-penguasa.html

Jakarta bukan sekadar rimba beton pusat perputaran rupiah, melainkan palagan bagi perebutan pengaruh di balik bayang-bayang hukum. Di lorong-lorong gelap kekuasaan informal, dua nama muncul sebagai legenda hidup: Hercules Rosario de Marshal dan John Refra Kei. Keduanya bukan sekadar pemimpin kelompok, melainkan personifikasi dari sistem keamanan partikelir yang tumbuh subur di jantung ibu kota.


Hercules: Sang "Anak Macan" dari Timor


Lahir di tengah desing peluru konflik Timor Timur, Hercules adalah produk langsung dari sejarah militeristik Indonesia. Tragedi kehilangan tangan dan mata saat membantu operasi logistik TNI (dulu ABRI) membawanya ke RSPAD Gatot Subroto Jakarta, hingga akhirnya terdampar di kerasnya trotoar Tanah Abang.


Baca Juga : Kisah Nyata, Yasuke Prajurit Samurai Pertama Asal Afrika yang Melegenda


Pada dekade 80-an hingga 90-an, Hercules mengubah Tanah Abang menjadi "kerajaan" kecilnya. Berdasarkan catatan sosiolog Ian Douglas Wilson dalam bukunya The Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia, Hercules adalah prototipe preman yang lahir dari simbiosis dengan elemen militer era Orde Baru. Ia menyediakan jasa keamanan di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara melalui jaringan pemuda Timor.


Namun, roda berputar. Kekuasaannya di Tanah Abang tumbang pada 1996 setelah bentrokan hebat dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu. Menariknya, pasca-reformasi, Hercules melakukan reposisi. Melalui ormas GRIB (Gerakan Rakyat Indonesia Baru), ia bertransformasi menjadi aktor politik-sosial yang merapat ke lingkaran elit nasional, membuktikan bahwa kekuasaan jalanan bisa "dicuci" menjadi legitimasi organisasi.


John Kei: "The Godfather" dari Maluku


Jika Hercules berangkat dari bayang-bayang militer, John Kei membangun imperiumnya lewat spesialisasi yang lebih klinis: debt collector (penagih utang). Merantau dari Maluku Tenggara pada awal 90-an, John mendirikan Angkatan Muda Kei (AMKEI).


Baca Juga : Lompatan Jauh Kedepan


John Kei kerap dijuluki media sebagai "Godfather of Jakarta". Gaya kepemimpinannya mengadopsi struktur organisasi yang sangat rapi dan loyalitas etnis yang fanatik. Berbeda dengan penguasaan lahan statis, John bergerak di sektor jasa keuangan informal. Namanya mencuat dalam berbagai peristiwa kelam, mulai dari bentrok di diskotek hingga kasus pembunuhan pengusaha Tan Hari Tantono yang membuatnya divonis belasan tahun penjara.


Meski sempat menyatakan pertobatan religius di Lapas Nusakambangan, jejak kekerasan seolah enggan lepas. Konflik berdarah di Green Lake City tahun 2020 menunjukkan bahwa dalam ekosistem dunia bawah tanah, dendam dan loyalitas adalah mata uang yang sulit didevaluasi.


Simbiosis dan Transformasi yang Belum Usai


Kedua sosok ini memiliki pola yang identik dalam mempertahankan eksistensi. Pertama, mereka mengisi kekosongan hukum (legal vacuum) dalam penyelesaian sengketa lahan dan utang-piutang. Kedua, mereka memanfaatkan sentimen primordial untuk membangun "tentara" yang setia.


Baca Juga : Harta, Tahta dan Wanita


Ian Wilson mencatat bahwa fenomena seperti Hercules dan John Kei adalah hasil dari kegagalan negara dalam memberikan rasa aman dan keadilan ekonomi. Mereka bukan hanya pelaku kriminal, melainkan penyedia layanan di pasar gelap kekuasaan.


Kini, Hercules tampil dengan batik dan jabatan resmi, sementara John Kei masih bergelut dengan jeruji besi. Kisah keduanya adalah potret sosiologis Jakarta: sebuah kota di mana garis antara "penguasa jalanan" dan "tokoh masyarakat" seringkali hanya setipis benang. Mereka adalah cermin dari sisi gelap pembangunan yang meminggirkan kaum marginal, lalu memaksa mereka menciptakan hukumnya sendiri demi bertahan hidup.*

 

Thursday, January 26, 2023

Mantan yang Baik

https://www.unclebonn.com/2023/01/mantan-yang-baik.html

Saya beberapa tahun lalu mengidolakan Chelsea, Real Madrid dan Liverpool. Karena suatu peristiwa (pupus juara) akhirnya saya kembali memilih sang mantan, Manchester United (CLBK) dan Barcelona (idola baru) karena ada Messi-nya.


Di saat saya menikmati remah-remah kisah masa lalu dengan sang mantan, mereka yang ditinggalkan berubah menjadi tim yang kuat dan bermental juara.


Lantas apa saya mesti kembali ke hati mereka demi sebuah kepuasan karena kenangan yang sempat mengisi ruang hati?


Baca Juga : Apakah Jan Ethes Penerus Tahta Dan Singgasana Pakde Jokowi?


Sebagai mantan yang baik sikap saya adalah memberi ucapan selamat, dukungan moril, semakin memotivasi mereka agar mereka kian sukses dari hari ke hari. Tak lupa, saya akan berdoa buat mereka semua.


Politik dan sepak bola itu dua bidang yang berbeda. Tapi proses untuk menuju "goal"-nya nyaris sama. Teknik, strategi dan intrik-intrik dipakai agar bisa keluar sebagai jawara. 


Bedanya sepak bola dengan politik pada aturan baku yang harus ditaati bersama yaitu fair play dan menjunjung sportivitas. Dalam politik dinamikanya begitu cair. Sehingga jalan pintaspun dianggap pantas. Mestinya seorang politisi belajar bagaimana menjadi seorang pemain sepak bola yang teguh pada nilai-nilai olahraga.  Walaupun tensi pertandingan panas disertai agresivitas tinggi mereka tetap komit dengan aturan yang ada.


Baca Juga : Bahasa Rakyat, Modal Sukses Untuk Para Calon Legislatif


Mereka memberi respect dan reward kepada para pemenang dan akan berkompetisi secara sehat demi sebuah kehormatan dalam episode kompetisi yang akan datang. Bukan ingin melakukan sabotase dengan ajakan seperti orang yang gagal move on.


Bukan karena kita mantan juara dan "penguasa" kompetisi kita jadi alergi dengan sang juara baru dengan tampilan permainannya yang cantik, kalam dan memukau. Omegot!


Waingapu, Januari 2017


Monday, January 23, 2023

Seandainya Syahrini Jadi Anggota DPR

https://www.unclebonn.com/2023/01/seandainya-syahrini-jadi-anggota-dpr.html

Saya berharap dengan sungguh mulai malam ini, di bawah pohon Kersen saya berimaji seandainya pada pagelaran pemilihan legislatif (Pileg) 2019 nanti ada nama Syahrini terdaftar sebagai Caleg anggota DPR RI periode 2019-2024 dari salah satu Parpol. 

Saya yakin ketenaran, pesona, kecantikan, ditambah lagi stock harta yang melimpah mampu membawa Syahrini ke kursi empuk wakil rakyat di senayan.  Itu baru, sesuatu....


Baca Juga : Apakah Jan Ethes Penerus Tahta Dan Singgasana Pakde Jokowi?


Itu bisa saja terjadi. Ukuran Syahrini cukup butuh modal 20 - 30 Miliar. Kecil itu. Karena Syahrini sudah punya modal popularitas yang tinggi. Cukup bilang, "maju mundur - maju mundur, cantik...cantik" sudah bisa meraup suara dari masyarakat. Itu juga keunggulan Syahrini.


Tak masalah track record, yang penting keterwakilan. Selain keterwakilan kita butuh suasana yang menghibur, adem dan warna baru. Daripada lihat ada anggota yang suka marah-marah, mungkin Syahrini bisa menjadi alternatif wajah yang mendekatkan pelayanan. 


Baca Juga : Kisah Seorang Calon Legislatif 


Kelebihan Syahrini itu ia tahan uji dan tidak mudah marah. Semarah-marahnya Syahrini, lebih menakutkan senyuman saya. Marahnya Syahrini adalah tontonan yang memikat hati publik. Suaranya tidak memekakan telinga tapi menggairahkan.


Tahun 2019 adalah tahunnya selebritis. Kenapa? Karena masyarakat ingin ketenangan dan kesejukan bernegara. Artis itu murni  berpolitik tidak suka mempolitisasi keadaan. Bagamana mungkin mereka mau menciptakan chaos? Sedangkan gen mereka mewarisi alam yang riang gembira. 


Baca Juga : Apa Itu Bonus Biologis?


Mereka hanya suka bagaimana berdandan necis untuk memproduksi situasi yang cetar membahana plus aroma parfum yang menyengat hidung. Apa salahnya kalau mereka seperti itu? 


Mana lebih baik suara kritikan yang membabi buta atau tampilan ayu seperti wajah Syahrini? Gimana mas bila diminta coblos Syahrini? Aku sih Yess!


Baca Juga : Bahasa Rakyat, Modal Sukses Untuk Para Calon Legislatif


Waingapu, 23 Juni 2017

 

Monday, January 2, 2023

Apakah Jan Ethes Penerus Tahta dan Singgasana Pakde Jokowi?

https://www.unclebonn.com/2023/01/apakah-jan-ethes-penerus-tahta-dan.html

Mungkinkah? 


Secara kasat mata melihat gaya hidup anak-anak Jokowi sepertinya mereka jauh dari kehidupan politik. Dari yang sulung Gibran  Rakabuming Raka, kemudian Kahiyang Ayu, sampai si bungsu Kaesang Pangarep tidak ada tanda-tanda kalau kelak mereka akan jadi politisi. Apakah mereka sengaja dilarang oleh bapaknya atau mereka sadar kalau sedikit bermain politik dapat mengganggu kinerja bapak mereka sampai hari ini belum ada keterangan pasti.


Yang jelas, anak-anak ini hidup mandiri dan sederhana mengikuti jejak keteladanan Jokowi sendiri atau pola hidup yang sudah dididik oleh kedua orang tua mereka.


Baca Juga : Catatan Kunjungan Presiden Joko Widodo Ke Laipori, Sumba Timur Dan Energi Seorang Pemimpin 


Melihat keakraban Joko Widodo dengan cucunya Jan Ethes Srinarendra, saya pikir Pak Jokowi secara sengaja mulai membentuk nilai-nilai politik di dalam benak cucunya itu.


Kita bisa melihat itu dari gimmick Pak Jokowi dibeberapa kegiatan formal maupun non formal. Bagaimana melihat cara berbusana Jan Ethes yang sepertinya dibiasakan dalam berbagai momentum kenegaraan sampai kegiatan liburan keluarga sebagai warga negara biasa.


Jokowi sering membiasakan kehidupan istana pada Jan Ethes. Sebenarnya kedua orang tuanya Jan Ethes ini tak terkesan dengan kehidupan istana. Mereka hidup layaknya masyarakat biasa jauh dari publikasi. Mengurusi bisnis mereka secara mandiri. Tapi, tidak bagi Jan Ethes,  Jokowi memperlakukannya istimewa. Beliau membawa ke pusat perbelanjaan dimana Jan Ethes selalu dalam gendongannya. Mungkin membiasakan Jan Ethes ditengah kerumunan massa. 


Baca Juga : Presiden Joko Widodo Ke Sumba Timur, Netizen : Welcome To Sumba Island Mr President


Kondisi ini apakah Pak Jokowi menjaga jalan dan menuntun cucunya menapaki tangga istana?


Secara tidak langsung Pak Jokowi mau bilang kepada publik, ini loh penerus saya di masa yang akan datang.  Dia tak akan jauh dari gaya kepemimpinan saya.


Ya, kira-kira begitulah prediksi saya siapa penerus Jokowi di kancah perpolitikan tanah air dimasa yang akan datang. 


Baca Juga : Presiden Jokowi, Pribadi Yang Tetap Membumi


Namun kita tahu bahwa hidup ini misterius apalagi hidup di dunia politik yang penuh dengan kemungkinan dan kemungkinan. Yang jelas kita tunggu saja kedepannya legitimasi apa yang ditinggalkan oleh Pakde Jokowi. Itulah yang akan membuka jalan bagi cucunya bahkan anak-anaknya.


Unclebonn, 2 Januari 2017


Friday, December 16, 2022

Berpolitik ala Sinterklas

https://www.unclebonn.com/2022/12/berpolitik-ala-sinterklas.html

Sosok Sinterklas atau Santa Klaus itu identik dengan Natal. Sosok yang digambarkan berperawakan tambun,  berjenggot putih dan mengenakan penutup kepala panjang seperti yang teridentifikasi hingga hari ini. Sinterklas juga dikenal suka bagi-bagi kado (hadiah) natal kepada anak-anak. Terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sinterklas itu pribadi yang baik dan juga suka menghibur orang lain.


Tulisan ini bukan membahas siapa sosok Sinterklas itu melainkan mengeksplorasi sekaligus mengelaborasi sosok Santa Klaus kedalam praktik politik dalam versi Penulis Jalanan. Setelah Anda membaca silahkan Anda pula yang mengkonfirmasi perihal ini. 


Baca Juga : Kisah Seorang Calon Legislatif


Baiklah. Politik hari ini dalam menyambut pesta demokrasi  (Pemilu serentak) dinamikanya begitu cair. Panasnya Pilpres 2014 sepertinya tidak kebawa di tahun 2019. Mungkin karena sumber-sumber hoax dan akun-akun yang menyebarkan konten hate speech secara masif sudah dan sedang dibasmi oleh badan cyber nasional.


Ada nilai plus dengan diselenggarakan Pemilu secara serentak baik soal efisiensi anggaran maupun soal dinamika politiknya.  Pemilih tidak lagi terpolarisasi ke salah satu kubu (partai pendukung) tapi sampai pelaksanaannya para calon legislatif yang turun ke lapangan begitu cair untuk mendapat dukungan masyarakat pemilih dari pendukung Capres-cawapres manapun.


Politik ala Sinterklas 


Dengan dinamika yang cair seperti ini, perilaku pemilih akar rumput agak sulit ditebak. Terutama pertarungan perebutan suara pada kantong-kantong suara di daerah kota. Isu soal agama, suku ataupun etnis tidak laku kalau pun ada tidak akan signifikan. Masyarakat lebih melihat sosok dan keterlibatannya secara sosial : modal investasi sosial. Kalau orang baru dia perlu siap banyak modal (duit) dan tidak boleh lupa sikap profesionalitas dan soliditas tim suksesnya. Kalau tidak, duit itu bisa menguap tanpa hasil.


Baca Juga : Politisasi Ala Politik Ikan


Politik ala Sinterklas itu politik momentum. Dalam ceritanya Sinterklas itu memang orang baik. Orang yang suka menolong orang lain. Berbicara kebaikan adalah perilaku alamiah manusia. Tapi politik itu soal insting. Dia berbicara momentum atau peluang. Kalau bahasa yang pas manusia itu naluri harus tajam seperti pebisnis berani berspekulasi dengan target jelas. Tentu melalui analisis fundamental dan teknikal  (haha apa mau belajar Forex Trading?) Ya memang ada hubungannya (demand and suply).


Sinterklas itu membantu orang lain yang susah. Ia hadir dalam “kegelapan” malam. Maksudnya rahasia. Seorang pemimpin yang digambarkan sebagai Sinterklas adalah pemimpin yang gemar bagi-bagi “berkat”. Sinterklas itu dalam ceritanya memang orang kaya. Dengan harta berlebihan dia berbagi dengan orang lain. 


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Bagi-bagi berkat itu ada dua versi. Jika orang yang sudah lama dan sering membagi “berkat” akan dicap tukang amal. Jika karena situasional (situasi yang diciptakan) dia akan dicap sebagai tukang bayar. Konstituennya akan dicap pasukan bayaran. Dan ingat tentara bayaran hanya akan setia pada siapa pembayar terbesar. 


Kesimpulannya apa? Sinterklas politik itu harus tanggap pada momentum. Orang susah tidak mendengar janji Anda tapi setia pada bukti nyata. Tapi patut diingat kebaikan yang dilakukan dengan tulus biasanya tersebar tidak akan menguap dan dia akan mencari dan kembali kepada pemiliknya. 


Waingapu, 15 Des 2018

Tuesday, November 29, 2022

Catatan November 2016 : Menjatuhkan Pemerintahan yang Sah Pake Isu Agama itu Berbahaya!

https://www.unclebonn.com/2022/11/catatan-november-2016-menjatuhkan.html

Jangan menganggap sepele dengan isu makar seperti yang telah disampaikan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Karena tidak mungkin seorang jenderal memakai isu makar hanya sekedar ingin mengalihkan isu terkait Aksi Demo 212. Pasti sebelum menyampaikan ke publik informasi dari berbagai sumber intelijen itu diolah agar menjadi sumber informasi yang valid atau dengan kata lain tidak terjadi error intelijen.


Pernyataan Kapolri yang juga dimaklumi oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo semakin menggambar bahwa aksi dengan jumlah massa ratusan ribu orang rentan dengan aksi penyusupan, tidak terkontrol, dan dekat dengan kericuhan. Soalnya, ada indikasi penumpang gelap yang menyusup masuk dan mungkin ingin memanfaatkan aksi tersebut untuk agenda lain diluar tujuan umat Islam yang memohon keadilan terkait kasus Surat Al Maidah 51. Walaupun terlapor Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sudah menjadi tersangka.


Baca Juga : Mengapa Pastor Tidak Terlibat Dalam Politik?


Memang demo itu tidak dilarang dan hak demo itu dilindungi oleh konstitusi. Tapi ketika demo itu mengarah pada tuntutan yang sifatnya menekan proses hukum itu yang dilarang. 


Saya mengakui bahwa isu agama akan membangkitkan solidaritas umat agama tertentu. Itu kita bisa lihat apa yang terjadi pada Aksi Damai 411. Massa tumpah ruah di jalanan. Tapi, agak menjadi aneh ketika tuntutan itu mengarah ke pimpinan negara (Presiden RI) yang dituduh membela tersangka. 


Isu ini nanti yang akan dipakai dan dipolitisasi. Seolah olah presiden adalah orang yang terlibat langsung dalam kasus dugaan penistaan agama. Dan mereka akan memaksa presiden memerintah Kapolri untuk menahan dan memenjarakan tersangka (Ahok). Jika tidak, maka presiden diposisikan sebagai presiden yang tidak pro Islam. Isu-isu sensitif lain dibangun: presiden pro asing, pro cukong, pro china, dsb. Dan kelompok yang terlibat dalam kericuhan dan penyebab kericuhan dalam Aksi Damai 411 yang diproses menjadi bagian yang dikriminalisasi.


Baca Juga : Gula-Gula Agama


Ketika isu isu sensitif dan sentimentil ini dihembuskan berkali kali maka apa yang terjadi?


Sebagian umat akan termakan isu dan akan menumbuhkan solidaritas antar mereka untuk melakukan pembelaan. Mereka menjadi marah dan objek yang menjadi sasaran mereka akan diserang. Mereka tidak akan peduli dengan aparat keamanan dan tak mematuhi aturan. Gelombang kemarahan akan menjadi aksi kerusuhan. 


Jika kerusuhan terjadi dimana-mana ekonomi kita lumpuh, konflik sosial akan terjadi dimana-mana. Kalau ini yang terjadi maka pemilik modal (dolar) akan membawa pulang dolar ke negaranya atau ke negara lain yang aman. Nilai rupiah akan turun dan tak berharga. Saat itu kita akan kembali memasuki periode 1998 yakni krisis moneter. 



Dan pada akhirnya, masyarakat pendemo akan mengarahkan tuntutan mereka ke Presiden dan meminta presiden turun dari singgasananya atau jabatannya sebagai presiden.


Jika skenario ini yang terjadi maka resiko besar yang akan ditanggung oleh anak bangsa. Saya akan membahasnya secara singkat.


Yang jelas cara dan model aksi demonstrasi yang diperagakan oleh umat di Jakarta akan ditiru oleh umat lain di daerah yang mayoritas. Gaya dan modelnya akan ditiru secara persis. Itulah yang perlu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh umat yang akan memprakarsai berbagai aksi demo tersebut.


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Apa lagi ingin melengserkan presiden dengan cara inkonstitusional. Ilusi kali yeee? Supaya tahu, posisi presiden hari ini diakui sacara konstitusi dan dipilih secara demokratis. 


Kita harus menyadari bahwa Indonesia memiliki keberagaman yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Ada kelompok kelompok masyarakat yang mendominasi di daerah tertentu. Nah, kalau isu SARA atau primordial yang dibangun atau dipakai sebagai materi propaganda maka akan terjadi benturan sosial. Artinya kita  harus membayar mahal untuk negeri ini.


Jadi seandainya, negara dalam keadaan genting dan untuk menjaga stabilitas negara solusinya: tangkap para pelaku dan penyelenggara demo itu. Pelaku demontrasi yang anarkistis ditangani secara tegas bila perlu represif. 


Baca Juga : Pilgub DKI 2016 Dan Politik Ikan


Ingat isu makar pada pemerintah yang sah bukan sekedar isapan jempol. Tertangkapnya sembilan orang terkait anggota teroris yang terlibat dalam demo 411 dan ditangkapnya anggota teroris di Majalengka dengan temuan bom high explosive dua kali lebih besar dari bom Bali mengindikasikan bahwa ada benarnya Demo 212 ada penumpang gelap yang ingin berbuat makar. Salam,


Unclebonn - 29 November 2016


Thursday, November 24, 2022

Sekali Lagi tentang Bung Setnov

https://www.unclebonn.com/2022/11/sekali-lagi-tentang-bung-setnov.html

Bagi kebanyakan orang dalam konteks kasus Papa Minta Saham, dan teranyar kasus korupsi e-ktp, Bung Setya Novanto (Setnov - baca)  menjadi objekan yang dibabat habis habisan. 


Ok, baiklah. Tapi saya memiliki pandangan tersendiri dalam perjalanan panjang karir politik Bung Setnov.  Beliau beranjak benar-benar dari bawah. Dimulai dari penjual minyak goreng, distributor pupuk, sopir pribadi dan bendahara umum. Dari proses panjang itu telah membawa dirinya menuju kursi nomor 1 DPR RI. 


Baca Juga : Politisasi Ala Politik Ikan


Siapa yang bisa bermetamorfosa seperti Bung Setnov? Walau ia gemilang dalam hal intelektual belum tentu ia sanggup menduduki jabatan elit di panggung politik tanah air.


Apa lebihnya Bung Setnov? 


Kalau Bung Setnov disamakan dengan seorang pesulap, dia seorang illusionist,  ya seperti David Copperfield-lah, beliau bukan seorang magician aliran escape magic, ala Cris Angel. Ia baik dalam membangun relasi pertemanan dengan para koleganya. Justru karena itulah  orang sekontrolversial seperti Duo F (Fadli Zon dan Fahri Hamzah ) nyaman berada disampingnya. 


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Bung Setnov bukan pemain politik yang boros dalam berkomunikasi atau gemar menciptakan kontroversi hanya untuk mendapatkan panggung. Ia kalam setampan wajahnya di waktu muda. Kamu yang ngaku ganteng jangan sombong ya? Tak ada legalitasnya.  Tapi Pak Setnov pernah di daulat menjadi pria tertampan sekota Surabaya. Keren kan?


Hari ini anak bangsa boleh saja menghukum Bung Setnov karena ekses-nya telah melanggar kode etik seorang pejabat negara. Namun begitu, bagi kaum muda yang ingin terjun ke dunia politik Anda bisa saja belajar dari Setya Novanto. 


Baca Juga : Lingkaran Dalam 


Sebelum Anda terjun ke gelanggang politik, Anda perlu membangun apa yang dibilang retail politic atau politik eceran. Maksud saya investasi sosial, berteman baik, jangan lupa bagi jatah dengan teman, ikatlah teman dengan “kebaikan” hatimu. Dan Bung Novanto sudah membuktikan itu. Walau ditubuh Golkar memiliki banyak faksi namun ia berhasil keluar sebagai Ketua Umum Golkar dan Ketua DPR RI. Hal seperti ini jika tanpa “modal dan investasi“ jangan harap Anda bisa menjadi nomero uno di Golkar. Mustahil. …


Dan diakhir tulisan ini saya mau bilang bahwa di dunia ini hanya ada dua warna yang mendominasi yaitu hitam dan putih. Jika Anda ragu tinggallah diantara kedua warna itu yaitu abu-abu. Kalau perlu Anda bisa belajar menjadi Don Juan dalam menaklukkan para wanita. Eits jangan pikor dulu, mari Anda belajar jangan menggunakan perasaan. 


Baca Juga : Dulu Lawan Kini Kawan, Politik Itu Cair Dan Unpredictable, Bro!


Karena perasaan bukan hanya bekin hati yang sakit tapi “batangnya” juga,😂😂😂🔜✌. Salam Damai


Unclebonn 24 November 2017




Wednesday, November 2, 2022

Kisah Seorang Calon Legislatif

https://www.unclebonn.com/2022/11/kisah-seorang-calon-legislatif.html

Sampai mereka para legislator itu “duduk manis” menjadi anggota dewan DPRD, DPD, dan DPR itu bukan perkara mudah melainkan rentatan kerja keras dan perjuangan panjang. Ada pula yang beberapa kali gagal bahkan gagal sampai ajal menjemput. Singkatnya dari perjuangan itu ada yang gagal dan ada yang berhasil. Itu realita yang ada. Mungkin kita hanya lihat hasilnya saat mereka berjas dengan necisnya. Namun perjuangan sampai ke rumah rakyat atau sampai ke titik itu berat dan bagi mereka yang duduk merekalah yang terbaik,  mereka-lah yang beruntung. 


Baca Juga : Merajut Kembali Keindonesiaan Yang Terkoyak


Ada beberapa kisah dari teman-teman yang terjun ke dunia politik praktis, menjadi calon legislatif, misalnya. Kalau mau jadi caleg butuh dana besar (walaupun relatif), dan berani mengalahkan diri sendiri.  Politik hari ini tidak ada yang namanya makan siang gratis, beli pahappa (sirih - pinang) dan rokok pun itu membutuhkan uang. Belum lagi untuk biaya lain-lain: cetak alat peraga kampanye, biaya sosialisasi,  biaya saksi, dan beberapa pembiayaan yang membutuhkan dana besar. 


Berikutnya soal mengalahkan diri sendiri. Orang bilang musuh terbesar adalah mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kelemahan diri itu mengalahkan rasa kuatir,  mengalahkan sikap yang ragu-ragu,  rasa malu, minder atau kurang percaya diri  bahkan melawan rasa takut. Itulah musuh yang harus dikalahkan terlebih dahulu. Intinya kalau mau maju harus "buta - tuli" saat berbicara dan tampil di depan publik


Baca Juga : Menjadi Sombong Itu Penting, Guys


Beda antara berteori politik dan praktik politik. Mungkin  saja Anda hebat dalam berteori diruang publik tapi dinamikanya akan berbeda ketika Anda masuk ke gelanggang politik yang sesungguhnya. Jika tidak siap yang ada bisa putus asa. Apalagi berhadapan dengan masyarakat yang pakai rasa (budaya menghormati tamu) beda dengan masyarakat yang sudah kritis mereka bisa langsung bersikap saat Anda mendatangi mereka, maksudnya mendukung atau menolak. Sikap itu mungkin saja karena mereka sudah punya pilihan. Itu lebih baik ketimbang sikap yang abu-abu atau PHP - in orang lain. 


Populer itu salah satu modal. Calon legislatif yang belum populer atau belum terkenal mungkin harus lebih banyak bekerja. Jaringan  pertemanan, dan dukungan keluarga serta modal sosial yang sudah diinvestasikan bisa menjadi faktor pendulang suara selain profil diri yang meyakinkan. 


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Teman-teman terus berjuang. Jangan kasi kendor! Fight menjadi calon legislatif itu adalah hak politik setiap warga negara dan itu itikad baik. Hasil selalu sejalan dengan proses. Semoga Tuhan memberkati kalian semua, amin.


Sunday, October 9, 2022

Menanti Oase di Tengah Padang Politik

https://www.unclebonn.com/2022/10/menanti-oase-di-tengah-padang-politik.html

Kita berharap dalam situasi seperti ini pemimpin umat memberi khotbah-khotbah yang menyejukan bagi umatnya atau pengikutnya. Mudah-mudahan kita sepakat soal ini.


Jangan biarkan isu SARA menjadi pemicu pertentangan antar sesama anak bangsa. Mata dan otak masyarakat sudah lelah melihat perilaku atau mendengar pernyataan hate speech dari makhluk-makhluk yang cari perhatian, cari uang lewat tutur kata yang sarat kepentingan dan penuh kebencian.


Baca Juga : Jangan Larang Guru Berpolitik


Anehnya ketika berurusan dengan polisi pasti drama yang dipilih playing victim : dizolimi, tidak pro-lah dan beribu alasan lain. Benteng terakhir pasti bawa nama agama. Dan metodenya sama bagi para mandor dan politisi pragmatis.


Tapi saya meyakini pernyataan Bung Eggi Sudjana tidak mewakili umat secara keseluruhan. Masih banyak teman yang begitu menghargai keberagaman Indonesia. 


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Saya juga percaya dengan pendidikan yang tinggi dari pemimpin umat kami dan pengetahuan filsafat yang mumpuni mereka tidak akan pernah terjebak dalam ujaran yang tendensius kayak ini. Pernyataan ini seperti manusia psikopat karena seringnya ia dirundung kegagalan. 


Dan kita yang suka kritis jangan beraksi di jalanan, protes sana-sini. Percayakan pada proses hukum. Jangan sampai kita jatuh pada lubang yang sama. 


Tuhan tak perlu dibela. Biarlah Tuhan yang menjaga dan membela umatnya. Kasihilah musuh-mu! Kondisi bangsa saat ini seperti menanti oase ditengah padang politik.


Baca Juga : Kelas Sebagai Ruang Demokrasi


Artikel lawas 2017