Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Politisasi ala Politik Ikan - unclebonn.com

Tuesday, June 7, 2022

Politisasi ala Politik Ikan

https://www.unclebonn.com/2022/06/politisasi-ala-politik-ikan.html

Politik itu penuh dengan dinamika. Dan dari dinamika itulah pelaku politik akan menjadikannya sebagai dimensi sesuai prespektif politik mereka. Prespektif politik dimaksud sejauh mana mengukur sebuah isu itu dihembuskan ke ranah publik.  Tujuannya tak lain hanya untuk mengetahui reaksi dan mengharapkan feedback atau tanggapan balik dari publik itu sendiri.  Dinamika yang dibuat dalam konteks ini berkaitan erat dengan preferensi masyarakat. 


Berkaitan dengan preferensi masyarakat, saya akan menganalogikannya dengan pemancing, umpan, dan ikan. Dalam politik masalah umpan (isu) itu penting.  Umpan itu harus dikemas sedemikian rupa agar mampu memberi daya tarik kepada publik (ikan). Pemancing (pelaku politik) akan mencoba dengan berbagai umpan.  Jika umpan pertama gagal ia akan mencoba umpan kedua dan seterusnya. Atau sampai pada tahap akhir dimana umpan-umpan tersebut sudah menjadi “pemikat utama” dari berbagai jenis ikan


Baca Juga : Merajut Kembali Keindonesiaan Yang Terkoyak


Dinamika politik lahir dari dramatisasi yang sudah didesain sedemikian canggihnya.  Pelaku politik dituntut bersikap dan bertindak ganda. Ia sendiri membuat skenario atau menjadi dirigent agar “umpan” isu dimaksud tetap dalam arahannya. Ia juga sekaligus menjadi pelempar umpan yang ahli. Seperti boi-boi yang melempar umpan berdasarkan fenomena alam yang terjadi. 


Pada level ini pelaku diminta “keluar” dari zona aman. Atau ia harus buta dan tuli menghadapi sikap reaktif publik.  Dalam bahasa santunnya, “jangan pakai perasaan”.  Karena dalam politik isu itu bisa saja dibuat seperti bola api dan jika ditendang ia akan menggelinding dan membakar siapa saja. Lantas bagaimana dengan politik ikan?


Baca Juga : Berbangsalah Dengan Asyik


Politik menuntut agar pelaku politik (politisi) berani keluar dari zona nyamannya. Ia bisa saja menjadi umpan, pemancing, atau ikannya.  Namun karena dalam konteks ini saya berbicara politik ala ikan maka peran yang diambil tentu sebagai ikan. Politik ala ikan (politik ikan) ini merupakan suatu cara pandang tentang ikan dan dunianya (laut).  Kita perlu belajar bagaimana ikan-ikan berjuang mempertahankan eksistensinya: bertahan, menghindari bahaya, dan menyerang musuh-musuh mereka.


Secara alamiah ikan selalu beradaptasi dengan kondisi lingkungan di sekitar untuk mempertahankan hidup.  Di sisi lain merekapun harus menghindari diri dari predatornya.  Jika memang ada kesempatan dimana situasi itu mengancam ikan-ikan akan melakukan serangan kilat untuk menyelamatkan diri. 


Baca Juga : Respect Untuk Mas AHY


Hukum mangsa memangsa adalah suatu keniscayaan di dunia laut. Ikan mana yang lemah dan tak berdaya akan dimangsa oleh ikan-ikan lain. Jika ikan tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, alam yang akan “membunuhnya”.  Kemampuan adaptasi dan kepekaan ikan dalam segala keadaan sepertinya perlu diadobsi oleh para politisi. Seorang politisix, politik ala ikan ia perlu memiliki kemampuan bertransformasi baik sebagai umpan dan juga sebagai pemancing harus sama baik. Tentu semuanya ini harus sesuai dengan lakon politik yang telah didesain. 


Kelemahan sekaligus Kelebihan


Kebiasaan ikan berpindah-pindah atau beruaya jika ditarik dalam politik praktis, maka politisi tipe ini akan dicap sebagai politisi yang tidak tahan banting bahkan bisa saja disebut sebagai bunglon atau kutu loncat. Tak apalah.  Dalam politik tidak dikenal dua pemenang. Yang ada siapa yang menguasai arena dialah yang akan keluar sebagai pemenang.  Disinilah ilmu politik ala ikan harus dipakai.  


Baca Juga : Bahasa Rakyat, Modal Sukses Untuk Para Calon Legislatif


Jika politisi ini bertransformasi sebagai ikan dia akan selektif hanya pada umpan (tawaran politik) lain yang potensial.  Maka umpan itu harus berkualitas dan memiliki daya tarik untuk dipakai agar bisa menangkap ikan-ikan bernilai ekonomis penting. Jika iapun harus bertransformasi menjadi pemancing maka ia hanya menangkap ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Maksudnya memilih pemimpin atau mendukung pemimpin tersebut yang menjanjikan kemenangan sekaligus memberi harapan perlindungan dan kemakmuran.


Politik sama seperti arus laut. Bergerak liar kadang membentuk pusaran-pusaran arus. Jika seorang politisi bertransformasi menjadi seorang pemancing maka ia harus hati-hati menangkap ikan di pusaran arus tersebut karena bisa saja ia hanyut terbawa arus. Seorang pemancing harus pandai membaca fenomena-fenomena yang terjadi. Jangan pernah memancing dipusaran arus jika ia tak menguasai fishing ground (lokasi penangkapan ikan) itu sendiri.


Baca Juga : Menjadi Sombong Itu Penting, Guys


Politik perlu memiliki kemampuan bertransformasi. Jika ia harus menjadi hiu, sang politisi itu harus mempunyai insting “membunuh”. Jika harus berlaku bak lumba-lumba, hendaknya ia menjadi penolong yang baik. Jika harus bertransformasi menjadi ikan gergaji ia harus mampu “menerobos” tatanan politik lawan. Jika ia berhadapan dengan politisi berkarakter predator hendaklah ia berlaku seperti ikan remora.


Tujuan politik tak lain mempertahankan status quo dan melanggengkan kekuasaan. Ia bisa bersikap seperti hiu pembunuh bisa juga seperti lumba-lumba. Hiu sebagai predator bisa saja ramah kepada remora kecil karena sikap yang saling menguntungkan (mutualistik).


Baca Juga : Harta, Tahta Dan Wanita


Didalam politik tidak ada teman yang abadi yang ada kesamaan kepentingan dan bagaimana mengamankannya. Hari ini kawan besok akan menjadi lawan bahkan lawan yang mematikan.   Seorang teman yang baik jika ia sakit hati padamu dia hanya menunjuk-nunjuk (mengancam)-mu dengaan belati.  Seorang lawan politik dengan belati yang sama ia akan langsung menghujammu dari belakang. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. 


Penulis : Unclebonn - Kompasiana 2016


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!