Setiap kali roda pesawat menyentuh aspal pacu di Kecamatan Kambera, Sumba Timur, ada getaran sejarah yang ikut bangkit. Bandar Udara Umbu Mehang Kunda bukan sekadar deretan beton dan terminal modern; ia adalah sebuah naskah panjang yang mencatat perpindahan zaman. Jika aspalnya bisa bicara, ia akan berkisah tentang migrasi ribuan tahun lalu, deru mesin pesawat kolonial, hingga langkah tegap Sang Proklamator. Baca Artikel Lain : Memburu Keindahan Air Terjun Tanggedu
Akar Purba di Tanah Kika Ga
Jauh sebelum dunia mengenal navigasi udara modern, lahan ini adalah
sebuah titik penting bagi peradaban Sumba. Nama aslinya adalah Mau Hau.
Nama ini bukan sekadar identitas geografis, melainkan sebuah penghormatan
terhadap akar leluhur orang Sabu.
Alkisah, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi, dua bersaudara asal Asia
Selatan, Kika Ga dan Hawu Ga, bermigrasi dan membangun pemukiman
di sini. Tanah yang kini menjadi landasan pacu dulunya adalah kampung halaman
mereka. Pemerintah Hindia Belanda, dengan ketelitiannya memetakan wilayah,
kemudian memilih bekas kampung Kika Ga ini sebagai lokasi pelabuhan udara
karena letaknya yang strategis, hanya berjarak 5 km dari pusat nadi Waingapu. Baca Juga Artikel Lain : Indahnya Air Terjun Harunda di Desa Bidihunga Kabupaten Sumba Timur
Saksi Bisu Diplomasi dan Kedaulatan
Membuka arsip foto lama Bandara Mau Hau (1920-2009) seperti memutar rol
film hitam putih tentang perjuangan bangsa. Di sini, pada kurun waktu
1920-1947, Daniel Krijger terekam kamera saat mengantar Residente De Timor
(Kupang). Saat itu, Mau Hau adalah simpul penting bagi kekuasaan Belanda di
Timur Nusantara.
Namun, momen yang paling menggetarkan sanubari terjadi pada 30
Oktober 1950. Tak lama setelah kedaulatan Indonesia diakui dunia, Presiden
Soekarno mendarat di Mau Hau. Bung Karno datang bukan untuk sekadar pesiar,
melainkan untuk sebuah misi sakral: menemui raja-raja Sumba guna mengukuhkan
persatuan di bawah panji NKRI. Bayangkan debu landasan Mau Hau yang tersingkap
oleh langkah Bung Karno, membawa pesan kebangsaan yang menyatukan tekad
masyarakat Matawai Amahu. Baca Juga : Senja yang Menakjubkan di Pantai Walakiri Sumba Timur
Evolusi Sang Gerbang Utama
Zaman terus bergulir. Dari era pilot maskapai Belanda (KLM) yang sibuk
mengisi dokumen administrasi pada Maret 1949, hingga peresmian resminya oleh
Pemerintah Indonesia pada dekade 70-an, bandara ini terus bertransformasi.
Landasan pacunya kini membentang sepanjang 2.000 meter, siap menyambut siapa
saja yang ingin mencicipi eksotisme tanah Marapu.
Nama Mau Hau akhirnya berganti menjadi Bandar Udara Umbu Mehang Kunda
pada 28 Mei 2009. Perubahan ini merupakan bentuk penghormatan abadi bagi
sosok Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur yang kharismatik, yang berpulang
pada 2 Agustus 2008. Beliau adalah tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk
kemajuan Sumba, sehingga sangat layak namanya terukir di gerbang masuk utama
pulau ini.
Epilog: Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Kini, saat kita duduk di ruang tunggu atau melihat pesawat lepas landas
menuju ufuk barat, ingatlah bahwa di bawah kaki kita terdapat jejak 2.500 tahun
sejarah. Dari pemukiman purba Kika Ga hingga menjadi pintu gerbang pariwisata
dunia, Umbu Mehang Kunda adalah bukti bahwa Sumba tidak pernah terisolasi dari
peradaban. Ia adalah saksi bahwa kebaikan dan perjuangan para tokoh
terdahulu—seperti kata motto hidup saya—tidak akan pernah menguap, melainkan
kembali dan menetap sebagai warisan bagi generasi mendatang. Baca Juga :



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!