SUMBA TIMUR – Matahari pagi di Kecamatan Kambera baru saja meninggi ketika pelataran Gereja Santa Elisabeth Lambanapu mulai dipenuhi warna hijau daun palma. Minggu, 29 Maret 2026, jarum jam menunjukkan pukul 08.25 WITA, namun suasana khidmat sudah terasa kental menyelimuti umat yang berkumpul di depan pintu gereja.
Hari itu bukan Minggu biasa. Umat Katolik di Stasi Lambanapu
tengah merayakan Minggu Palma, sebuah fragmen pembuka Pekan Suci yang mengenang
momen ikonik: masuknya Yesus ke Yerusalem.
Perarakan yang Menghidupkan Sejarah
Sebelum langkah kaki memasuki ruang kemudi gereja, suara komentator
menggema, mengingatkan seluruh umat bahwa prosesi ini adalah bentuk kenangan
akan misi keselamatan. Di bawah langit Sumba, umat diajak menapak tilas jalan
kesengsaraan yang ditempuh sang Juru Selamat demi menebus dosa manusia. Baca Juga : Pahami Ini Jika Ingin Kembali Menjadi Katolik Setelah Bercerai
Upacara dimulai dengan syahdu. Imam menyapa umat dengan hangat,
dilanjutkan pembacaan Injil Matius yang mengisahkan Yesus menunggangi keledai
memasuki Yerusalem. Tak lama kemudian, percikan air suci menyentuh tumpukan
daun-daun palma yang telah disiapkan panitia.
Saat prosesi perarakan dimulai, suasana menjadi sangat emosional. Umat
berjalan perlahan sembari melambaikan daun palma di tangan. Lagu-lagu pujian
dinyanyikan secara bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang menyayat
sekaligus menguatkan iman.
Suara Merdu dan Kisah Sangsara
Kemeriahan liturgi pagi itu semakin terasa berkat persembahan koor
gabungan dari Lingkungan Santo Yoseph Kalumbang dan Lingkungan Santo
Fransiskus Palamarung. Alunan suara mereka mengiringi setiap transisi
ibadah, memberikan roh pada setiap doa yang dipanjatkan.
Baca Juga : Bolehkah Orang Katolik Menyimpan Patung Agama Lain?
Namun, puncak keheningan terjadi saat Liturgi Sabda mencapai bagian Pasio
atau Pembacaan Kisah Sangsara Yesus Kristus. Tiga orang Orang Muda Katolik
(OMK) tampil ke depan. Dengan suara yang tertata dan penuh penjiwaan, mereka
membacakan detik-detik pengorbanan Yesus—sebuah pengingat bagi umat bahwa
keselamatan tidak datang dengan cuma-cuma, melainkan melalui jalan penderitaan.
Makna Pengorbanan
Dalam homilinya, Romo Meus menekankan satu pesan fundamental: Keselamatan
diperoleh melalui pengorbanan. Pesan ini seolah menjadi pengingat bagi umat
Lambanapu agar tidak gentar menghadapi kesulitan hidup, karena di balik setiap
kesengsaraan yang dijalani dengan iman, selalu ada kemenangan yang menanti.
Misa pun berlanjut mengikuti tata perayaan Ekaristi hingga usai. Keluar
dari pintu gereja, umat tidak hanya membawa pulang daun palma yang telah
diberkati, tetapi juga membawa semangat baru untuk menjalani Pekan Suci dengan
hati yang lebih bersih. Baca Juga Kisah Inspirasi : Sekelumit Kisah Elisabeth Sutedja, Lulusan Terbaik Harvard, Vice President - Business Development Boeing Company yang Memilih jadi Suster



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!