Educational, Informative, and Inspirational Blog unclebonn.com: Cerpen
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, April 17, 2026

Janji yang Tertunda : Kisah Kesetiaan Seorang Pria yang Terjebak dalam Siluet Masa Lalu

Kota ini masih sama, namun aroma udaranya selalu terasa berbeda setiap kali aku duduk di sudut kafe ini bersama seorang sahabat lama. Di hadapanku, laki-laki itu—sebut saja namanya Satria—menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin. Satria bukan laki-laki biasa. Di usianya yang sudah matang dan mapan, ia masih betah mendekap kesunyian. Banyak yang mengira ia terlalu pemilih, atau mungkin trauma. Namun, sore itu, ia membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat-rapat.


"Bukan karena aku tak ingin menikah," mulainya dengan suara berat yang seolah memikul beban puluhan tahun. "Hanya saja, ada satu janji yang belum lunas. Sebuah tanggung jawab yang tertunda oleh waktu dan ketiadaan daya di masa lalu."


Pikirannya melayang kembali ke masa SMA, belasan tahun silam. Masa yang seharusnya penuh dengan tawa di koridor sekolah, namun bagi Satria, itu adalah awal dari badai panjang. Saat itu, ia dan kekasihnya, gadis yang sangat ia cintai, melakukan kesalahan besar. Sebuah "kecelakaan" yang membuat dunia mereka runtuh seketika.


"Kami dikeluarkan dari sekolah," kenangnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi itu belum seberapa. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku berdiri di depan pintu rumahnya, mencoba menunjukkan wajah bertanggung jawab, namun yang kuterima adalah caci maki dan kekerasan fisik dari keluarganya. Aku dipukul, diintimidasi, dan dianggap sampah hanya karena saat itu aku hanyalah pemuda miskin yang tak punya masa depan di mata mereka."


Keluarga sang gadis ketakutan. Mereka melihat sosok Satria muda sebagai lubang hitam yang akan menarik anak perempuan mereka ke dalam penderitaan bertubi-tubi. Mereka menolak tanggung jawabnya bukan karena benci pada niatnya, tapi karena takut pada kemiskinannya. Akhirnya, setelah melahirkan, sang gadis dikirim ke kota yang jauh untuk melanjutkan hidup, sementara Satria ditinggalkan bersama luka dan harga diri yang hancur.


"Aku berjanji pada mereka, meski mereka mengusirku, aku akan tetap bertanggung jawab dengan caraku. Aku bersumpah akan membuktikan bahwa aku bukan pria pecundang," bisiknya.


Tahun-tahun berlalu. Satria berjuang seperti kesurupan. Ia belajar, bekerja serabutan, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan perguruan tinggi dan meraih kesuksesan yang sekarang ia genggam. Namun, takdir adalah penulis skenario yang egois. Gadis yang ia cintai telah menjadi istri orang lain, telah memiliki keluarga baru, dan hidup bahagia dengan anak-anak dari pria lain.


"Lalu bagaimana dengan darah dagingmu?" tanyaku pelan, hampir tak tega.


Satria tersenyum tipis, sebuah senyum yang paling menyedihkan yang pernah kulihat. "Dia ada. Dia tumbuh menjadi gadis remaja yang luar biasa cantik. Ia dirawat oleh neneknya sejak bayi. Dan kau tahu? Setiap kali aku melihatnya, jantungku seolah berhenti berdetak. Ia benar-benar duplikat ibunya saat kami masih di SMA dulu."


Satria bercerita bagaimana ia sering mencuri waktu di tengah jadwal kerjanya yang padat hanya untuk berkendara menuju sekolah sang anak. Ia akan memarkir mobilnya di seberang gerbang, menunggu bel pulang berbunyi, hanya demi melihat sekilas keceriaan gadis itu dari kejauhan.


"Dia tidak tahu aku ayahnya. Baginya, aku hanyalah orang asing yang sesekali berpapasan di jalan dan memberinya senyum tulus. Kadang aku ingin berlari, memeluknya, dan mengatakan bahwa akulah pria yang selama belasan tahun ini membiayai sekolahnya diam-diam, yang selalu mendoakan keselamatannya di setiap sujud. Tapi aku tak berdaya. Aku tak ingin merusak kebahagiaan yang sudah tertata di keluarga ibunya."


Ada sesak yang menjalar ke dadaku mendengar ceritanya. Satria tidak menyimpan dendam pada mantan kekasihnya. Ia tidak menyalahkan keadaan yang dulu menghimpitnya. Ia hanya menyesali ketidakberdayaannya di masa lalu. Kesuksesannya sekarang terasa hambar karena ia tetap dianggap sebagai "pria tak bertanggung jawab" oleh ingatan masa lalu yang pahit.


"Kenapa kau belum menikah, Sat?" tanyaku lagi.


"Aku sedang menunggu pengakuan," jawabnya mantap. "Aku tidak akan mengikat janji dengan wanita mana pun sebelum anak gadis itu tahu siapa ayah biologisnya. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, ibunya sudi menjelaskan kepadanya tentang keberadaanku. Aku hanya ingin sekali saja mendengar dia memanggilku 'Ayah' dan memelukku. Hanya itu."


Satria meneguk kopinya yang pahit, seolah itu adalah obat bagi hatinya yang lara. "Jika pelukan itu sudah kudapatkan, jika ia sudah menerima kehadiranku dalam hidupnya, barulah aku merasa tugasku selesai. Saat itulah aku akan berani mengambil keputusan untuk menikah dan melanjutkan hidupku sendiri."


Aku terdiam seribu bahasa. Di hadapanku bukan hanya seorang pria sukses, tapi seorang ksatria melankolis yang menebus dosa masa mudanya dengan kesetiaan yang luar biasa. Ia memilih hidup dalam sel penjara yang ia buat sendiri, demi sebuah pengakuan dari jiwa yang ia cintai.


Matahari mulai tenggelam di cakrawala, menyisakan semburat jingga yang indah namun singkat. Sama seperti kisah Satria, sebuah keindahan yang terenggut oleh waktu, namun tetap mekar dalam sunyi. Aku bangga mengenalnya, laki-laki yang mengajarkanku bahwa tanggung jawab sejati tidak selalu tentang tinggal bersama, tapi tentang menjaga dari jauh, mencintai tanpa memiliki, dan setia pada janji meski seluruh dunia telah melupakannya.


"Dia sudah SMA sekarang," bisik Satria sekali lagi, menutup pembicaraan kami. "Dan dia benar-benar secantik ibunya."


Di balik jendela kafe, aku melihat Satria berjalan menuju mobilnya. Ia akan kembali ke rumahnya yang besar namun sepi, menunggu sebuah hari yang entah kapan akan datang—hari di mana bayang-bayang di gerbang sekolah itu akhirnya bisa pulang ke pelukan sang anak.*

Tuesday, February 3, 2026

Cerita dari Mantan Bendahara : Empat Tahun yang Luar Biasa, Belajar Memanage Pekerjaan

https://www.unclebonn.com/2026/02/cerita-dari-mantan-bendahara-empat.html
Hari ini setelah tanda tangan Berita Acara Rekonsiliasi (Rekon) BOSP TA. 2025 maka secara resmi berakhir sudah tugas saya sebagai bendahara BOSP periode 2022 - 2025. 

Sudah seharusnya yang muda ambil alih untuk regenerasi dan penyegaran. Jujur saja, bekerja rangkap tugas diusia kepala empat menurut saya bukan perkara mudah. Harus bisa atau mampu bekerja dalam suasana apapun. Bekerja dalam kondisi apapun jika waktunya tiba. 

Bagi saya ketika kita menerima tugas, itu merupakan sebuah amanah. Apapun kondisinya, harus diterima dengan lapang dada dan tanggung jawab. Tidak boleh mengeluh atau menyalahkan orang lain ketika mendapatkan tantangan maupun hambatan. Bekerja rangkap tugas itu bukan eksploitasi. Atau kita mendapatkan apa yang dikatakan dalam dunia kerja yakni favoritisme. 

Sesungguhnya pemimpin memiliki pertimbangan sendiri. Mungkin kita diberi kesempatan untuk belajar atau mereka beranggapan bahwa kita mampu untuk melakukan pekerjaan itu. 

Saya sendiri selalu beranggapan bahwa setiap tugas yang diberikan atau diterima merupakan sebuah proses belajar dan kita perlu mengalami atau merasakan apa yang dipercayakan kepada kita. Suatu saat kita akan merasakan kembali pengalaman demi pengalaman yang akan membentuk jati diri kita. Kita tidak selamanya menjadi pengamat tapi menjadi pelaku - bagian dari proses itu. 

Tugas saya selanjutnya adalah menjadi mentor bagi bendahara baru. Dalam dunia kerja idealisme ditanggalkan karena kita berbicara kebutuhan banyak orang atau kebutuhan sekolah. Cara pandang seorang pengamat tentu beda dengan para pekerja. Selama itu bukan untuk kebutuhan atau kepentingan pribadi lakukan yang terbaik walaupun tidak akan menyenangkan semua orang. Sekali lagi terima kasih untuk empat tahun yang penuh cerita dan perjuangan. 

Terima kasih kepada Tuhan semesta alam yang selalu menyelesaikan setiap perkara yang saya hadapi. Terima kasih juga dengan adanya Sambo Effect sehingga menjadi guyonan asyik. Terima kasih dengan penampilan yang kerap dianggap sebagai seorang imam atau ex frater. "Pesona-pesona" itu yang membuat pekerjaan saya agak ringan. Terima kasih untuk semuanya. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Salam Damai, 

Thursday, November 24, 2022

Ayah, Kamu Tetap yang Terhebat

https://www.unclebonn.com/2022/11/ayah-kamu-tetap-yang-terhebat.html


Saat itu usiaku empat tahunan di tahun 1998. Negara lagi dilanda krisis moneter. Bahan-bahan pokok mahal. Termasuk susu untuk balita. Itu kata ibu, saat aku menginjakan kaki di bangku SMP. Tahun 2005 keadaan ekonomi bangsa ini sudah membaik. Kebanyakan guru-guru di sekolah kami sudah menggunakan handphone genggam. Tapi sayang, keluarga kami dililit masalah ekonomi. Jadi, handphone bagiku ibarat barang antik. Ayah harus bekerja serabutan. Wajahnya lelah dan kusut karena seharian bekerja. Tapi tak pernah ia mengungkapkan itu semua kepada kami. Ia seorang ayah yang tegar dan bertanggung jawab. 


Baca Juga : Dia Laki-Laki Ibunya


Ayah selalu pergi pagi dan pulangnya pada malam hari. Itu berlangsung berhari-hari selama beberapa tahun. Saat itu aku sedang menempuh pendidikan di SMP. Entah sampai kapan masalah lilitan ekonomi keluarga kami berakhir? Tapi hari ini aku bangga pada ayah akhirnya aku sudah bisa berada ditahap seperti ini.


Oh iya, ayah memberi nama Darling Nuhamara untukku. Darlin itu dari kata Darling yang berarti sayang. Kata ayah kepada ibu saat itu, aku adalah kesayangannya. Ayah akan berjuang berdarah-darah untuk kehidupan keluarga kami dan masa depanku. Makanya ia selalu membuktikan  janji-janjinya dengan kerja keras.


Baca Juga : Terbawa Perasaan


Ayah memang memiliki banyak tatto. Aku kerap di-bully teman sebagai anak preman. Itu aku rasakan sejak aku berada di bangku SD kelas VI bahkan sampai di kelas XI SMP. Ayah selalu mengingatkan aku agar sabar menghadapi ejekkan teman-teman. Ayah selalu bilang, walau dunia membencimu ayah akan selalu sayang dan bangga padaku. Ayah tak pernah mengajari aku untuk membalas. 


Disaat aku duduk di bangku SMA aku makin paham dengan pekerjaan ayah. Ayah hanya seorang security. Diajak sebagai security karena ayah dianggap mantan preman. 


Baca Juga : Jatuh Cinta Lagi, Sekelumit Memori Kisah Generasi Delapan Puluhan


Disaat aku dibully aku tak pernah kecewa tapi tekadku terus belajar. Didikan ayah dan ibu yang penuh kasih sayang dan disiplin membuat prestasi belajarku di sekolah terus menanjak. Aku termasuk anak yang cerdas di sekolah kami. Makanya ketika lulus SMA aku mendapatkan beasiswa kedokteran disalah satu universitas negeri.


Ayahku memang hanya lulusan SMP. Dan ibuku seorang wanita berijazah SMA. Namun karena lama merantau di Bali mereka benar-benar sadar dan paham tentang kerasnya hidup. Kata ibu, ayah memutuskan hijrah dari dunia premanisme setelah menikahi ibuku. Mereka berdua akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman setelah mengumpulkan sedikit modal. 


Baca Juga : Cerpen Yongky H. Suaryono : Kamarku Di Lantai Tiga


Di kota itu, mereka membuka usaha namun usaha mereka bangkrut. Ayah akhirnya memilih menjadi security di sebuah bank. Ayah beberapa tahun bekerja serabutan untuk membiayai hidup kami.


Perubahan sikap ayah membuat aku bangga. Dan semua orang pun bangga pada ayah. Beberapa saat lagi aku akan menjadi seorang dokter. Ayahku kini makin tua. Tapi diwajahnya selalu memancarkan semangat juang. Tapi yang lebih penting dari itu ia selalu setia menjaga ibuku dan membawa diriku ke tahap ini. Ayah, kamulah yang terhebat dalam hidupku.


Baca Juga : Kasih Seorang Saudara


Terinspirasi dari sebuah nats bahwa Tuhan tak pernah mengubah nasib manusia jika ia sendiri tak mau mengubah nasibnya.


Unclebonn-24 November 2018


Saturday, November 5, 2022

Jatuh Cinta Lagi, Sekelumit Memori Kisah Generasi Delapan Puluhan

https://www.unclebonn.com/2022/11/jatuh-cinta-lagi-sekelumit-memori-kisah.html

Seseorang lalu datang berkeluh kesah kepada saya tentang memorinya di SMA dulu. Di usianya hari ini ia masih betah hidup sendiri. Bukan karena ia tak memiliki hasrat untuk menikah tapi karena kesetiaan pada seorang wanita yang ia cintai. Padahal perempuan itu sudah menjadi milik orang lain dan sudah memiliki beberapa anak. Dari ceritanya yang panjang lebar itu sepertinya ia kecewa dengan keputusan keluarga mantan pacarnya. 


Di masa SMA dulu ia pernah mengalami kecelakaan dengan pacarnya. Pacarnya hamil. Karena masih di bangku SMA mereka berdua dikeluarkan dari sekolah. Karena sikapnya ia diintimidasi bahkan mendapatkan tindakan kekerasan dari keluarga pacarnya tersebut. 


Baca Juga : Pak Tua Itu


Ia berjanji kepada keluarga pacarnya ia akan bertanggung jawab. Karena melihat sisi ekonomi dari pria muda ini, keluarga pacarnya menolak. Mereka takut anak perempuan mereka menderita bertubi-tubi. Walaupun diperlakukan seperti itu, si pria ini sudah berjanji tetap akan bertanggung jawab atas segala perbuatannya sampai kapanpun. 


Pasca melahirkan, si wanita itu dikirim ke daerah lain untuk menyelesaikan SMA. Dan si laki-laki ini diam-diam juga melanjutkan pendidikannya. Kedua “mantan” ini akhirnya sama-sama menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi. Tapi tidak dipersatukan kedalam biduk rumah tangga. Pacarnya menikah dengan pria lain. 


Baca Juga : Kasih Seorang Saudara


Bagaimana dengan anak mereka? Sejak bayi diasuh oleh ibu kandung perempuan tadi. Anak itu tumbuh sehat menjadi seorang gadis remaja saat ini. Ia mirip ibunya. Kata si laki-laki ini “anak gadisnya” cantik dan baik. Ia kerap menangis di dalam hati kala tak sengaja berjumpa dengan darah dagingnya sendiri. Menurutnya, si gadis remaja itu tak tahu kalau dia adalah ayah biologisnya.


Melihat anak biologisnya tumbuh dewasa hingga saat ini, pria itu merasa seperti jatuh cinta lagi pada mantan pacarnya yang dulu. Kerap laki-laki super setia ini diam-diam ke sekolah anaknya  sekedar melihat keceriaan anaknya dari jauh. Ia tersenyum bahagia walau kebahagiaan itu tak sempurna dan sering menyakitkan.  Ia tidak memarahi mantan pacarnya, apalagi anak biologisnya tapi menyesali keadaan masa lalu yang tak berdaya. Himpitan ekonomi membuat dirinya gagal bertanggung jawab pada seseorang gadis yang ia cintai dan kini darah dagingnya sendiri.


Baca Juga : Misteri Kamar 33 A Hotel Mayestik


Dara jelitanya tak tahu ternyata ada seseorang yang kerap memata-matai dirinya saat ini adalah ayahnya. Ia juga tak tahu orang asing yang memberi senyum tulus saat berpapasan dengan dirinya adalah ayahnya. 


Si pemuda itu saat ini sudah sukses. Kesalahan masa lalunya masih membuatnya merasah dituduh sebagai pria miskin yang tak bertanggung jawab. Pikiran ini kerap menghantui dirinya. 


Baca Juga : Yang Terdalam


Saat ini ia hanya berharap istrinya sudi menjelaskan kepada anak biologisnya kalau dirinya adalah bapak dari anak itu. Ia begitu bahagia melihat anaknya sudah duduk dibangku SMA kini, dan parasnya anak itu secantik ibunya di masa lalu. 


Sampai hari ini dia masih enggan hidup dengan wanita lain. Bukan karena ia masih mencintai mantannya tapi menunggu sikap anak biologisnya. Jika ia sudah memeluk anaknya ia akan mengambil keputusan menikah dengan wanita lain. 


Baca Juga : Rosario Pemberian Bunda Maria


Mendengar kisahnya bekin saya meleleh. Sisi melankolis saya pun muncul. Saya bangga dengan sikap tanggung jawab pria ini. Ia menebus kesalahan masa lalunya dengan tidak menikah selama ia belum menerima pengakuan anak gadisnya yang saat ini sedang tumbuh menjadi perempuan dewasa. 

Sunday, October 30, 2022

Cerpen Yongky H. Suaryono : Kamarku di Lantai Tiga

https://www.unclebonn.com/2022/10/cerpen-yongky-h-suaryono-kamarku-di.html

Kantor ini luas, Lantai III gedung ini luas, bahkan kamar ini juga terlalu luas untuk sekedar menjadi tempat kesendirianku melepas penat. Ahh, tempat tidur-ku juga terasa luas dan lengang. Sepi  bisu  sudah biasa bagiku walau kadang menyiksa.


Aku memang sendiri di kamar ini, bahkan aku juga sendiri di Lantai III ini. Hnya ada dua  Satpam yang piket di Lantai dasar, mereka jarang sekali naik sampai ke Lantai III. Malam itu Pak Lorens dan Pak Gede yang lagi piket. Secara fisik pastilah aku akan aman “dijaga” oleh dua security gempal seperti  mereka berdua.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS Part 1 : Isolasi Mandiri "Minum Air Es Mandi Malam"


Tapi...., tapi siapa yang mengusikku  selarut ini? Tak ada kegaduhan selain bunyi desis AC. Telingaku bahkan seringkali tak  menangkap desisnya. Tapi..., tapi tetap saja aku terusik tanpa tau apa atau siapa yang mengusikku. Jam 02.12 WITA aku belum jua terlelap.


Setumpuk buku di meja, BB di bawah bantal, laptop dan kertas kerja yang masih terserak di tempat tidur, pakaian kotor yang belum sempat di-laundry, koper, camera, lampu senter, sepatu, camilan, air mineral dan semua barangku dalam kamar ini membisu. Mereka tak sedikit pun menimbulkan bebunyian. Tapi...., tapi aneh ada “kegaduhan” yang mengusik-ku.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS Part 2 : Cendol Dawet Corona


Di kamar ini ada kamar mandi yang sejak semula aku tinggal sudah diwanti-wanti tak bisa digunakan dan selalu dikunci. Malam ini coba kutempelkan telinga di pintu-nya, barangkali ada suara-suara asing dari dalam sana. Ahh tidak, tak ada suara apa-apa. Bunyi tetesan air pun tak kudengar dari dalam kamar mandi itu yang katanya sengaja dikunci karena kran dan closed-nya rusak.


Lalu  sebenarnya ”kegaduhan” apa yang mengusikku? Rasa takut? Tidak. Mimpi buruk? Tidak.  Pengaruh kopi jadi susah tidur? Tidak. Kepikiran pekerjaan? Tidak. Kangen anak-istri? Aku memang slalu merindukan mereka, tapi tak pernah jadi alasan untuk tak bisa tidur, apalagi ini hari yang melelahkan. Seharusnya aku bisa tidur pulas malam ini. Sumpah....’kegaduhan” aneh inilah yang membuatku tak bisa tidur.


Kukumpulkan semua keberanian demi menghalau kegaduhan yang mengusik-ku.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS Part 3 : Pica Kepala


Aku punya cara lama yang ampuh untuk mengatasi rasa takut di kala sendiri; kunyalakan semua lampu yang ada di Lantai III. Yah kunyalakn semua lampu, termasuk 6 kamar mandi yang ada. Kecuali satu, kecuali lampu kamar mandi yang ada di kamar-ku, karena memang pintunya selalu terkunci.


Terang, benderang. Tapi tentu saja aku jadi tak bisa tidur. Memang sengaja. Aku sengaja tak jadi tidur demi ‘menangkap kegaduhan’ yang mnegusik-ku.


Tak ada suara-suara, tak ada gelap, tapi mengapa masih saja ada semacam ‘kegaduhan’ yang tak bisa diam.


Dari jendela Lantai III aku melongok ke Jl. HOS Cokro Aminoto, lengang, sepi, semua penjual makanan yang mangkal di depan kantor juga sudah tak terlihat lagi.


Kembali ke kamar, kembali ‘kegaduhan’ mengusik-ku. Aneh,  aneh, ternyata kegaduhan ini bukan mengusik telingaku, tapi malah hidung-ku yang terusik. Ada wewangian yang terasa janggal, ini-kah kegaduhan yang mengusik-ku?


Oke, coba berpikir logis, pasti wewangian ini bersumber dari canang yang ada di Palinggih  di beberapa sudut gedung ini. Wewangian khas Bali yang kadang menimbulkan nuansa magis. Kuhampiri setiap Palinggih, bukan, bukan wangi canang. Wewangian ini aneh sekali. Justru wangi ini amat terasa di kamarku.


Kubongkar semua lemari dan laci-laci yang ada di kamar, barangkali ada parfum atau pengharum pakaian yang ditinggalkan penghuni lama. Sia-sia, aku tak menemukan apa-apa malah wangi aneh ini terasa mengejarku.


Lampu-lampu masih menyala semua, AC masih di 18 derajat Celcius, tapi aku mulai berkeringat. Aku ketakutan? Tidak! Ahh tapi mungkin memang aku mulai dijalari rasa takut oleh wewangian yang mengejarku.


Ada cermin besar di kamar, aku melongok ke sana. Wajahku memang berkeringat dan aneh, aku tak terlalu takut tapi mengapa di cermin nampak sekali wajah-ku yang ketakutan. Barangkali benar, cermin tak pernah berbohong.


Dalam hati kuajak dialog bayangan-ku dicermin. Ini sudah hampir subuh mau tidur juga salah-salah. Dan terasa cukup lama aku terdiam di depan cermin. Keringat semakin bercucuran.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS Part 4 : Sikat Ukur Kuat


Tiba-iba ada yang terasa aneh, di cermin terlihat sekelebat bayangan keluar dari pintu kamar mandi. Kulongok ke arah kamar mandi, kosong tiada apa-apa. Kulongok lagi di cermin, astaga, pintu kamar mandi terbuka perempuan berambut panjang memandikan seorang bocah. Seluruh kamar-ku menebar bau wangi kian menusuk. Keringat kian bercucur. Berulang-ulang ku-arah-kan pandangan ke cermin dan ke arah kamar mandi. Dan kalian juga pasti menduga; aku hanya bisa melihat perempuan dan bocah itu lewat cermin. Takut, marah, jengkel dan tak tahu rasa apa yang ada, kudobrak pintu kamar mandi. Sia-sia, pintu ini terlalu kuat.


Hampir jam 3 dini hari, aku turun ke Lantai dasar.


“Pagi Ndan, belum tidur ni?”, sapa Pak Gede.


“Pagi juga, biasa, masih nunggu yang ngajak Join Call di atas”.


“Ahh, ada-ada saja Komandan ni”.


“Iya serius, lihat tuh di atas lampu nyala semua. Pokoknya kalau sampai tengah malam lampu masih menyala tanda-nya ada yang lagi visite Pak”.


“Serius Ndan?”


“Serius, besok aja aku ceritakan. Ayo ke dapur kita ngopi dulu”, ajak-ku langsung menuju dapur  yang ada di bagian belakang Lantai Dasar.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS Part 5 : "Irsyam Abdul Rasyid Bin Covid"


Entah apa yang diceritakan Pak Gede ke Pak Loren, beliau menyusulku ke dapur. Ada nuansa ketakutan di bola matanya.


“Ndan, ada yang ganggu di atas ya?, tanya Pak Loren setengah berbisik ke padaku.


“Ahh, enggak......, hanya ada yang lagi bermain-main di atas sana. Lihat tuh terang sekali di atas sana, sengaja kunyalakn semua lampu biar “mereka” puas bermain”, jawabku sengaja serius untuk sekedar membuat Pak Loren kian penasaran.


Akhirnya hari itu aku memang tak tidur sama sekali. Pagi-pagi aku sudah mandi, berseragam lalu segera menuju Lantai II, tempatku berkantor.


Baru kusadari, aku tak bercermin pagi ini. Cermin di kamar menjadi benda yang takut kulirik. Kamar mandi di kamarku jadi tempat yang selalu menebar wewangian aneh sekedar kulirik.


Pagi itu kutemui Pak Yadi security senior di kantor-ku, beliaulah yang memilihkan kamar tempatku tinggal selama di Denpasar. Beliau pula yang menerangkan padaku bahwa kamar mandi di kamar tersebut sengaja dikunci karena rusak.


“Pagi Pak Yadi”, sapaku.


“Pagi Pak, tumben pagi-pagi sudah ngantor. Mau keluar kota ya?”, balas pak Yadi.


“Tidak Pak, saya hanya lagi banyak tugas administrasi hari ini. Ohya maaf numpang tanya Pak. Boleh saya minta pinjam kunci kamar mandi yang ada di kamar saya?”


“Buat apa Pak, kamar mandi itu rusak nggak bisa dipakai. Kalau dipakai airnya bocor sampai ke ruang meeting”, jawab Pak Yadi.


“Tapi benar rusak ya Pak?”


“Iya, sampeyan kok nggak percaya. Memang-nya ada apa Pak?”


“Nggak, nggak papa Pak”, jawabku.


Kebetulan hari itu ada meeting dengan Regional Manager. Kuamati atap di ruang meeting, tak terlihat bekas lembab rembesan air dari atas. Aku teringat kejadian semalam, tiba-tiba wewangian aneh itu menghampiri-ku lagi. Kulihat ada tetesan merah dari atas atap di dekat pintu ruang meting. Ahh pasti aku salah lihat, pasti aku sedang melamun.


Baca Juga : Catatan Harian Bung Yongky HS 2017 Part 6: Menulis Dengan Jempol


Setelah kejadian malam itu, aku memang mulai dijalari rasa takut ketika masuk ke kamar. Tapi suer, nanti malam atau besok-besok akan kutunggu di depan cermin siapa-pun yang membuat kegaduhan di kamar-ku di Lantai III. Tak ada yang boleh mengusik-ku selama tugas di Denpaasar, itu tekadku.


Kejadian itu terjadi di minggu pertama aku tinggal di Lantai III, terhitung sejak hari itu, aku masih tinggal sekitar 9 minggu lagi.


Lalu bagaimana dengan bayangan perempuan dan bocah kecil di kamar mandi? Bagaimana dengan cermin di kamar itu? Bagaimana dengan rasa takut-ku? Aneh, aku menemukan banyak suara dari kamar mandi itu. Aku menemukan banyak cerita di cermin itu. Cermin itu jadi teman kesendirian-ku, Aku memukan diri-ku yang bukan diri-ku.


Waingapu, 21 Oktober 2013

(Terkenang Kamar-ku di Lantai III Gedung GG Denpasar)