Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Dia Laki-Laki Ibunya - unclebonn.com

Saturday, October 8, 2022

Dia Laki-Laki Ibunya

https://www.unclebonn.com/2022/10/dia-laki-laki-ibunya.html

Pagi ini saya duduk di pojok gereja. Beberapa menit kemudian seorang pemuda seusia saya bersama ibunya masuk ke dalam gereja. Sikap dan cara ia mendampingi ibunya sungguh menyentuh perasaan saya. Ia memegang tangan ibunya, menuntun ibunya kemudian mencari bangku-bangku kosong karena memang bangku di dalam gereja saat itu nyaris sudah di tempati umat yang lain.


Pemuda itu terlihat begitu peduli dengan ibunya. Ibunya terlihat mulai renta. Ia memandu ibunya duduk pada deretan bangku tepat di depan saya. Saya terus memperhatikan tingkah laku pemuda soleh itu.


Baca Juga : Dyra Juliani


Tak ada gimmick kaku, dia  tampak adanya, apa lagi malu. Ia sangat tulus melakukan tanggung jawabnya itu sebagai seorang anak. Bagi saya dia laki-laki ibunya.


"Dia lelaki untuk ibunya. Keren bro, kamu cukup mulia," begitu komentar saya.


Lalu, bagaimana dengan saya?


Baca Juga : Lorong-Lorong Kenangan, Sekelumit Kisah Pelayaran Ende Waingapu


Saya bukan seorang laki-laki penyayang pada ibu. Mengekspresikan rasa sayang itu dalam bentuk lain.  Bagiku ibu harta tak ternilai selain istri saya. Tapi saya sangat menghormatinya. Juga kepada wanita lainnya. Kepada orang tua lain.


Makanya orang menilai saya keras kepala dan sombong, dan saya mengakuinya. Mungkin karena sejak SD saya sudah mandiri. Hidup miskin, keras, dan penuh perjuangan. Dan jarang saya  berkeluh kesah pada ibu atau apalagi kepada ayah yang mati muda. Hidup saya sepenuhnya di "jalanan" di tangan orang-orang yang baik budi. 


Baca Juga : Pelangi Senja Di Pantai Walakiri


Nah, ketika tumbuh dewasa, ibu mencoba memperlakukan saya seperti anak pada umumnya, saya protes. Disini lah saya dianggap sombong. Dan tidak menghormati ibu saya. Saya pun tidak pernah manja-manjaan pada ibu. Sikap yang sama juga saya perlakukan pada istri. Makanya jarang saya mengumbar kemesraan di depan umum, kebetulan istri juga memiliki karakter mirip saya.


Sebagai lelaki, saya sangat mengagumi "mereka" seperti seorang pemuda seumuran saya tadi yang memperlakukan ibunya bagitu istimewa. Itu kewajiban moral bagi kita semua.


Baca Juga : Belajar Bisa Dari Siapa Saja


Saya meyakini seorang ibu tak pernah mengingkari darah dagingnya. Sampai kapan pun kita dimatanya tetap sebagai anak-nya. Terutama ketika kita tak berdaya dia akan hadir dengan kekuatannya yang terakhir. 


Dan saya merasakannya. Ibu selalu ada di saat orang lain tak ada. Ia selalu menganggap anaknya adalah biji matanya separuh dirinya. Itulah ibumu, ibuku, ibu kita semua. Jadilah laki-laki untuk ibunya.*


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!