Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Cerita Belajar : Lupa Baca dan Tulis Akibat Pandemi Covid-19 yang Berkepanjangan - unclebonn.com

Thursday, January 28, 2021

Cerita Belajar : Lupa Baca dan Tulis Akibat Pandemi Covid-19 yang Berkepanjangan

https://www.unclebonn.com/2021/01/cerita-belajar-lupa-baca-dan-tulis.html

Kemarin siang seorang teman tiba-tiba nyeletuk, "Wah, gara-gara virus corona ponakan saya yang masih duduk di kelas I SD sampai saat ini belum bisa baca tulis yang lain bahkan sudah bisa sekaramg lupa baca lagi," begitu katanya.


Apa yang dikatakan teman di atas kemudian mendapat komentar dari guru lain. Seorang rekan guru yang lain sependapat. Ia juga menyampaikan hal yang sama. Anaknya yang masih duduk di SD mengalami hal serupa. Belum bisa baca dan menulis. Ia bahkan berencana menitipkan anaknya kepada keluarga yang merupakan seorang guru SD.


Baca Juga : Siswa Sering Bosan Belajar Di Kelas? Guru Lakukan Langkah Berikut


Tetangga saya juga punya anak yang masih duduk bangku SD mengeluh dengan persoalan yang sama. Saya pikir problem yang sama juga dirasakan oleh banyak keluarga di Indonesia. Pandemik Covid-19 telah memberi dampak signifikan kepada seluruh tatanan hidup sosial masyarakat termasuk dalam dunia pendidikan. Selain itu pandemik Covid-19 menghadirkan new normal (kebiasaan baru) yang mau tidak mau mesti diterima.


Lantas dimana problemnya?


Sebelum menjawab pertanyaan diatas disini saya bisa katakan bahwa pada akhirnya orang akui bahwa peran guru tidak bisa tergantikan oleh robot canggih sekalipun.  Orang bisa mengambil bagian tugas guru, namun posisi guru sebagai tenaga profesional pendidikn itu sulit untuk digantikan. Pendidikan dan pengalaman serta pendidikan profesi guru yang ia (guru/tenaga pendidik) jalani menjadikan ia sebagai tenaga profesional dibidangnya (UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas).


Problem yang dihadapi anak dan orang tua adalah perubahan lingkungan belajar. Biasanya anak berhadapan dengan lingkungan sekolah dan gurunya akibat pandemi Covid-19 ia harus mengalami suasana belajar baru di rumah.  Padahal yang terlintas selama ini rumah baginya adalah tempat dimana ia tinggal dan berkumpul bersama keluarga namun saat ini ia harus menerima kenyataan bahwa melakukan rutinitas belajar di rumah tanpa bimbingan gurunya. 


Orang tua memang bisa mendampingi anaknya.  Apakah maksimal? Saya pikir tidak akan maksimal. Cara atau metode belajar - pembelajaran yang dipakai berbeda. Anak pun punya perspektif lain kepada ayah atau ibunya yang mendampingi dirinya. Sehebat-hebat orang tuanya si anak bisa jadi lebih percaya kepada gurunya. Dalam konteks belajar.


Walaupun orang tua si anak berprofesi sebagai guru - SMP, SMA/SMK, misalnya, perilaku mendidik anak berbeda. Mengajar anak SD tentu berbeda dengan cara mengajar untuk anak SMP, beda dengan anak SMA dan beda pula dengan anak SMK. Semua memiliki tantangan tersendiri. Punya psikologi belajar tersendiri.  Di sekolah dasar diperlukan manajemen emosi yang baik dan penggunaan model dan metode pembelajaran yang variatif. 


Baca Juga : Peran Orang Tua Dimasa Pandemi Covid-19 By Yosef Mikel Kobesi,S.Pd


Dengan penjelasan singkat ini boleh dikatakan jika orang tua mengeluh dengan perkembangan bahkan tumbuh kembang anaknya itu merupakan suatu hal yang wajar. Apalagi orang tua mendampingi anaknya di rumah itu memanfaatkan sisa waktu yang ada sementara itu guru memang melaksanakan "gawean-nya."


"Habis Energi"


Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sepertinya semakin suram apalagi tanpa dimulai dari sekolah. Home Visit atau istilah yang lebih teknis lagi belajar door to door sudah tahap  mati suri. Ini bukan perkara guru enggan melaksanakan tugasnya. Ini lantaran masa pandemi yang panjang tanpa kepastian. Bekerja tanpa kepastian itu membuat orang jenuh dan berujung "mati suri."


Pandemik virus corona ini unpredictable (tidak bisa ditebak) kapan akan berakhir.  Maka diperlukan formulasi baru  dari pemerintah dan butuh pengawasan dan evaluasi. 


Banyak teman dari sekolah lain yang awalnya melaksanakan kunjungan rumah (home visit) akhir-akhir ini kehabisan energi.  Banyak faktor penyebabnya. Diantaranya masalah dana, tenaga, letak geografis yang susah dijangkau dan terakhir partisipasi siswa rendah selama melaksanakan pembelajaran di rumah (Home Learning). Online Learning? Apalagi. Tidak maksimal. Selain tidak semua siswa memiliki smartphone banyak siswa juga tidak memanfaatkan smartphone untuk mengerjakan tugas. Mereka lebih asyik bermain game dan nonton Youtube yang hura-hura. 


Sekolah Tetap Menjadi Pusat Pembelajaran 


Mantan Mendikbud,  Muhadjir Effendi yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sudah mengeluarkan statement bahwa walaupun melaksanakan  PJJ, sebaiknya guru mesti "stay" atau melakukan aktivitas fungsinya dari sekolah.


Baca Juga : Wonderful Teaching By Yosef Mikel Kobesi,S.Pd


Maksudnya siswa boleh "dirumahkan" namun guru menyiapkan materi pembelajaran dari sekolah. Siswa mengambil tugas dan menyerahkan kembali tugas di sekolah. Maka kebijakan pembelajaran selama BDR (Belajar dari Rumah) dengan sistem silang saya anggap efektif.  Walaupun bukan dalam konteks pembelajaran tatap muka. Selama BDR sistem silang : siswa ke sekolah dipisahkan berdasarkan kelas dan hari. Sistem ini dipakai dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sehingga guru bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan siswa bisa mendapatkan haknya. 


Demikian cerita singkat terkait pandemi Covid-19 dan dampaknya bagi dunia pendidikan kita. Dampak kepada peserta didik dan guru. Dengan masa pandemi yang panjang dan tanpa kepastian maka guru dituntut lebih berpikir ilmiah,  kreatif dan inovatif serta produktif ditengah masalah. Guru mesti berdiri di garda terdepan untuk memajukan pendidikan dan mampu perang dengan kebodohan, kemiskinan dan kemalasan.*


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!