Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Etika Dalam Kepemimpinan - unclebonn.com

Tuesday, January 26, 2021

Etika Dalam Kepemimpinan

https://www.unclebonn.com/2021/01/etika-dalam-kepemimpinan.html

Pembaca setia Unclebonn.com jika Anda menyukai literasi tentang kepemimpinan maka artikel ini bisa menjadi salah satu bacaan yang menarik untuk Anda. Artikel ini diambil dari Buku Kepemimpinan Edukatip yang ditulis oleh Theodore Brameld dan diterbitkan oleh Reconserved Consultant Surabaya pada tahun 1987. Sebuah tulisan lawas namun pemikirannya visioner. Admin sepakat bahwa ketika berbicara etika mungkin sebagian dari kita akan akan langsung berpikir mengenai moral, aturan, dan sebagainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika sendiri didefinisikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).


Dalam artikel ini yang dibahas bagaimana etika begitu penting diperhatikan oleh seorang pemimpin, baik pemimpin sebuah organisasi maupun pemimpin sebuah perusahaan. Untuk lebih jelasnya silahkan Anda baca tuntas.  


Walaupun pemimpin kelompok mempunyai perbedaan kelompok sedikit dengan orang lain di dalam menunjukan etika yang dimilikinya, tetapi tidak diragukan lagi bahwa dia setuju bila kebiasaan bukan sesuatu yang harus dipertahankan. Suatu bentuk tanggungjawab dianggap sama pentingnya seperti di dalam mengadakan interaksi dan pengambilan keputusan dari setiap masalah yang tak dapat ditentukan secara mudah.


Baca Juga : Dalam Konteks Demokrasi : Pemimpin Timbul Karena Lingkungan Tidak Karena Lahir Atau Dilahirkan


Pengambilan keputusan baik atau buruk, salah atau benar, selau tampak pada pemimpin dan tak terlepas dari pengaruh sikapnya terhadap anggota lain dan sebaliknya. Oleh karena itu tidak perlu banyak dikatakan bahwa salah satu bentuk sikap yang sangat menonjol pada dirinya sering dilalaikan, kebijakan yang dimiliki pemimpin seperti ketulusan hatinya mungkin memiliki karakter yang sesuai dengan standar etika dan selalu merupakan filter dalam hubunganya dengan orang-orang sekitarnya.


Setiap peristiwa tentu mendorong kita untuk berpikir hati-hati tentang standar ini yang dianggap sebagai problem kecil yang sangat sulit. Dasar penyelesaian yang sudah dipikirkan oleh para pemikir tentang keadaan di timur dan barat memiliki perbedaan yang dalam.


Suatu tugas dibuat untuk mempermudah dan lebih pasti, bila kita berasumsi seperti kebanyakan dari yang kita lakukan bahwa etika yang kita kehendaki untuk dipraktekan harus sesuai dengan proses atau asas demokrasi dan tujuanya. Saya katakan sedikit lebih mudah karena beberapa dasar tentang interpretasi dari demokrasi adalah sangat sulit. Di sini kita mengartikan sebagai sesuatu yang mudah semestinya.


Kita menyebutnya sebagai suatu “martabat atas personalitynya” atau “kebebasan persamaan dan persaudaraan”, tetapi seringkali kita gagal untuk memaksakan sesuatu yang sesuai sehingga tindakan kita berbeda dengan rencana. Makin sering pemimpin menerapkan demokrasi dalam kegiatanya maka dia akan lebih berorientasi pada standar etika dengan demikian akan terbentuk keharmonisan dalam maksud dan tujuan.


Baca Juga : Kepercayaan (Trust)


Ada 2 pandangan tentang etika kepemimpinan, yaitu : “sikap” dan “perbuatan”. Kedua hal tersebut saling berkaitan satu sama lain.


Etika  Sebagai  Sikap


                Pandangan yang pertama berarti adalah “sikap akan persaman”, dan ketaksamaan dimana pemimpin bersikap bergabung dengan anggota grup yang lain. Sikap seperti nin tidaklah selalu mudah baginya dalam mengidentifikasi karena menurut psikiatri hal-hal mengenai sikap biasanya berakar sesuai dengan latar belakang kehidupan, dan dalam kepribadianya. Walaupun demikian ada yang perlu ditanyakan pada dirinya bagaimana memberi reaksi terhadap koleganya. Misalnya, “apakah saya selalu mempunyai rahasia terhadap sesama anggota?” apabila ya, “bisakah saya menemukan alasanya dalam diri sendiri?”. Selain itu apakah ada faktor X atau latar belakang lain? “dalam hal ini tentu saja kita mempunyai prasangka buruk yang akan atau perlu ditanyakan, ”bagaimana perasaan saya terhadap nyonya Z yang datang dari kalangan rendah dan bagaiman saya harus bersikap? Apakah saya harus bersikap seperti orang dari kalangan rendah?”


Sikap tidaklah selalu menunjukan suatu superioritas terhadap anggota yang lain, Cuma ada kemungkinan bagi pemimpin untuk memberikan perintah yang berlawanan. Jadi dalam hal ini kami tidak bermaksud mengartikan bahwa hal-hal tersebut merupakan satu-satunya kemungkinan bagi pemimpin sikap yang dapat diukur, tetapi tentu saja ada faktor lain yang tak dapat diukur. Kami mengharapkan hanya menitik beratkan pada 2 kesimpulan tentang etika dari sikap-sikap mereka yang ada. Salah satu pertentangan bahwa anda atau kami sebagai pemimpin mungkin mendapatkan kepercayaan yang semu terhadap kesamaan dari anggota-anggota grup dan kita berusaha menaruh perasaan-perasaan tentang beberapa anggota.


Akan tetapi bertentangan denganhal itu maka lebih banyak puji-pujian yang diterima untuk mencapai kesadaran dalam penyesuaian, jadi dalam menghadapi hal seperti ini kita perlu mengganti atu merubah sikap seperti kesadaran terhadap diri sendiri, dan hal ini merupakan standar etika yang menegaskan dasar dari sikap seseorang.


Siapa yang Mirip Pemimpin  dan Untuk Apa ?


Beberapa inti kesimpulan yang lain adalah bagaimana mempertimbangkan kemungkinan pengukuran untuk mencari persamaan secara keseluruhan.


Sebagai contoh, ini mahasiswa kita yang terbaik dalam segi etika, diana mengatakan demikian untuk dibanggakan. Walaupun diantara mereka tak ada kesamaan, tetapi dalam keadaan lain mereka pada  umumnya setuju bahwa persaman sebagai suatu nilai tak berarti merupakan identitas individu. Jadi secara umum orang-orang dilihat dari suatu grup, ras, kebudayaan adalah mempunyai kemiripan dalam aspek-aspek tertentu, oleh karena itu persamaan merupakan bagian yang sangat ideal untuk menunjang beberapa kemiripan diantara mereka, terutama kepuasan dalam bentuk kebutuhan dasar, seperti kebutuhan makan dan kesehatan. Tetapi beberapa hal ditemukan ketidakmiripan dalam nilai estetik dan demokrasi. Oleh karena itu timbul suatu paradoks lain yaitu yang lebih lengkap akan menang, yang lebih kaya mempunyai kesempatan lebih baik.


Gambaran sikap yang baik dari pemimpin terhadap kelompoknya maupun terhadap dia sendiri adalah memaafkan anggotanya. Ini lebih merupakan suatu harapan atau dengan kata lain,tiap anggota kelompok dapat menunjukan perhatian, kemampuanya demi kepentingan kelompoknya. Tetapi sebagai imbalan adalah kesejahteraan kelompok perlu diperhatikan.


Dalam hal ini persamaan sikap tidak merupakan suatu pengaruh yang besar terhadap kepribadian yang mulia. Seperti pada suatu pertemuan baik yang kecil maupun besar, untuk mengetahui gambaran tepe manusia dimana mereka perlu dimotivasi untuk menyukai seseorang. Orang yang disukai dan dipilih tersebut tak selalu lebih baik dari orang yang tak terpilih atau yang tak disukai, karena kadang –kadang orang yang tak terpilih dapat lebih romantis dan berperasaan. Tentu saja makin banyak kita menghilangkan sikap yang bermusuhan yang tak masuk akal dan praduga akan lebih mampulah kita untuk menjadi pemimpin.


Baca Juga : Joe Biden Dan Kekatolikannya


Dalam suatu lingkungan demokratis, kita perlu untuk bersikap mudah menerima kemampuan dari setiap anggota kelompok. Setiap anggota diberi kesempatan untuk menunjukan kemampuanya, apapun yang mereka berikan atau tunjukan bukan berdasarkan upah atau balas jasa yang mereka terima ,akan tetapi lebih bersifat perasaan dalam bentuk penghargaan moril.


Dalam suatu kelompok yang demokratis sejati, tak ada konflik antar pribadi dan sosial, sebab masing-masing saling membutuhkan dan saling mendukung. Di dalam hal ini sebagai pemimpin yang baik adalah seseorang yang dapat melihat baik secara emosional dan intelektual dimana saling membutuhkan adalah merupakan suatu keadaan yang tak pernah berakhir.


Secara perspektif, kami menunjukan problem-problem etis yang timbul pada seorang pemimpin yang memimpin kelompoknya secara aktif. Dimana  sikapnya mempengaruhi  kepemimpinanya, seperti kepemimpinan mempengaruhi sikapnya.


Kami akan melukiskan suatu problema bagaimana aktivitas pemimpin dalam bertugas, dalam hal ini dapat dilihat dari hasil akhir kegiatan kelompok, sampai berapa jauh jangkauanya.


Hal itu merupakan ukuran etika dalam memimpin kelompoknya dan kita dapat mengetahui aktivitas dan perananya.


Ide-Ide Tidak untuk Dirahasiakan Tetapi untuk Diumumkan


Menurut saya bukan satu-satunya perhatian untuk dibantah bahwa seorang pemimpin akan menjadi seorang yang demokratis dengan jalan membela, bahkan dengan sengaja memanipulasi terhadap kelompok, terutama terhadap anggapan yang diyakininya. Manipulasi semacam ini dapat dibayangkan bahwa teknik yang digunakan pemimpin merupakan moral yang tercela, terutama dalam mengobral suara untuk menolak pandangan lawanya atau seakan-akan memberi semangat pada simpatisanya tetapi dalam berbicara  selalu mendahului mereka.


Kita berbicara sebagai seorang pemimpin memegang posisi seperti yang diharapkan sehingga anggota kelompok dapat menyetujui pikiran kita dan menerima pendapat kita. Pada saat yang sama tentunya ingin berlaku proses etika dan demokrasi sesuai dengan fungsinya.


Bagaimana seorang pemimpin menjalankan fungsinya?


Dalam tahap pertama seorang pemimpin seharusnya menyampaikan secara terbuka pada kelompok tentang apa yang dia inginkan, sambil siap membuat lebih jelas terhadap kegiatan yang akan dijalankan, bahwa ide ini merupakan persoalan yang perlu di pertimbangakan, dimodifikasikan atau bahkan ditolak sama sekali.


Apakah pernyataan tersebut dicetuskan pada saat dimulainya suatu pertimbangan atau dalam diskusi kelompok, hal ini tergantung pada sifat kelompok atau tergantung pada persoalan yang dibahas.


Suatu kelompok dimana anggota-anggotanya sudah saling mengenal dan tahu lebih mendalamtentang pemimpin mereka, serta mempunyai tingkat kematangan yang cukup baik, biasanya lebih siap dalam melaksanakan pekerjaan dibandingkan dengan kelompok yang anggotanya satu dengan yang lain tidak saling mengenal.


Pada prinsipnya pemimpin harus selalu terbuka walaupun terdapat bermacam-macam karakter yang ada pada kelompok. Dengan keterbukaan ini anggota akan bersedia mengikuti pemimpin.


Pada tahap kedua, pemimpin yang mempunyai etika memberi kesempatan yang baik kepada anggota untuk mengekspresikan perasaan dan pendapatnya bila terjadi perbedaan denganya. Hal ini berdasarkan atas sikap dari pemimpin yang menghargai nilai akan kesamaan. Pemimpin ini biasanya memberikan dorongan dan menghormati pendapat yang diberikan oleh anggota. Dalam beberapa hal keyakinanya kemungkinan juga salah. Keyakinan disini lain dengan dogma dan prasangka tetapi berdasarkan bukti dan observasi yang telah dilakukan pemimpin.


Tak seorang pun siap untuk menjadi pemimpin yang demokratis bila menganggap pendapatnya tak dapat disalahkan


Pada tahap ketiga, kelompok yang menghadapi persoalan-persoalan perlu memperoleh bukti yang reliable maupun yang tak reliable sehingga pada setiap kesempatan bukti tersebut dapat diexpose. Di sini etka kepemimpinan telah dilaksanakan dengan baik bahwa ide yang ditunjuknya membutuhkan fakta yang luas, bukti dan kekuasaan yang luas. Didalam hubunganya dengan pendidikan, resiko dan indoktrinasi secara sadar atau tidak, para guru akan berkurang bila diadakan usaha pencegahan.


Keputusan yang telah diambil tak akan dapat diramalkan dengan pasti bahwa hal itu dapat diterima secara demokratis,bila anggota tidak sependapat dengan pemimpin dan mungkin sekali anggota berbeda pendapat dengan harapan si pemimpin. Tetapi dalam hal ini anggota selalu berusaha mendekati harapan pemimpinya.


Misal: bagaimanapun juga keinginan pemimpin untuk suatu lembaga kepemudaan juga merupakan keinginan dari kelompok secara keseluruhan. Hal ini tidak berarti bahwa berusaha memanipulasi kelompok terhadap keinginanya, tetapi merupakn hasil persetujuan yang nyata dan asli.


Kebanyakan kekacauan dari kepemimpinan disebabkan kegagalan dalam membedakan diantara 3 peranan yang saling behubungan.


Pertama, persaman didalam bersikap, adalah memberi semangat. suatu dukungan yang bervariasi dari semua peserta adalah nilai yang penting.


Kedua, aktivitas dalam memimpin suatu grup mengenai suatu keputusan atau perjanjian adalah merupakn petunjuk atau perkiraan. Di dalam kasus ini seorang pemimpin diminta tidak hanya untuk memperlihatkan sifat berat sebelah dimana anggota yang lain tak diperhatikan, tetapi untuk menjamin hal itu justru merupakan cara untuk membandingkan beberapa alternatif yang ada.


Ketiga, melaksanakan dengan menambah dimensi baru. Disini dapat disebut sebagai pelaksana. Hal ini merupakan peranan tentang penggunaanya dalam setiap keputusan atau kebijakan yang telah di terapkan oleh kelompok.


Baca Juga : Ibu Yanti Mananga: Tugas Dan Hobi Perlu Ada Keseimbangan


Di dalam hal ini administrator atau insinyiur, keduanya akan melaksanakan peranan-peranan mereka sendiri, sebab mereka adalah anggota yang mempunyai tugas menjabarkan persetujuan yang sifatnya umum menjadi khusus mudah dikerjakan dan pada tempat yang sesuai.


Seorang Pemimpin Berarti Mencakup Banyak Hal


Dalam pelaksanaan kegiatan disamping adanya etika, juga ada pemberian dorongan dan penunjukan terhadap semua orang yang melaksanakan dengan penuh ketelitian. Nilai yang terpenting adalah menuntut tanggungjawab dalam memberikan kepercayaan kepada administrator atau insinyiur dalam melakukan tugas-tugas mereka sesempurna mungkin. Hal ini penting agar bagi mereka yang diberi mandat tidak melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disetujui bersama dan dalam hal ini ada sangsinya.


Sebagai contoh, seorang insinyiur menggambarkan rencana untuk gedung pusat kepemudaan yang sudah sesuai dengan kebijakan kelompok, dia tak akan berani merubah rencana menurut apa yang disukainya. Demikian juga administrator membuat peraturan-peraturan tidak semaunya sendiri, tetapi sudah merupakan persetujuan kelompok.


Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Suster Elisabeth Sutedja Lulusan Terbaik Harvard University Yang Memilih Hidup Membiara


Tentu saja seluruh kegiatan ini tak seharusnya dapat di ikuti oleh seorang pemimpin walaupun waktunya berbeda. Di dalam memainkan ketiga peranan itu diperlukan kelompok yang kreatif,semakin kreatif suatu kelompok semakin lebih besar pula kemungkinan memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk memainkan setiap peranan tersebut. Di dalam hal ini peranan pelaksana mungkin lebih cakap dalam memainkan suatu kebijakan yang sudah disetujui dalam penerapanya dibandingkan dengan mereka yang lain. Jelasnya tidak ada yang tidak etis pada ketiga peranan yang tampak dalam seorang pemimpin, terutama dalam batas-batas atau bakat  yang dimilikinya.


Sekarang masalahnya adalah pada tingkatan dimana dia sebagai seorang pemimpin yang efektif, ia akan berusaha memberi dorongan anggota untuk menampilkan salah satu peranan atau lebih. Kepemimpinan yang dapat mendistribusikan sifat kepemimpinan adalah merupakan gambaran suatu etika yang demokratis dan hal ini merupakan hal yang paling kuat dan paling langgeng kelangsungan kepemipinannya.*

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!