Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Peran Orang Tua Dimasa Pandemi Covid-19 by Yosef Mikel Kobesi,S.Pd - unclebonn.com

Wednesday, October 14, 2020

Peran Orang Tua Dimasa Pandemi Covid-19 by Yosef Mikel Kobesi,S.Pd

https://www.unclebonn.com/2020/10/peran-orang-tua-dimasa-pandemi-covid-19.html
Ilustrasi - Pixabay.com

Satu semester telah berlalu dengan adanya pandemi virus corona atau covid 19 membuat beberapa bidang kehidupan lumpu total. Aktivitas yang sifatnya mengumpulkan banyak orang seketika berhenti total. Salah satunya adalah bidang Pendidikan. Semua Satuan Pendidikan dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi sedikit terganggu dalam aktivitas belajar mengajar. Proses belajar mengajar terpaksa dilakukan Learn From Home.  Peranan orang tua sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar di rumah. Sementara pihak sekolah sebagai tindak lanjut atau perpanjangan tangan dari orang tua siswa  sedikit terbagi soal waktu untuk mendidik, mengajar dan melatih. Walaupun demikian, guru terus melakukan pemantauan belajar melalui aplikasi online bahkan juga home visit.  


Pandangan klasik yang menyatakan bahwa Pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada pihak Sekolah dan  Guru untuk mengajar, mendidik dan melatih  sudah tidak relevan dengan situasi pandemi saat ini. Orang tua siswa yang selama ini kurang terlibat aktif dalam perkembangan Pendidikan anak sangatlah terasa jika mengajar anak itu sulit dan tidak bisa diatur. Mungkin orang tua sekedar menghimbau untuk belajar,  sementara orang tua asik menonton sinetron atau melakukan aktivitas lain. Anak akan belajar dalam kondisi yang tidak menyenangkan, kurang fokus dan tidak mengerti apa yang dibaca.  Anak merasa bosan, tidak penting untuk belajar, tidak menyenangkan. Lalu apakah sebagai orang tua membiarkan anak begitu saja ? Oh tidak, anak yang hebat itu datang dari hebatnya orang tua dalam pendampingan.  


Artikel Terkait : Wonderful Teaching


Bahkan ada orang tua yang menganggap bahwa mengajar anak sendiri tidak akan didengar, sulit diatur kecuali gurunya. Lalu apakah sejak lahir anak belajar berbicara, merangkak, berjalan, memegang sendok untuk makan, sampai pada akhirnya bisa berbicara, berjalan dan makan sendiri itu diajarkan oleh orang lain atau guru? Tentunya pikiran ini sangatlah bertentangan dengan mengajar anak sendiri itu sulit kecuali guru di sekolah. pendidikan pertama dan terutama adalah ayah dan ibu di rumah. 


Paradigma Baru Belajar yang Menyenangkan


Belajar dan mengajar itu membutuhkan kesabaran. Dalam kesabaran akan ditemukan tunas tunas kepintaran anak yang sedang tumbuh.  Kesabaran mendampingi anak dalam belajar adalah modal awal untuk membuat anak belajar dan mengasikan.  Kesabaran mendampingi anak tidak membutuhkan orang tua yang harus berpendidikan atau berijasah. Bisa saja pendampingan awal, orang tua merasa anak sulit diatur, menolak untuk belajar dan tidak semangat dalam belajar. Hal pertama mungkin yang harus diperhatikan adalah pahamilah kemauan anak dalam belajar. Mungkin saja anak melihat pendampingan orang tua yang tidak menarik perhatian. Seperti menyediakan fasilitas belajar, buku, meja, kursi akan membuat anak  belajar itu menyenangkan.  Ada beberapa faktor penyebab anak malas belajar diantaranya Orang Tua, Guru, Lingkungan, Psikologis dan Kesehatan :


1) Orang tua


Peranan orang tua dalam mendampingi anak adalah modal awal untuk membangkitkan semangat anak dalam belajar. Anak akan cenderung belajar dari apa yang dilakukan oleh orang tuannya. Dari sinilah sebagai orang tua tentunya harus mengenal sifat, karakter dan keinginan anak agar dalam pendampingan belajar itu bisa maksimal. Selain itu peranan orang tua untuk menghadirkan fasilitas belajar di rumah juga bagian yang menarik anak untuk belajar itu menyenangkan. Terkadang sebagai orang tua ingin menang sendiri, memaksa anak untuk belajar sesuatu agar kelak bisa menjadi orang yang sukses seperti keinginan orang tua, padahal anak  memiliki cita citanya sendiri. Hal ini dampak dalam kecerdasan diri anak. Peran orang tua hanya mendampingi, mengarahkan dan mensuport agar anak belajar bisa tumbuh dan berkembang. 


Learn From Home membutuhkan pendampingan orang tua di masa pandemi. Tak bisa lagi anak belajar sendiri  harus diawasi, dimotivasi dan dibimbing sesuai tatakrama kehidupan keluarga. Hasil dari belajar itu sendiri adalah perubahan dalam diri anak. Perubahan itu akan nampak dalam keseharian seperti bertutur kata, sopan santun, rajin, patuh pada orang tua dan saling menghargai.  


2) Guru


Daya atraktif belajar anak juga sangat tergantung pada guru di sekolah. Guru sebagai panutan dengan gaya mengajar yang kreatif, inovatif dan menyenangkan akan menjadi idola anak kapan saja dan di mana saja anak akan belajar.  Pepatah tua “guru kencing berdiri maka siswa kencing berlari”. Apa yang dilakukan guru itulah yang akan ditiru anak. Jika guru mengajar dengan kekerasan, sisawapun akan menerapkan kekerasan itu sendiri dalam kehidupannya. Pembelajaran di sekolah yang tidak mengasikan  dan terkesan catat buku sampai abis alias CBSA akan mempengaruhi pola belajar menyenangkan.  Proses pembelajaran satu arah, siswa datang, duduk, dengar, diam dan datfar hadir. Guru asik mengejar materi cepat selesai sesuai program semester yang berjalan. Pembelajaran yang tidak menyenangkan  sangat tidak memotivasi anak untuk belajar yang menyenangkan.  


3) Lingkungan


Tempat bermain dan belajar yang menyenangkan bagi anak-anak adalah lingkungan sekitar. Anak lebih cepat belajar dari apa yang dilihat, dirasakan dan dipraktekan secara langsung. Anak juga lebih asik bermain dengan teman sebaya ketimbang harus belajar sendiri di rumah. Kebiasan anak belajar jika ada teman belajar jauh lebih asik daripada sendirian. Agar belajar itu menyenangkan libatkan teman sebaya dalam belajar bersama, hal ini akan membuat mereka seolah bersaing dalam belajar yang pada akhirnya menjadikan belajar itu menyenangkan. 


4) Psikologis


Kondisi psikologis anak sangat tergantung pada perhatian orang dalam memberi kasih sayang. Terkadang ada anak yang merasa tidak mendapat perhatian yang lebih ketimbang kakak atau adiknya. Anak merasa minder dan tidak semangat dalam belajar karena kasih sayang dari orang tua sering tidak merata. Cenderung lebih besar pada kakak atau adiknya. Anak juga akan terganggu beban psikologis ketika melihat kedua orang tua yang tidak akur dalam rumah tangga. Anak akan merasa kehilangan semangat dan motivasi dalam belajar. Belajar tidak mengasikan. Belajar menjadi beban pikiran anak.


5) Kesehatan


Gangguan kesehatan lainnya seperti perubahan fisik yang menyebabkan anak mengalami sakit panas, demam, sakit gigi, dan keluhan kesehatan lainnya juga turut mempengaruhi belajar anak. Belajar tidak menyenangkan. Peran orang tua selalu memberi semangat dan motivasi yang kuat bahwa sakit itu hanya sementara saja sebentar akan baik. Motivasi yang kuat akan mengembalikan rasa cemas yang berkepanjangan dan berdampak pada menurunnya motivasi belajar.  


Singkatnya peranan orang tua sangat mendominasi dalam perkembangan pendidikan anak di masa pandemi. Sekolah dan guru hanyalah pelengkap untuk mendorong anak-anak melangkah lebih jauh dalam menggapai cita-cita mereka. 


Guru pertama yang memberikan Pendidikan adalah orang tua. Anak tidak akan menjadi anak yang sopan, rajin dan disipilin tanpa kehadiran orang tua dalam mendampingi anak untuk belajar dari rumah. Jangan katakan saya tidak bisa mengajar anak sendiri kecuali gurunya di sekolah, tetapi katakan Saya adalah guru pertama sebelum guru di sekolah. Anak yang hebat adalah cerminan orang tua yang hebat dalam mengasuh, mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Ditulis oleh :
Yosef Mikel Kobesi,S.Pd/Guru dari Kab. Timor Tengah Utara

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!