Sejarah besar sering kali lahir dari goresan pena di atas selembar kertas ribuan kilometer jauhnya. Di Lisabon, pada 20 April 1859, dua kekuatan kolonial besar—Belanda dan Portugis—menandatangani kesepakatan yang selamanya mengubah peta sosiokultural Nusantara Timur. Dokumen itu bernama Traktat Lisabon.
Perjanjian
inilah yang menjadi jawaban mengapa hari ini kita mengenal negara Timor Leste
yang terpisah dari Timor Barat (NTT), serta mengapa denyut nadi Katolik dan
nama-nama seperti Da Costa, De Rosari, atau Gomes begitu
kental di Flores Timur dan Noemuti.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Dari Mau Hau ke Umbu Mehang Kunda: Menelusuri Jejak Sejarah Pintu Langit Matawai Amahu
1. Diplomasi Cendana dan Uang Tebusan 200.000
Gulden
Pada abad
ke-19, wilayah Timor dan Solor menjadi saksi tumpang tindihnya klaim antara
Belanda (VOC yang kemudian diambil alih Pemerintah Hindia Belanda) dan
Portugis. Persaingan ini bukan tanpa alasan; Pulau Timor adalah penghasil kayu
cendana terbaik di dunia.
Namun,
mengelola koloni yang terpencar-pencar sangat tidak efisien bagi kedua negara.
Portugis saat itu sedang mengalami kesulitan keuangan, sementara Belanda ingin
mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah yang lebih padat di barat.
Melalui
Pasal 9 Traktat Lisabon, terjadi sebuah "transaksi" besar: Belanda
membayar 200.000 gulden kepada Portugis. Sebagai imbalannya, Portugis
menyerahkan klaimnya atas Flores, Solor, Adonara, Lembata, Pantar, dan Alor
kepada Belanda.
2. Misteri Larantuka dan Noemuti: "Portugis
Hitam" yang Tertinggal
Pertanyaan
Anda mengenai tradisi Katolik yang kuat di Larantuka (Flores Timur) dan Noemuti
(Timor Tengah Utara) berakar pada keberadaan kaum Topasses atau yang
sering dijuluki "Portugis Hitam" (Larantuqueiros).
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Hera: Ratu Para Dewa dan Pelindung Kesetiaan dalam Mitologi Yunani
Mereka adalah keturunan campuran antara pelaut Portugis dengan penduduk lokal di Solor dan Flores. Meskipun secara resmi wilayah ini diserahkan kepada Belanda pada 1859, akar budayanya sudah tertanam sejak abad ke-16 melalui misi Ordo Dominikan.
- Di Larantuka: Sebelum Traktat Lisabon,
Larantuka adalah pusat pertahanan Portugis. Tradisi Semana Santa
(Pekan Suci) yang megah hingga hari ini adalah warisan langsung dari masa
itu.
- Di Noemuti: Wilayah ini dulunya
merupakan enklave Portugis di tengah wilayah Belanda (mirip Oecusse).
Traktat Lisabon (Pasal 3) awalnya menetapkan Noemuti sebagai bagian
Portugis, namun dalam penyesuaian batas selanjutnya di tahun 1904, Noemuti
akhirnya menjadi bagian dari wilayah Belanda (sekarang Indonesia), namun
masyarakatnya tetap memegang teguh identitas Katolik dan marga-marga
Portugis mereka.
3. Oecusse: Secuil Timor Leste di Jantung Timor
Barat
Mengapa
ada wilayah Timor Leste (Oecusse-Ambeno) yang justru berada di dalam wilayah
Indonesia? Pasal 2 dan 3 Traktat Lisabon adalah penyebabnya. Belanda mengakui Oecusse
sebagai enklave milik Portugis karena wilayah tersebut merupakan tempat pertama
kalinya Portugis mendarat di Timor pada tahun 1515 (di Lifau). Bagi Portugis,
Oecusse memiliki nilai historis dan emosional yang tinggi, sehingga mereka
bersikeras mempertahankannya meski secara geografis terpisah dari wilayah Dili
(Timor Timur).
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Sang Arsitek dalam Senyap: 10 Sisi Tak Lazim L.B. Moerdani yang Menggetarkan Sejarah
4. Ringkasan Pembagian Wilayah Traktat Lisabon 1859
Berikut
adalah struktur pembagian wilayah berdasarkan pasal-pasal dalam traktat
tersebut:
|
Wilayah |
Penguasa Setelah 1859 |
Keterangan |
|
Timor Bagian
Barat |
Belanda |
Kecuali
enklave Oecusse dan Noemuti (saat itu). |
|
Timor Bagian
Timur |
Portugis |
Menjadi cikal
bakal negara Timor Leste. |
|
Oecusse &
Pulo Kambing |
Portugis |
Tetap di
bawah kendali Dili meski terpencil. |
|
Flores,
Solor, Adonara |
Belanda |
Diserahkan
Portugis dengan kompensasi uang. |
|
Lomblen,
Pantar, Ombai |
Belanda |
Portugis
melepaskan klaim sepenuhnya. |
Penutup:
Warisan yang Melampaui Batas Negara
Traktat
Lisabon bukan sekadar pembagian tanah, melainkan pembagian identitas. Pasal 10
dalam perjanjian tersebut secara khusus menjamin kebebasan beragama.
Inilah mengapa ketika Belanda (yang mayoritas Protestan) mengambil alih Flores
dari Portugis (Katolik), mereka tidak menghapus tradisi Katolik di sana.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Poseidon, Kisah Asmara dan Skandal Sang Dewa Penguasa Lautan yang Temperamen
Hari ini,
perbedaan antara Timor Barat dan Timor Leste mungkin terlihat dari paspor yang
berbeda, namun jika Anda berjalan di pasar Atambua atau Dili, dan mendengar
nama marga yang sama serta doa-doa yang serupa di gereja, Anda akan sadar bahwa
sejarah 1859 masih hidup di sana.
Referensi:
- Bataviaasch Handelsblad, Edisi Sabtu, 13 Agustus
1859.
- Hagerdal, Hans. (2012). Lords
of the Terrestrial, Lords of the Sea: A Political History of Timor to 1600.
- Boxer, C.R. (1947). The
Topasses of Timor.



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!