Educational, Informative, and Inspirational Blog Jejak Cendana di Garis Perbatasan: Mengapa Timor Terbelah dan Flores Berwajah Portugis? - unclebonn.com

Sunday, May 3, 2026

Jejak Cendana di Garis Perbatasan: Mengapa Timor Terbelah dan Flores Berwajah Portugis?

https://www.unclebonn.com/2026/05/jejak-cendana-di-garis-perbatasan.html

Sejarah besar sering kali lahir dari goresan pena di atas selembar kertas ribuan kilometer jauhnya. Di Lisabon, pada 20 April 1859, dua kekuatan kolonial besar—Belanda dan Portugis—menandatangani kesepakatan yang selamanya mengubah peta sosiokultural Nusantara Timur. Dokumen itu bernama Traktat Lisabon.


Perjanjian inilah yang menjadi jawaban mengapa hari ini kita mengenal negara Timor Leste yang terpisah dari Timor Barat (NTT), serta mengapa denyut nadi Katolik dan nama-nama seperti Da Costa, De Rosari, atau Gomes begitu kental di Flores Timur dan Noemuti.


Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Dari Mau Hau ke Umbu Mehang Kunda: Menelusuri Jejak Sejarah Pintu Langit Matawai Amahu


1. Diplomasi Cendana dan Uang Tebusan 200.000 Gulden


Pada abad ke-19, wilayah Timor dan Solor menjadi saksi tumpang tindihnya klaim antara Belanda (VOC yang kemudian diambil alih Pemerintah Hindia Belanda) dan Portugis. Persaingan ini bukan tanpa alasan; Pulau Timor adalah penghasil kayu cendana terbaik di dunia.


Namun, mengelola koloni yang terpencar-pencar sangat tidak efisien bagi kedua negara. Portugis saat itu sedang mengalami kesulitan keuangan, sementara Belanda ingin mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah yang lebih padat di barat.


Melalui Pasal 9 Traktat Lisabon, terjadi sebuah "transaksi" besar: Belanda membayar 200.000 gulden kepada Portugis. Sebagai imbalannya, Portugis menyerahkan klaimnya atas Flores, Solor, Adonara, Lembata, Pantar, dan Alor kepada Belanda.


2. Misteri Larantuka dan Noemuti: "Portugis Hitam" yang Tertinggal


Pertanyaan Anda mengenai tradisi Katolik yang kuat di Larantuka (Flores Timur) dan Noemuti (Timor Tengah Utara) berakar pada keberadaan kaum Topasses atau yang sering dijuluki "Portugis Hitam" (Larantuqueiros).


Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Hera: Ratu Para Dewa dan Pelindung Kesetiaan dalam Mitologi Yunani


Mereka adalah keturunan campuran antara pelaut Portugis dengan penduduk lokal di Solor dan Flores. Meskipun secara resmi wilayah ini diserahkan kepada Belanda pada 1859, akar budayanya sudah tertanam sejak abad ke-16 melalui misi Ordo Dominikan.

  • Di Larantuka: Sebelum Traktat Lisabon, Larantuka adalah pusat pertahanan Portugis. Tradisi Semana Santa (Pekan Suci) yang megah hingga hari ini adalah warisan langsung dari masa itu.
  • Di Noemuti: Wilayah ini dulunya merupakan enklave Portugis di tengah wilayah Belanda (mirip Oecusse). Traktat Lisabon (Pasal 3) awalnya menetapkan Noemuti sebagai bagian Portugis, namun dalam penyesuaian batas selanjutnya di tahun 1904, Noemuti akhirnya menjadi bagian dari wilayah Belanda (sekarang Indonesia), namun masyarakatnya tetap memegang teguh identitas Katolik dan marga-marga Portugis mereka.


3. Oecusse: Secuil Timor Leste di Jantung Timor Barat


Mengapa ada wilayah Timor Leste (Oecusse-Ambeno) yang justru berada di dalam wilayah Indonesia? Pasal 2 dan 3 Traktat Lisabon adalah penyebabnya. Belanda mengakui Oecusse sebagai enklave milik Portugis karena wilayah tersebut merupakan tempat pertama kalinya Portugis mendarat di Timor pada tahun 1515 (di Lifau). Bagi Portugis, Oecusse memiliki nilai historis dan emosional yang tinggi, sehingga mereka bersikeras mempertahankannya meski secara geografis terpisah dari wilayah Dili (Timor Timur).


Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Sang Arsitek dalam Senyap: 10 Sisi Tak Lazim L.B. Moerdani yang Menggetarkan Sejarah


4. Ringkasan Pembagian Wilayah Traktat Lisabon 1859


Berikut adalah struktur pembagian wilayah berdasarkan pasal-pasal dalam traktat tersebut:

Wilayah

Penguasa Setelah 1859

Keterangan

Timor Bagian Barat

Belanda

Kecuali enklave Oecusse dan Noemuti (saat itu).

Timor Bagian Timur

Portugis

Menjadi cikal bakal negara Timor Leste.

Oecusse & Pulo Kambing

Portugis

Tetap di bawah kendali Dili meski terpencil.

Flores, Solor, Adonara

Belanda

Diserahkan Portugis dengan kompensasi uang.

Lomblen, Pantar, Ombai

Belanda

Portugis melepaskan klaim sepenuhnya.

Penutup: Warisan yang Melampaui Batas Negara

Traktat Lisabon bukan sekadar pembagian tanah, melainkan pembagian identitas. Pasal 10 dalam perjanjian tersebut secara khusus menjamin kebebasan beragama. Inilah mengapa ketika Belanda (yang mayoritas Protestan) mengambil alih Flores dari Portugis (Katolik), mereka tidak menghapus tradisi Katolik di sana.


Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Poseidon, Kisah Asmara dan Skandal Sang Dewa Penguasa Lautan yang Temperamen


Hari ini, perbedaan antara Timor Barat dan Timor Leste mungkin terlihat dari paspor yang berbeda, namun jika Anda berjalan di pasar Atambua atau Dili, dan mendengar nama marga yang sama serta doa-doa yang serupa di gereja, Anda akan sadar bahwa sejarah 1859 masih hidup di sana.


Referensi:

  • Bataviaasch Handelsblad, Edisi Sabtu, 13 Agustus 1859.
  • Hagerdal, Hans. (2012). Lords of the Terrestrial, Lords of the Sea: A Political History of Timor to 1600.
  • Boxer, C.R. (1947). The Topasses of Timor.

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!