Peta keagamaan di Pulau Timor bukanlah sekadar hasil dari "panggilan iman" yang murni, melainkan produk dari tinta diplomasi dan batas wilayah kekuasaan kolonial. Pembagian Timor antara Belanda (Barat) dan Portugis (Timur) secara otomatis menciptakan demarkasi spiritual: wilayah Portugis tumbuh sebagai kantong Katolik yang kuat, sementara wilayah Belanda menjadi basis misi Protestan.
Di sini,
agama tidak berdiri sendiri di atas mimbar, melainkan dijaga ketat oleh garis
batas dan stabilitas kekuasaan.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Dari Mau Hau ke Umbu Mehang Kunda: Menelusuri Jejak Sejarah Pintu Langit Matawai Amahu
Bukan Toleransi, Tapi Stabilitas
Dalam
praktik pemerintahan kolonial, baik Belanda maupun Portugis menganut semacam
"pakta non-agresi" dalam hal misi agama. Prinsipnya sederhana:
wilayah yang sudah dikatolikkan tidak perlu diganggu oleh zending Protestan,
dan sebaliknya.
Langkah
ini diambil bukan karena kedua penguasa tersebut menjunjung tinggi toleransi
beragama seperti yang kita pahami hari ini. Saat itu, stabilitas politik jauh
lebih berharga daripada jumlah jemaat. Berebut umat hanya akan memicu gesekan
sosial yang merugikan arus logistik dan administrasi kolonial. Agama, dalam hal
ini, dijinakkan untuk menjadi instrumen kontrol sosial.
Paradoks Timor Barat: Dukungan Belanda untuk SVD
Menariknya,
situasi di Timor Barat tidak sehitam-putih "Protestan melawan
Katolik." Meskipun berada di bawah kendali Belanda yang identik dengan
Protestan, pemerintah kolonial tetap memberikan ruang bagi misi Katolik.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Hera: Ratu Para Dewa dan Pelindung Kesetiaan dalam Mitologi Yunani
Hal ini
terlihat jelas dari dukungan terhadap Societas Verbi Divini (SVD),
sebuah kongregasi yang lahir di Steyl, sebuah desa kecil yang secara geografis
berada di perbatasan Jerman-Belanda. Para misionaris SVD dikirim ke Flores dan
sebagian Timor untuk melayani komunitas Katolik yang sudah ada. Namun, ada satu
syarat mutlak: semua pergerakan mereka harus tetap berada di bawah radar dan
pengawasan ketat birokrasi Belanda.
Strategi "Penempatan Silang": Pejabat vs
Mayoritas
Salah
satu fragmen sejarah yang paling menarik terungkap dalam wawancara saya dengan
antropolog ternama, Prof. Nico Schulte Nordholt, di Leiden pada tahun
2019. Ia memaparkan sebuah strategi unik yang digunakan pemerintah kolonial
untuk menjaga jarak kekuasaan: menempatkan pejabat yang beragama berbeda dengan
mayoritas penduduk setempat.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Sang Arsitek dalam Senyap: 10 Sisi Tak Lazim L.B. Moerdani yang Menggetarkan Sejarah
Strategi
ini bertujuan untuk mencegah "konflik kepentingan" dan memastikan
bahwa pejabat tersebut tidak menjadi terlalu bias atau terlibat dalam politik
praktis gereja lokal. Contoh nyata dari kebijakan ini adalah ayah Prof. Nico
sendiri, Herman Gerrit Schulte Nordholt. Sebagai seorang penganut
Protestan yang taat, ia justru ditempatkan sebagai Kontrolir di Kefamenanu,
wilayah yang memiliki basis Katolik kuat.
Di
sinilah Prof. Nico tumbuh besar sebagai "ana-ana Benpasi,"
menyaksikan langsung bagaimana ayahnya menavigasi kekuasaan di tengah
masyarakat yang berbeda keyakinan, yang kemudian ia tuangkan dalam karya
monumentalnya tentang sistem perpolitikan Atoni Meto.
Birokrasi Iman: Izin Sebelum Berkhotbah
Setiap
jengkal pergerakan misi, baik Katolik maupun Protestan, terikat pada jalur
pelayaran dan keputusan administratif. Tidak ada pastor atau penginjil yang
bisa langsung terjun ke lapangan begitu turun dari kapal. Mereka wajib
mengantongi surat izin resmi dari pemerintah Belanda.
Baca Juga Artikel Sejarah Lainnya : Jejak Cendana di Garis Perbatasan: Mengapa Timor Terbelah dan Flores Berwajah Portugis?
Sebagai
bukti betapa ketatnya administrasi ini, sebuah arsip koran tahun 1937 mencatat
pengumuman penempatan para imam SVD. Pengumuman tersebut menegaskan bahwa
Residen Timor secara resmi meminta pengakuan bagi para rohaniwan ini dalam
menjalankan tugas mereka:
"Residen
Timor en Onderhoorigheden diminta untuk mengakui para imam berikut dalam
pelaksanaan tugas gerejawi mereka..."
Daftar
tersebut mencakup nama-nama seperti H. Schroeder (pindah ke Rianwoloe), C.
P. Martens (ke Hallilulik), hingga W. van Bekkum yang nantinya
menjadi tokoh besar di Ruteng. Mereka bukan sekadar utusan gereja, melainkan
individu-individu yang operasionalnya "disahkan" oleh negara.
Kesimpulan
Sejarah
ini mengingatkan kita bahwa narasi konflik agama yang terkadang dihembuskan di
Timor seringkali melupakan akar sejarahnya. Ketegangan yang mungkin muncul saat
ini bukanlah warisan alami, melainkan sering kali merupakan sisa-sisa dari cara
penguasa masa lalu mengatur batas-batas identitas demi kepentingan politik. Di
Timor, sejarah agama adalah sejarah tentang bagaimana manusia mencari Tuhan di
tengah labirin birokrasi kolonial.



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!