Prof. Dr. Drs. Cornelis Lay, M.A. (6 September 1959 – 5 Agustus 2020) adalah seorang akademisi, ilmuwan politik, dan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal luas sebagai pakar politik Indonesia yang memiliki kedekatan intelektual dengan pemikiran Sukarno serta menjadi penasihat politik kepercayaan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Cornelis
Lay lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 6 September 1959. Ia menamatkan
pendidikan menengahnya di SMA Negeri 1 Kupang (dahulu SMA Negeri 173 Kupang)
pada tahun 1979.
Profil : Profil Emanuel Melkiades Laka Lena
Ia
melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar
Bachelor of Arts (B.A.) dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM pada tahun
1984. Gelar Doktorandus (Drs.) ia raih di jurusan yang sama pada tahun 1987.
Pendidikan pascasarjana ia tempuh di St. Mary's University, Halifax, Kanada, di
mana ia memperoleh gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang International
Development Studies pada tahun 1992.
Karier Akademis
Cornelis
memulai karier sebagai staf pengajar di almamaternya, Fisipol UGM, sekaligus
menjadi peneliti di Pusat Antar Universitas (PAU) Studi Sosial. Dalam
lingkungan akademik, ia pernah menduduki berbagai jabatan strategis, antara
lain:
- Kepala Unit Penelitian
Fisipol UGM.
- Pembantu Dekan III Bidang
Penelitian dan Kerja Sama (2008–2010).
- Peneliti di Pusat Studi Asia
Pasifik (PSAP) UGM (sejak 2009).
- Kepala Research Center for
Politics and Government (PolGov) (sejak 2016).
Sebagai
akademisi internasional, ia tercatat pernah menjadi peneliti tamu di berbagai
universitas ternama dunia, seperti Flinders University (Australia), Agder
College University (Norwegia), Massachusetts University (Amerika Serikat), dan
KITLV (Belanda).
Pengukuhan Guru Besar
Pada 6
Februari 2019, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Fisipol UGM. Dalam upacara
pengukuhan di Balai Senat UGM, ia menyampaikan orasi ilmiah monumental berjudul
"Jalan Ketiga Peran Intelektual: Konvergensi Kekuasaan dan
Kemanusiaan". Pidato tersebut merefleksikan pergulatan batin seorang
intelektual yang terlibat dalam lingkar kekuasaan namun tetap berusaha menjaga
integritas kemanusiaan.
Kiprah Politik dan Intelektual
Cornelis
dikenal sebagai sosok "jembatan" antara dunia akademik dan realitas
politik praktis. Kedekatannya dengan ideologi Marhaenisme membawanya aktif
dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) semasa mahasiswa dan kemudian
menjadi tim ahli Persatuan Alumni (PA) GMNI.
Baca Juga : Profil Andreas Anangguru Yewangoe
Peran di Pemerintahan
- Kantor Wakil Presiden: Saat Megawati Soekarnoputri
menjabat sebagai Wakil Presiden RI (2000–2004), Cornelis ditunjuk sebagai
Kepala Biro Politik dan Pemerintahan Dalam Negeri.
- Tim Pemenangan Jokowi-JK: Pada Pilpres 2014, ia
dipercaya menjadi Ketua Tim Ahli dan Pakar Politik Tim Pemenangan Joko
Widodo-Jusuf Kalla.
- Penulis Pidato Kepresidenan: Ia merupakan sosok di balik
teks pidato pelantikan Presiden Joko Widodo pada 20 Oktober 2014.
Ia sering
disebut sebagai "Think Tank" PDI Perjuangan dan orang kepercayaan
Megawati Soekarnoputri yang berperan penting di balik layar dalam merumuskan
strategi politik nasional.
Publikasi Terpilih
Cornelis
Lay produktif dalam menulis buku dan jurnal ilmiah. Beberapa karyanya yang
signifikan antara lain:
- From Populism to Democratic
Polity, Problems and Challenges in Solo, Indonesia (2013) – ditulis bersama
Prof. Pratikno.
- The Politics of Welfare:
Contested Welfare Regimes in Indonesia (2018) – sebagai editor bersama Wawan
Mas'udi.
- Hometown Volunteers: A Case
Study of Volunteers Organizations in Surakarta Supporting Joko Widodo's
Presidential Campaign (2018) – dimuat dalam Copenhagen Journal of
Asian Studies.
Kehidupan Pribadi dan Wafat
Cornelis
menikah dengan Jeanne Cynthia Lay Lokollo dan dikaruniai dua orang anak, Dhiera
Anarchy Rihi Lay dan Dhivana Anarsya Ria Lay.
Baca Juga : Hercules vs John Kei: Dua "Penguasa Jalanan" Jakarta dan Jejak Kekuasaan Dunia Bawah Tanah
Ia
meninggal dunia pada Rabu, 5 Agustus 2020, pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Panti
Rapih, Yogyakarta, pada usia 60 tahun. Kepergiannya dianggap sebagai kehilangan
besar bagi dunia ilmu politik Indonesia, di mana ia dikenang sebagai
intelektual yang mampu memadukan teori politik dengan etika kekuasaan.



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!