Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Rendahnya Minat Siswa untuk Belajar Matematika - unclebonn.com

Tuesday, December 29, 2020

Rendahnya Minat Siswa untuk Belajar Matematika

https://www.unclebonn.com/2020/12/rendahnya-minat-siswa-untuk-belajar.html

Rendahnya daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika bukan lagi menjadi rahasia umum. Hal ini terkait dengan tingkat kompleksitasnya. Orang menganggap matematika sebagai momok, pelajaran yang sukar dan menjenuhkan. Apalagi ditambah guru yang mengajarnya killer. Dan tak pelak lagi ruang kelas menjadi tidak kondusif. Suasana yang demikian, tentu menciptakan stereotip yang sulit bagi siswa itu sendiri.

Ternyata, untuk sebagian orang matematika itu menyenangkan.  Bahkan hal ini telah terbukti dengan banyaknya anak Indonesia yang berhasil meraih juara di luar negeri dalam berbagai ajang olimpiade  sains.  Ini membuktikan sekaligus membantah bahwa matematika itu tidak sesulit seperti apa yang dibayangkan, melainkan salah satu mata pelajaran yang menarik dan menyenangkan. 


Baca Juga : Apa Itu Nasionalisme?


Tidak benar seratus persen seperti opini publik yang sudah  melekat di masyarakat. Dengan cerita atau pernyataan seperti itu, akibatnya, siswa harus memilih mata pelajaran lain walau sebenarnya ia tertarik dengan mata pelajaran matematika.


Hal ini muncul ketika masyarakat (orang tua) memberi informasi yang kabur dan mereka pun kurang memahami esensi pembelajaran matematika.  Sehingga anak pun terpengaruh dengan cerita atau statement dari masyarakat tadi.  Selain itu kurang kreatifnya guru dalam menciptakan iklim persuasi.  Minimmnya metode pembelajaran yang menyenangkan, tiadanya suasana demokratis di dalam kelas menambah masalah menjadi lebih serius. Dengan demikian aktive learning yang diharapkan tidak bisa tercipta dengan sepenuhnya di dalam ruang kelas.


Dalam artikel singkat ini barangkali disodorkan sebuah tawaran mengenai solusi pembelajaran matematika. Sebuah gagasan pembelajaran dari prespektif konstruktivisme. Karena pembelajaran dengan prespektif konstruktivisme sangat mempengaruhi pendidikan sains dan matematik di Negara Amerika Serikat, Eropa, Australia dan beberapa Negara lain di Asia (Suparno,2005).


Filsafat konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (von Glassersfeld dalam Bettencourt, 1989).  Dijelaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dan kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dan dunia kenyataan yang ada tetapi selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.


Baca Juga : Tiga Hal Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Kepala Sekolah


Menurut para konstruktivis, satu-satunya alat yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya.  Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, membau, dan merasakan.  Dari sentuhan dengan inderanya itu, seseorang membangun gambaran akan dunia ini. Misalnya dengan mengamati pasir, bermain dengan pasir, meremas pasir, menimbang pasir, dst., seseorang membangun gambaran akan pasir dan membentuk pengetahuan akan pasir.


Pengalaman kita yang terbatas akan sangat membatasi perkembangan pembentukan pengetahun kita pula.  Menurut konstruktivisme, pengalaman akan fenomena yang baru akan menjadi unsur yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan anak didik; dan kekurangan dalam hal ini akan membatasi pengetahuan kita pula.  Dalam bidang ilmu matematika pengalaman mengkonsepsi maupun memecahkan persoalan-persoalan baru akan sangat mempengaruhi perkembangan pengetahuan seseorang akan matematika.


Oleh karena itu, dengan melihat uraian di atas diperlukan sebuah penelaahan yang mendalam.  Agar problematika yang dihadapi oleh anak didik dapat segera ditempuh melalui problem solving yang efektif dan efisien.


Mengapa Siswa Kurang Berminat?


Membentuk daya tarik terhadap mata pelajaran matematika perlu dibangun sejak dini.  Hal ini diawali saat siswa tersebut menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD).  Kita pun perlu menyadari bahwa peserta didik dijenjang pendidikan dasar masih terbawa oleh suasana lingkungan dari taman kanak-kanak (TK).  Hal ini terkait dengan tingkat perkembangan dari peserta didik.  Pada titik ini kita perlu memahami dan mempelajarinya mengenai perkembangan itu sendiri.


Menurut Irwanto, et al (1998), perkembangan memiliki makna perubahan-perubahan psikologis yang dialami individu dalam proses menjadi dewasa.  Perubahan-perubahan ini mengarah pada diferensiasi, intensifikasi, ekstensifikasi aspek kepribadian sekaligus menjadi terorganisasi menjadi suatu totalitas.


Yang jelas dalam tataran ini guru perlu menciptakan kondisi yang menunjang kegiatan pembelajaran di kelas.  Oleh karena itu, guru perlu menciptakan kondisi sosio-emosional. Karena kondisi ini akan memberi dampak yang besar terhadap proses belajar mengajar  dan sekaligus mempertimbangkan tingkat kegairahan siswa. Maksudnya sejauh mana keefektifan ketercapaian pembelajaran demi mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.


Baca Juga : Bersahabatlah Dengan Buku


Secara faktual maupun empiris siswa di jenjang pendidikan dasar kurang memperhatikan penjelasan guru. Siswa membagikan perhatiannya menjadi dua, sebagian untuk mendengar penjelasan sebagiannya lagi untuk bermain. Guru sering menegur siswa supaya memperhatikannya.  Tetapi bila guru mengajukan pertanyaan, siswa sering tidak menjawabnya dengan benar, bahkan tidak menjawabnya sama sekali.  


Kalau pertanyaan guru yang sifatnya melengkapi atau bersifat gampang mereka akan menjawabnya sama-sama atau beramai-ramai.  Masalah lain adalah jarangnya siswa untuk bertanya kepada guru.  Meski demikian, guru jarang mendorong mereka agar berani bertanya atau berani berbicara untuk mengutarakan idenya terkait soal-soal yang disuguhkan oleh guru.

Dalam proses pembelajaran guru cenderung untuk menjelaskan atau memberitahukan segala sesuatu kepada siswa.  Guru kurang memberi tugas yang bersifat pemecahan masalah baik secara klasikal maupun secara individu. Strategi pembelajaran yang digunakan guru belum mampu mendorong siswa untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan mereka.

Dari hal di atas implikasinya jelas menyebabkan rasa bosan, pasif bahkan mempertebal rasa takut mereka.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru pada siswa seringkali mengharapkan jawaban “betul” atau “salah”, bukan mengharapkan proses.  Pembelajaran yang kurang bermakna untuk siswa, tetapi cenderung menggiring mereka untuk menghafalkan fakta, rumus atau  aturan matematika.

Guru jarang menggunakan modus representasi enaktif dalam proses pembelajaran.  Alat peraga jarang digunakan, bahkan tak jarang guru berasumsi bahwa pengajaran matematika itu bersifat abstrak.  Akibatnya, siswa sejak awal dibiasakan berpikir secara abstrak.  Itu semua karena guru kuatir tidak mencapai target kurikulum.

Hal lain yang dipandang cukup mempengaruhi minat siswa adalah siswa takut terhadap mata pelajaran matematika karena mereka kuatir kalau menjawabnya salah akan dimarahi guru. Kemudian kebiasaan guru yang lebih lama berceramah di depan kelas.  Komunikasi yang minim antara siswa dan guru karena guru lebih cenderung memberi perintah dan teguran.  Guru jarang menyelesaikan masalah yaitu menanyakan kesulitan yang dialami oleh siswa.

Masalah makin bertambah ketika guru tidak menggunakan metode yang bervariasi.  Dalam menerapkan strategi pembelajaran guru setidaknya memperhatikan kebiasaan siswa sesuai dengan tempat dimana ia dibesarkan. Misalnya, dalam situasi tertentu anak lebih cenderung berpikir menggunakan perasaaannya ketimbang nalarnya.  Dalam hal ini boleh dikatakan, guru kurang memahami perannya untuk membantu siswa dalam memahami konsep dan aturan matematika-strategi pembelajaran.

 

Kalau dapat digeneralisasikan bahwa berbagai hal di atas merupakan penyebab dari berbagai masalah ketidaktertarikan siswa dalam mempelajarai matematika.  Kalau terus dibiarkan jangan heran suatu saat nanti kita akan mengalami deficit lulusan sarjana matematika.


Membawa Konstruktivisme dalam Proses Belajar

Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.  Siswa mencari arti sendiri hal-hal yang mereka pelajari.  Ini adalah suatu proses menyesuaikan konsep dan ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka.  Menjadi sebuah catatan penting bahwa seharusnyalah siswa sendiri dapat bertanggungjawab terhadap hasil belajarnya.  

Memang dalam pernyataan di atas cukup sulit untuk siswa di level SD.  Dijenjang pendidikan dasar, tingkat konsentrasi mempengaruhi pengalaman siswa di dalam kelas.  Dengan kata lain perhatian terhadap pelajaran mempengaruhi pengalaman belajar siswa.  Informasi yang diberi perhatian yang lebih besar oleh siswa akan terekam oleh memori (Anderson, 1980).

Beberapa hasil penelitian juga menunjukan bahwa kemampuan mereprensetasikan suatu masalah dalam suatu modus representasi (enaktif, ikonik, simbolik) dapat membantu seseorang untuk menemukan suatu penyelesaian masalah.   Mereka yang dapat merepresentasikan suatu masalah dengan baik dan betul akan dapat menyelesaikan masalah dengan betul dan cepat, sedangkan yang merepresentasikan secara keliru hasilnya akan keliru pula.

Pengetahuan dan pengertian adalah dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dengan percobaan-percobaan dan pengalaman.  Belajar juga merupakan proses yang menjadikan seseorang dimasukan kedalam suatu kultur anggota-anggota yang terdidik.  Dalam hal ini, siswa tidak hanya perlu akses ke pengalaman fisik, tetapi juga pada konsep-konsep dan model-model dari ilmu pengetahuan konvensional.


Baca Juga : Peran Orang Tua Dimasa Pandemi Covid-19 By Yosef Mikel Kobesi,S.Pd

Bagi kaum konstruktivisme mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.  Jadi mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.


Meningkatkan Minat Belajar Matematika

Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik dalam meningkatkan minat siswa terhadap matematika dengan melakukan berbagai inovasi pembelajaran. Misalnya, mengajak siswa maju ke depan kelas untuk membuat soal-soal cerita yang sederhana.  Membantu siswa mengutarakan idenya.  Memberi selingan berupa cerita-cerita atau nasehat-nasehat yang dapat membangkitkan motivasi, semangat dan kemauan siswa belajar.

Guru diharapkan jangan pelit dalam memberikan pujian kepada siswa yang berani memberi penjelasan dengan benar.  Guru harus mampu menciptakan suasana yang mendorong siswa berpikir kritis dan berani mengutarakannya.  Misalnya guru sengaja melakukan kesalahan dan menerima kritikan siswa dengan senang hati dan memuji siswa yang bersangkutan

Dengan begitu dapat mengurangi atau bahkan dapat menghilangkan rasa takut siswa terhadap mata pelajaran matematika, khususnya rasa takut siswa untuk bertanya. Dampaknya besar, sikap kritis dan motivasi siswa dapat ditingkatkan.  Kemauan belajar dan pemahaman mereka terhadap konsep dan aturan matematika meningkat secara berarti.   


Dengan begitu dapat diyakini dengan berbagai strategi pembelajaran yang menyenangkan itu dapat meningkatkan minat siswa untuk mempelajari matematika secara utuh.  Asalkan guru senantiasa mempebaharui strategi pembelajarannya setiap waktu.*








No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!