Educational, Informative, and Inspirational Blog Profil Andreas Anangguru Yewangoe - unclebonn.com

Sunday, April 26, 2026

Profil Andreas Anangguru Yewangoe

https://www.unclebonn.com/2026/04/profil-andreas-anangguru-yewangoe.html
Pdt. Dr. Andreas Anangguru Yewangoe (lahir 31 Maret 1945) adalah seorang pendeta, teolog, dan pemikir Kristen terkemuka asal Indonesia. Beliau dikenal luas sebagai Ketua Umum Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) periode 2004–2009 dan 2009–2014. Selain aktif dalam organisasi ekumenis, Yewangoe merupakan seorang akademisi yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).


Kehidupan Awal dan Pendidikan


Andreas Anangguru Yewangoe lahir di Sumba, Nusa Tenggara Timur, dari pasangan Lakimbaba dan Kuba Yowi. Berdasarkan tradisi setempat, sejak usia tujuh bulan ia diasuh oleh orang tua angkatnya, Pdt. S.M. Yewangoe dan Leda Kaka. Kehidupan masa kecilnya dihabiskan dalam kesederhanaan sebagai anak petani sekaligus anak pendeta desa, yang kemudian menumbuhkan cita-citanya untuk melayani di bidang teologi.


Baca Juga : Profil Emanuel Melkiades Laka Lena


Riwayat Pendidikan

  • Sekolah Rakyat Masehi, Mamboru (1951–1957): Pendidikan dasar.
  • Sekolah Menengah Kristen, Waikabubak (1957–1963): Pendidikan menengah.
  • Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta (1963–1969): Meraih gelar sarjana teologi. Selama di Jakarta, ia aktif dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
  • Universitas Vrije, Amsterdam, Belanda (1979): Meraih gelar Doktorandus Teologi.
  • Universitas Vrije, Amsterdam, Belanda (1987): Meraih gelar Doktor Teologi dengan disertasi fenomenal berjudul "Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia".


Karier Akademik dan Gerejawi


Yewangoe memulai pelayanannya sebagai pendeta di Gereja Kristen Sumba (GKS) pada tahun 1969. Karier akademisnya dimulai ketika ia menjadi dosen Teologi Sistematika di Akademi Theologia Kupang (sekarang UKAW) pada 1971.


Baca Juga : Sang Pamong dari Batutua: Jejak Pengabdian Daniel Adoe untuk Kota Kasih


Pada usia yang relatif muda (27 tahun), ia terpilih menjadi Rektor Akademi Theologia Kupang (1972–1976). Sekembalinya dari studi doktoral, ia kembali dipercaya memimpin institusi tersebut yang telah berkembang menjadi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) selama dua periode (1990–1998).


Di tingkat nasional, Yewangoe menjadi sosok sentral dalam gerakan ekumenis di Indonesia:

  • Ketua PGI (2000–2004)
  • Ketua Umum PGI (2004–2014) selama dua masa jabatan.
  • Dosen Teologi Sistematika di STT Jakarta sejak tahun 2001.


Pemikiran: Theologia Crucis di Asia


Kontribusi pemikiran terbesar Yewangoe terletak pada upayanya mengontekstualisasikan teologi Kristen dalam realitas Asia, khususnya Indonesia. Dalam disertasinya, ia mengembangkan konsep Teologi Salib (Theologia Crucis). Ia berargumen bahwa di tengah kemiskinan yang luar biasa dan kemajemukan agama di Asia, penderitaan Kristus di salib memberikan makna bagi penderitaan rakyat. Baginya, gereja harus hadir dan menderita bersama rakyat (solidaritas), bukan menjadi institusi yang eksklusif.


Baca Juga : Hercules vs John Kei: Dua "Penguasa Jalanan" Jakarta dan Jejak Kekuasaan Dunia Bawah Tanah


Ia juga dikenal sebagai pembela Pancasila yang gigih. Menurutnya, Pancasila adalah "rumah bersama" yang memungkinkan kerukunan antarumat beragama di Indonesia tetap terjaga.


Organisasi dan Jabatan Lain


Sepanjang kariernya, Yewangoe menduduki berbagai posisi strategis, di antaranya:

  • Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) (2018–sekarang).
  • Penasihat Reformed Ecumenical Council (1992–1996).
  • Pengurus International Reformed Theological Institutions (IRTI), Leiden.
  • Moderator kelompok Keesaan, Teologi, dan Misi dari Dewan Gereja-gereja Asia (CCA).
  • Anggota Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).


Karya Tulis Pilihan


Yewangoe merupakan penulis produktif yang rutin mengisi kolom di berbagai media massa, termasuk Suara Pembaruan. Beberapa karya tulisnya meliputi:

  • Theologia Crucis di Asia: Pandangan Kristen Asia tentang Penderitaan (1987)
  • Pendamaian (1983)
  • Pengantar Sejarah Dogma Kristen (2001)
  • Agama dan Kerukunan (2002)
  • Iman, Agama, dan Masyarakat dalam Negara Pancasila (2002)
  • Lea (2002)
  • Tidak Ada Negara Agama (2009)


Kehidupan Pribadi


Andreas Anangguru Yewangoe menikah dengan Petronella Lejloh. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak: Yudhistira Gresko Umbu Turu Bunosoru (lahir 1972) dan Anna Theodore Yewangoe (lahir 1980).


Baca Juga : Honey Liwe dalam Menjaga Api Mimpi Anak NTT di Tengah Keterbatasan

 

Referensi:

  • Profil Tokoh Kristen Indonesia, BPK Gunung Mulia.
  • Arsip Kepengurusan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
  • Yewangoe, A.A. (1987). Theologia Crucis in Asia. Amsterdam: Vrije Universiteit.

 

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!