Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Absolusi dan Penitensi Dalam Ajaran Katolik - unclebonn.com

Monday, January 17, 2022

Absolusi dan Penitensi Dalam Ajaran Katolik

https://www.unclebonn.com/2022/01/absolusi-dan-penitensi-dalam-ajaran.html

Dalam Sakramen Tobat kan ada istilah Absolusi dan Penitensi. Terkadang kita masih bingung dengan kedua istilah ini. Begini penjelasan singkatnya.


Pertama-tama perlu kita ingat bahwa ada empat bagian pokok dari Sakramen Tobat, yaitu: Tobat, Pengakuan dosa, Absolusi dan Penitensi. Nah, Absolusi berasal dari kata Latin absolvo yang berarti mengampuni, maka absolusi berarti pengampunan. Dalam perayaan Sakramen Tobat, rahmat pengampunan (absolusi) dari Allah diberikan kepada seorang peniten oleh imam sebagai tanda kesediaan Allah untuk menyatukan kembali si peniten dengan diri-Nya dan dengan Gereja. 


Baca Juga : Bagaimana Kita Menyikapi Pengalaman Orang Yang Mati Suri?


Lantas apakah disini Imam bertindak sebagai in persona Christi itu?


Benar sekali. Dalam Sakramen Tobat, imam bertindak atas nama Kristus (in persona Christi) dan atas nama Gereja (in persona Ecclesiae). Karena itulah, absolusi disajikan dalam bentuk kalimat pernyataan (“Aku membebaskan dari dosa-dosamu…..“), artinya bahwa imam bertindak secara nyata dan pasti memberikan pengampunan (bukan hanya memohon: “Semoga…..”). 


Kira-kira kuasa untuk mengampuni yang dimiliki oleh seorang imam itu didapat dari mana?


Baca Juga : Kenapa Ada Doa Untuk Arwah?


Kuasa untuk mengampuni yang dimiliki oleh seorang imam itu bersumber pada kuasa suci para Rasul, yang diturunkan kepada para imam melalui Sakramen Tahbisan. Kuasa suci itu saja tidaklah cukup untuk melayani Sakramen Tobat, sebab seorang imam juga membutuhkan kewenangan untuk mempraktekkan kuasa suci itu. Kewenangan ini yang disebut dengan Yurisdiksi, yang diberikan oleh Uskup. Lalu apa Yurisdiksi?


Dan melalui absolusi itu diberikanlah pengampunan atas semua dosa berat dan ringan yang diakui dan disesali oleh seorang peniten sehingga si peniten tersebut dilepaskan dari siksa dosa abadi atau hukuman kekal. Tetapi, si peniten tetap harus menanggung akibat dari dosa-dosa (siksa dosa sementara) dan melakukan silih yang diperlukan. 


Baca Juga : Mengapa Pastor Tidak Terlibat Dalam Politik?


Saya pikir pembaca sudah paham sekarang soal Absolusi selanjutnya soal Penitensi.


Penitensi (Ing: penance) adalah silih atau laku tobat yang diberikan oleh imam kepada seorang peniten untuk melengkapi ungkapan tobat yang dilakukannya. Penyilihan ini dimaknai sebagai ungkapan pemberian ganti rugi atas kerusakan rohani yang terjadi karena dosa-dosa yang dilakukan oleh seorang peniten. Di samping itu, tindakan silih ini juga berguna untuk memulihkan kerusakan rohani dan pelemahan dalam diri seorang peniten, dalam relasinya dengan Allah dan dengan sesama. Penitensi juga berguna untuk melemahkan akar dosa yang ada dalam diri seorang peniten. Maka, penitensi menjadi bantuan bagi seorang peniten untuk sungguh-sungguh mengubah diri luar-dalam.


Trus ada lagi istilah “denda dosa”, itu bagaimana maksudnya?


Seringkali kata Penitensi ini diterjemahkan dengan “denda dosa” tapi terjemahan ini kurang tepat, karena memberikan kesan seolah-olah kita mampu untuk “membayar atau memulihkan” kerusakan-kerusakan rohani karena dosa kita, dengan kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Artinya sudah berdosa tapi masih gara-gara lagi.  


Baca Juga : Bolehkah Seorang Wanita Katolik Berhijab?


Apakah yang menentukan bentuk penitensi itu dari Bapa Pengakuan ya?


Bapa pengakuanlah yang menentukan bentuk penitensi yang diberikan kepada seorang peniten. Dan ini dilakukan dengan memperhatikan keadaan pribadi dan kepentingan rohani dari si peniten. Diharapkan bahwa penitensi yang diberikan itu sesuai dengan berat dan kodrat dosa yang dilakukannya. 


Penitensi itu berupa apa saja?


Penitensi bisa berupa doa, derma, karya amal, pelayanan terhadap sesama, pantang secara sukarela, berkorban, dan lebih utama dari itu adalah kita bisa menerima semuanya dengan sabar salib yang harus kita pikul. Karya penitensi semacam ini sangat membantu kita untuk menyerupai Kristus, yang telah menjalankan-Nya sendiri untuk dosa-dosa kita satu kali untuk selama-lamanya (KGK 1460).


Baca Juga : Siapa Saja Yang Dilahirkan Tanpa Dosa Asal?


Tapi omong-omong, saya pernah punya pengalaman lucu dan pernah saya pergi mengaku dosa. Karena saking gugupnya saya, lalu di akhir pengakuan saya bilang ke Bapa Pengakuan begini, “Demikianlah dosa-dosa saya, saya mohon pengampunan dan impotensi yang berguna bagi saya”. Bapa pengakuan langsung senyum-senyum lihat saya, baru saya sadar kalo saya salah omong. Jadi saya cepat-cepat perbaiki kesalahan dengan minta penitensi bukan impotensi.


Nah supaya menghindari kejadian serupa kita harus konsen kalau sedang pengakuan. Usahakan hafal dan pahami tata urutan pengakuan dosa.*


Penulis : MYB

Catatan : Artikel ini sudah diedit sesuai kebutuhan blog.


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!