Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Perawat Edda : Selama Masa Karantina Mandiri Laksanakan Protokol Kesehatan - unclebonn.com

Friday, January 22, 2021

Perawat Edda : Selama Masa Karantina Mandiri Laksanakan Protokol Kesehatan


Pembaca setia Unclebonn.com kali ini Admin akan membagikan sharing pengalaman dari seorang perawat yang sudah pernah di-Swab. Sebut saja namanya Imelda Mbati Mbana S.Kep Ns. Beliau biasa disapa Edda. 


Anak dari seorang kepala desa ini membagikan pengalamannya melalui akun facebook miliknya, Edda Imelda. Walau ditulis dengan gaya guyon ala ibu-ibu ada banyak hal yang sifatnya informatif dan bernilai. Ternyata hasil PCR hari ini adalah hasil SWAB 19 hari yg lalu. Dan diharapkan selama masa karantina mandiri orang tersebut benar-benar melaksanakan protokol kesehatan. Meminjam istilah perawat Edda, jangan jalan-jalan.  


Dengan semakin meningkatnya penyebaran virus Corona di Kabupaten Sumba Timur masyarakat diharapkan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Untuk itu, pemerintah menekankan pentingnya perilaku 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.


Baca Juga : Pasien Bertambah Lagi 24 Orang Hingga Hari Ini Total Pasien Positif Covid-19 Di Sumba Timur Naik Menjadi 187 Orang, Saatnya Budayakan 5 M!


Tulisan tersebut sudah diedit sesuai standar blog. Walaupun sudah mengalami "reparasi" namun tidak mengubah substansi tulisan tersebut.  Silahkan dibaca tuntas. Sebuah artikel sederhana namun informatif dan edukatif.  


Corona 


Kali ini saya mau bicara serius. Bahkan super serius. Bukan nyinyir, suanggi atau sebangsanya. Saya ingin bagikan apa yang mengganjal di kepala saya selama ini. Yang sependapat atau tidak sependapat, mohon dibaca saja. Saya berani jamin. Ini bisa jadi referensi (yang bermanfaat) bagi hidupmu.


Guys.... Ini pendapat dari seseorang yang pernah di Swab yaitu saya sendiri. 


Saya ambil cerita dari kisah saya. Kebetulan kemarin saya di Swab tepatnya tanggal 23 Desember 2020. Dan hasilnya keluar 9 Januari 2021. Kemudian diumumkan di Posko Covid-19 Sumba Timur juga tangal 9 Januari 2021.  Bila dilihat dari jarak waktu pengambilan Swab dan hasil keluarnya ada 19 hari waktu menunggu. Jadi pembaca hasil PCR hari ini adalah hasil SWAB 19 hari yang lalu. 


Dengan waktu 23 hari itu, artinya ada beberapa kemungkinan yang bida terjadi. Misalnya seperti ini : 

  1. Setiap orang yang di Swab kemungkinan besar tidak bisa menahan diri untuk tetap tinggal dirumah atau marantina mandiri. Karantina mandiri yang sesungguhnya adalah yang sesuai protokol sendiri, Benar-benar tinggal di kamar sendiri, makan, minum, dan bahkan tidak menyentuh wilayah atau bagian rumah yang lain yang juga dilewati oleh orang sehat yang ada di dalam rumah itu. 
  2. Dan sudah pasti jika dia tidak bisa menahan diri, dan apalagi jika dia OTG, dia akan menularkan ke orang lain. Paling tidak kepada anggota keluarga yang lain. 
  3. Misalnya Si -A (Sebut saja begitu sebagai pengganti orang yang di Swab) dalam 19 hari itupun bisa saja kondisinya sudah kritis, tanpa pengobatan lanjutan. Hal ini masih sebatas pendapat saya dan semoga tidak terjadi di Sumba. Semoga dijauhkan dari hal tersebut. Karena jarak pengambilan dan jarak pemberitahuan hasil itu itu 19 hari.
  4. Selama 19 hari saat menunggu hasil artinya Si-A itu masih berada di "zona abu-abu" . 
  5. Dan disaat menunggu hasil akan ada banyak pertanyaan dan kekuatiran. “Saya positif tidak?”, “Saya kayaknya tidak Mungkin kena Corona”, “Eh saya kuat kok, mana mungkin positif.” Ini yang menurut saya berbahaya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menjadi hal paling buruk bagi org lain. Apalagi jika Si-A sibuk dengan pemikirannya (pertanyaan) tersebut. Tapi tidak sibuk karantina, tidak sibuk cuci tangan, Tidak sibuk pake masker, tidak sibuk jaga jarak.
  6. Ada hal baik yang kemungkinan terjadi terhadap si - A dalam 19 hari tersebut, yaitu jika si-A, taat protokol kesehatan : cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak, hal baik yg terjadi adala angka hari ini (Rabu, 20 Januari 2021) tidak mungkin menjadi 21 orang positif. 


Memang benar... “Kan sudah ada vaksinnya. Jadi aman."


Saya hanya mau bilang, “Iya betul...... vaksin itu untuk orang yang benar-benar sehat. Bukan untuk semua orang. Kalau kamu sudah pernah terkena Covid tetap tidak bisa divaksin. Kamu bisa terkena Covid berkali kali.


Baca Juga : Pasca Pilkada, Angka Positif Covid - 19 Di Sumba Timur Naik Signifikan


Nah, setelah ini, masihkah mau menjadi si-A yg Bebal? Setelah di Swab dan kamu masih  jalan-jalan (tidak melaksanakan karantina mandiri)?


Oh iya..... Lupa.... Sya Ingin menambahkan ini. 


Saya ingin membahas hal lain terkait pengambilan sample PCR. Ini tidak bermaksud mengkritisi pemerintah. Sekali lagi, mohon dimaafkan kalau saya salah. 


Yang ingin saya sampaikan adalah mengapa kita tidak menggunakan Swab Antigen bagi siapa saja yang kontak ataupun suspect Covid? Keuntungan Rapid test antigen dapat mengungkapkan bila seseorang saat ini sedang terinfeksi patogen seperti virus SARS-CoV-2 (15-30 menit). Berbeda dengan tes PCR yang mendeteksi keberadaan materi genetik, rapid test antigen mendeteksi protein atau glikan yaitu seperti protein lonjakan yang ditemukan di permukaan SARS-CoV-2. 


Protein ini menunjukkan bahwa ada virus aktif dalam diri orang tersebut, baik orang tersebut ada gejala ataupun tidak ada gejala. Selain itu, kita tidak membuat semakin panik masyarakat dengan menunggu 20-23 hari pengumuman penambahan Positif. Selama ini saya tidak pernah takut dengan penambahan jumlah positif karena saya tahu itu adalah hasil dari pengambilan PCR 20-23 hari yg lalu. Yg kemungkinan sudah banyak orang yang sembuh dan  atau malah sebaliknya. 


Selain itu, jika kita ingin mengunci Sumba Timur agar tdk melonjak kasusnya kita bisa melakukan PSBB paling tidak dua minggu. Untuk secara cekatan menangani orang yang sudah kita curigai menderita Covid. Dengan melakukan Swab antigen masal. Setelah selesai barulah lebih membuat ketat pengawasan di pintu keluar masuk Sumba.


Swab Antigen juga mampu membatasi (menekan) penggunaan dana dan juga tenaga medis terutama tenaga dokter yang melakukan SWAB PCR. Yang tenaganya hanya Mereka saja (terbatas) tidak ada lagi yang bantu. 


Baca Juga : Menjelang Akhir Oktober 2020 Sumba Timur Kembali Ke Zona Merah Covid-19


Saya pernah mewawancarai bebebrapa orang yang menunggu hasil Swab di Cendana. Walaupun ujung-ujungnya hasil mereka negatif. Pembiayaan hotel makan dan tenaga perawat (tinggi) dan (kurang) efisien. Anggaran APD sangat besar. Kenapa kita tidak menggunakan dana tersebut untuk pengadaan Swab Antigen secara masal dan menggerakkan seluruh lintas sektor untuk mengawasi Penerima Swab untuk tidak keluyuran selama masa PSBB?


Rapid test antigen bekerja paling baik ketika orang tersebut dites pada tahap awal terkena infeksi SARS-CoV-2, dimana beban virus umumnya paling tinggi. Tes ini juga bermanfaat untuk mendiagnosis orang-orang yang diketahui memiliki risiko besar untuk terpapar virus Corona.


Ini hanya pemikiran sederhana yang sebenarnya sudah lama ingin saya sampaikan. Jika ini menyinggung pihak- tertentu. Saya mohon maaf. Saya hanya menyampaikan pendapat saya.*


Semangat Sehat Selalu


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!