Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Cerita dari Gubuk Sederhana Itu - unclebonn.com

Thursday, July 16, 2020

Cerita dari Gubuk Sederhana Itu


Hidup sederhana
Ilustrasi : Pixabay.com/Couleur
Saya lebih suka menyebut rumah itu dengan gubuk. Hal ini bukan untuk “merendahkan” makna rumah kediaman orang itu tapi ingin menggambarkan secara keseluruhan hidupnya. Menggambarkan sosok penghuni rumah itu yang telah memberi inspirasi bagi hidup saya. Maksudnya dengan segala kesederhanaannya telah menggentarkan sanubari ini.


Orang itu telah berjasa dalam hidup saya. Dia memang tidak memberi materi tapi disaat keyakinan diri ini mulai sirna dia berkata kepada saya bahwa selalu ada harapan disetiap ujung penantian. Asalkan berharap kepada Tuhan yang menyelenggarakan hidup kita.  

Bapak itu bukan manusia setengah dewa. Dia manusia biasa yang menikmati kesederhanaan. Menikmati setiap jejak-jejak ujian yang selalu dialaminya. Tentang ujian itu saya akhirnya tahu ada pelangi sehabis hujan. Ada mahkota di setiap perjuangan. Ada hasil di setiap proses.

Malam ini tak sengaja saya melewati jalan di depan rumahnya. Tiba-tiba pengalaman “religius” kembali mengingatkan memori saya beberapa tahun silam. Ketika keputusasaan makin dekat. Kami datang memohon nasihatnya. Dia tak pernah menolaknya jika kita membagi beban. Wajahnya yang selalu memancarkan kesehajaan menciptakan kedekatan tidak pakai lama. Mengenangnya tak dibatasi oleh waktu.

Tak pakai klakson untuk menyapa penghuni gubuk itu. Dengan kesadaran penuh dalam kegelapan malam saya menundukkan kepala tanda memberi rasa hormat kepada pemilik gubuk itu. Ya walaupun dari atas motor saja.

Selama ini mungkin dia bertanya kemana orang itu saat ini? Kami memang tak selalu datang. Namun dalam waktu tertentu kami berusaha dekat dalam hati dan jiwa. Kesederhanaanmu selalu menggentarkan. Disetiap hati ini mengagumi kesederhanaan hati ini pun mengingat dan mengenangmu.

Kesederhanaan sungguh memancarkan pesonanya sendiri. Kesederhanaan yang bersumber dari hati akan menjadi mulia dan mengagumkan.  Dunia membutuhkan jiwa-jiwa yang mengagumi kesederhanaan dan menjadi dasar hidup orang itu walau ia dalam kelimpahan harta.

Hai penghuni gubuk, kesibukan ini yang membatasi jarak kita. Namun begitu, kebaikan yang telah kau tunjukkan selalu membekas tak pernah lekang oleh waktu. Setiap detik saya mengenangmu juga mendoakanmu agar engkau setegar kata-katamu. Nasihatmu dan juga kebijaksanaanmu.*


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!