Educational, Informative, and Inspirational Blog Dilarang Keras "Phubbing": Mengembalikan Martabat Manusia di Balik Layar - unclebonn.com

Friday, April 3, 2026

Dilarang Keras "Phubbing": Mengembalikan Martabat Manusia di Balik Layar

https://www.unclebonn.com/2026/04/dilarang-keras-phubbing-mengembalikan.html

Mungkin sudah saatnya stiker bertuliskan
"DILARANG KERAS PHUBBING" ditempel di ruang-ruang rapat lembaga negara—mulai dari DPR RI, MPR, hingga kantor-kantor PEMDA. Mengapa? Karena di sanalah kualitas dan integritas seseorang diuji: apakah mereka hadir untuk rakyat atau justru "hanyut" dalam layar 6 inci di tangan.


Apa Itu Phubbing?


Istilah Phubbing mungkin terdengar asing, namun perilakunya sudah menjadi "penyakit" kronis di masyarakat kita. Phubbing adalah singkatan dari Phone dan Snubbing. Secara harfiah, ini adalah tindakan mengabaikan orang yang ada di hadapan kita demi sibuk dengan gadget.


Baca Juga : Dekonstruksi Kepemimpinan Sekolah: Dari Otoritas Administratif Menuju Transformative Change Agent


Ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan sebuah pola perilaku anti-sosial. Dunia bahkan merasa perlu menciptakan kata khusus untuk fenomena ini karena saking parahnya dampak yang ditimbulkan terhadap kualitas hubungan antarmanusia.


Sejarah Lahirnya Sebuah Kata


Sebelas tahun silam, tepatnya Mei 2012, para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sydney University. Pertemuan itu melahirkan kata Phubbing yang diciptakan oleh Alex Haigh asal Australia. Ia menemukan fakta pahit: demi gadget, manusia mulai mengabaikan sesamanya, bahkan di dalam lingkaran keluarga sekalipun.


Meskipun KBBI belum memiliki kata serapan resmi yang sepadan, kita semua sebenarnya adalah pelakunya. Kita telah menjadi seorang "Phubber" sejati tanpa sadar.


Baca Juga : Neuroplastisitas & Kebiasaan Mental: Ilmu di Balik Memutus Lingkaran Setan Pola Pikir Buruk


Cermin Retak dalam Keseharian Kita


Coba ingat kembali momen-momen ini:

  • Saat berbicara dengan petugas teller bank, tangan kita tetap asyik menggulir layar.
  • Saat menemani anak mengerjakan tugas sekolah, setiap satu menit mata kita melirik notifikasi yang masuk.
  • Saat makan malam romantis dengan pasangan, ponsel diletakkan begitu dekat, siap menyela obrolan hangat kapan saja ada bunyi pesan masuk.


Inilah ironinya: Kita seringkali merasa "terhubung" dengan dunia luar yang jauh, namun justru "terputus" dengan jiwa yang ada tepat di depan mata kita.


Mengembalikan Etika dan Sopan Santun


Kampanye Anti-Phubbing perlu digalakkan bukan untuk melarang penggunaan ponsel, melainkan untuk mengembalikan etika berkomunikasi.


Hormatilah orang-orang di sekitar kita. Kualitas seseorang tidak hanya dilihat dari jabatan atau pintarnya bicara, tapi dari caranya menghargai lawan bicara. Jangan sampai kita dicap sebagai pribadi yang tidak memiliki sopan santun hanya karena tidak mampu mengontrol diri dari godaan notifikasi.


Baca Juga : Membangun Keteladanan Organik: Kunci Transformasi di SMK Negeri 1 Pandawai


Refleksi Diri


Mari kita benahi diri. Ponsel yang kita beli dengan keringat dan hasil usaha sendiri itu seharusnya menjadi alat yang memudahkan hidup, bukan malah menjadi tembok yang memisahkan kita dari sahabat, orang tua, anak, maupun pasangan.

Stop Phubbing. Saat Anda sedang berhadapan dengan manusia, simpanlah ponsel Anda. Hadirlah seutuhnya, karena kehadiran fisik tanpa kehadiran jiwa adalah sebuah penghinaan terhadap kebersamaan.*

 

Mari kita mulai dari diri sendiri: Letakkan ponselmu, tatap matanya, dan mulailah berbicara.

 

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!