Harmoni Tradisi dalam Liturgi
Misa
Paskah kali ini dibuka dengan cara yang sangat "Sumba". Alih-alih
hanya prosesi formal, umat disambut dengan tarian daerah Kambera yang megah.
Dentuman tambur dan gong berpadu ritmis dengan gemerincing giring-giring di
kaki para penari. Baca Juga :
Puncaknya
adalah pekikan "Kayaka" yang menggema kuat di langit-langit
gereja. Di titik ini, iman dan budaya menyatu sempurna. Suasana gembira bukan
lagi sekadar konsep, melainkan getaran yang terasa nyata di dada setiap umat
yang hadir.
Pater
Teus, CSsR, yang memimpin perayaan ekaristi ini, membuka misa dengan salam
hangat. Senyumnya menyapa seluruh umat, merayakan puncak dari segala iman
kristiani bersama-sama.
Antara Mitologi Phoenix dan Realita Iman
Dalam
homilinya, Pater Teus membawa imajinasi umat terbang jauh ke Yunani melalui
legenda burung Phoenix. Burung yang membakar diri untuk bangkit kembali
itu sering menjadi simbol kebangkitan. Namun, Pater menekankan satu hal
mendasar: hanya Yesus Kristus yang benar-benar mati, bangkit, dan hidup untuk
selama-lamanya.
Baca Juga : Dari Keheningan Menuju Kemenangan: Ketika "Diam" Menjadi Cara Tuhan Bekerja
Beliau
mengingatkan kembali betapa hancurnya hati para murid kala itu. Kematian Yesus
di salib yang dianggap hina benar-benar di luar ekspektasi mereka yang mengira
Yesus akan mendirikan kerajaan duniawi. Namun, justru dari titik terendah
itulah, iman kristiani diuji dan dimurnikan.
Pater
Teus menitipkan tiga pesan refleksi bagi umat Lambanapu:
- Menjadi Manusia Baru: Paskah adalah momen reset
untuk meninggalkan manusia lama.
- Iman yang Bertumbuh: Iman tidak boleh jalan di
tempat, melainkan harus nampak dalam sikap dan tindakan yang benar.
- Menjadi Saksi Kristus: Tak perlu pergi jauh
sebagai misionaris ke luar negeri; mulailah menjadi saksi di gereja dan
lingkungan terkecil masing-masing.
Ada satu
ungkapan menarik yang dilemparkan Pater Teus: Ia mengajak umat mengubah Rest
in Peace (Istirahat dalam Damai) menjadi "Race in Peace".
Sebuah ajakan untuk berlomba-lomba dalam iman yang sesungguhnya dengan penuh
sukacita dan kedamaian. Baca Juga :
Regenerasi Iman dan Semangat Orang Muda
Kemeriahan
misa semakin terasa dengan iringan suara merdu dari paduan suara Orang Muda
Katolik (OMK). Di tangan mereka, mazmur pujian terdengar lebih bertenaga,
seolah menegaskan bahwa masa depan gereja ada pada semangat mereka yang
membara.
Momen
haru sekaligus bahagia terjadi saat enam orang bayi menerima sakramen baptis.
Didampingi orang tua dan wali baptis, kehadiran anggota baru Gereja ini menjadi
simbol nyata dari kehidupan baru yang dibawa oleh kebangkitan Kristus.
Pesta Rakyat: Makan Bersama Makanan Lokal
Usai
perayaan ekaristi yang khidmat, kegembiraan berlanjut ke pelataran gereja.
Paskah di Stasi Santa Elisabeth Lambanapu bukan hanya soal upacara, tapi juga
soal kebersamaan.
Baca Juga : Inspirasi Paskah : Memeluk Salib, Menemukan Kebangkitan, Kisah Suster Elisabeth Sutedja
Masing-masing
lingkungan di stasi telah menyiapkan hidangan makanan lokal yang menggugah
selera. Di sini, sekat-sekat hilang. Sambil menyantap sajian tradisional, umat
bercengkerama, berbagi tawa, dan saling mengucapkan selamat Paskah.
Pagi itu,
Lambanapu bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi bahwa kebangkitan
adalah tentang hidup yang dibagikan—melalui tarian, doa, baptisan, hingga
sepiring makanan lokal yang dinikmati bersama.
Selamat
Paskah! Yesus sudah bangkit, Haleluyah!



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!