Educational, Informative, and Inspirational Blog Dari Bunyi Gong hingga "Race in Peace": Sukacita Kebangkitan di Stasi Santa Elisabeth Lambanapu - unclebonn.com

Sunday, April 5, 2026

Dari Bunyi Gong hingga "Race in Peace": Sukacita Kebangkitan di Stasi Santa Elisabeth Lambanapu


https://www.unclebonn.com/2026/04/dari-bunyi-gong-hingga-race-in-peace.html

Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WITA, namun sinar matahari Sumba yang mulai menghangat seolah kalah saing dengan semangat umat di Stasi Santa Elisabeth Lambanapu. Ruang gereja sudah sesak. Ada aroma sukacita yang kental di udara—sebuah penantian panjang masa Prapaskah yang akhirnya bermuara pada sorak kemenangan: "Aleluya, Yesus telah Bangkit!"


Harmoni Tradisi dalam Liturgi


Misa Paskah kali ini dibuka dengan cara yang sangat "Sumba". Alih-alih hanya prosesi formal, umat disambut dengan tarian daerah Kambera yang megah. Dentuman tambur dan gong berpadu ritmis dengan gemerincing giring-giring di kaki para penari. Baca Juga : Menjemput Keselamatan di Lambanapu: Kidung Daun Palma dan Jejak Kesengsaraan


Puncaknya adalah pekikan "Kayaka" yang menggema kuat di langit-langit gereja. Di titik ini, iman dan budaya menyatu sempurna. Suasana gembira bukan lagi sekadar konsep, melainkan getaran yang terasa nyata di dada setiap umat yang hadir.


Pater Teus, CSsR, yang memimpin perayaan ekaristi ini, membuka misa dengan salam hangat. Senyumnya menyapa seluruh umat, merayakan puncak dari segala iman kristiani bersama-sama.


Antara Mitologi Phoenix dan Realita Iman


Dalam homilinya, Pater Teus membawa imajinasi umat terbang jauh ke Yunani melalui legenda burung Phoenix. Burung yang membakar diri untuk bangkit kembali itu sering menjadi simbol kebangkitan. Namun, Pater menekankan satu hal mendasar: hanya Yesus Kristus yang benar-benar mati, bangkit, dan hidup untuk selama-lamanya.


Baca Juga : Dari Keheningan Menuju Kemenangan: Ketika "Diam" Menjadi Cara Tuhan Bekerja


Beliau mengingatkan kembali betapa hancurnya hati para murid kala itu. Kematian Yesus di salib yang dianggap hina benar-benar di luar ekspektasi mereka yang mengira Yesus akan mendirikan kerajaan duniawi. Namun, justru dari titik terendah itulah, iman kristiani diuji dan dimurnikan.


Pater Teus menitipkan tiga pesan refleksi bagi umat Lambanapu:

  1. Menjadi Manusia Baru: Paskah adalah momen reset untuk meninggalkan manusia lama.
  2. Iman yang Bertumbuh: Iman tidak boleh jalan di tempat, melainkan harus nampak dalam sikap dan tindakan yang benar.
  3. Menjadi Saksi Kristus: Tak perlu pergi jauh sebagai misionaris ke luar negeri; mulailah menjadi saksi di gereja dan lingkungan terkecil masing-masing.


Ada satu ungkapan menarik yang dilemparkan Pater Teus: Ia mengajak umat mengubah Rest in Peace (Istirahat dalam Damai) menjadi "Race in Peace". Sebuah ajakan untuk berlomba-lomba dalam iman yang sesungguhnya dengan penuh sukacita dan kedamaian. Baca Juga : Gema di Balik Bayang-bayang: Belajar dari Kepekaan Claudia Procula


Regenerasi Iman dan Semangat Orang Muda


Kemeriahan misa semakin terasa dengan iringan suara merdu dari paduan suara Orang Muda Katolik (OMK). Di tangan mereka, mazmur pujian terdengar lebih bertenaga, seolah menegaskan bahwa masa depan gereja ada pada semangat mereka yang membara.


Momen haru sekaligus bahagia terjadi saat enam orang bayi menerima sakramen baptis. Didampingi orang tua dan wali baptis, kehadiran anggota baru Gereja ini menjadi simbol nyata dari kehidupan baru yang dibawa oleh kebangkitan Kristus.


Pesta Rakyat: Makan Bersama Makanan Lokal


Usai perayaan ekaristi yang khidmat, kegembiraan berlanjut ke pelataran gereja. Paskah di Stasi Santa Elisabeth Lambanapu bukan hanya soal upacara, tapi juga soal kebersamaan.


Baca Juga : Inspirasi Paskah : Memeluk Salib, Menemukan Kebangkitan, Kisah Suster Elisabeth Sutedja


Masing-masing lingkungan di stasi telah menyiapkan hidangan makanan lokal yang menggugah selera. Di sini, sekat-sekat hilang. Sambil menyantap sajian tradisional, umat bercengkerama, berbagi tawa, dan saling mengucapkan selamat Paskah.


Pagi itu, Lambanapu bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi bahwa kebangkitan adalah tentang hidup yang dibagikan—melalui tarian, doa, baptisan, hingga sepiring makanan lokal yang dinikmati bersama.


Selamat Paskah! Yesus sudah bangkit, Haleluyah!


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!