Apa impianmu setelah mengikuti workshop Core Values Cerdas?
Saya sangat berharap setiap guru di SMK Negeri 1 Pandawai memiliki kesadaran penuh dalam melaksanakan tugas dan fungsinya seoptimal mungkin atau selaras dengan visi-misi Yayasan Astra (Yayasan Pedidikan Astra-Michael D Ruslim) yakni menjadi guru yang profesional dan melayani.
Guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, serta mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan maksimal.
Melayani artinya guru melaksanakan tugasnya dengan itikad baik, memiliki niat yang tulus, tidak berpura-pura dan terus mengembangkan pembelajaran yang berpihak pada murid atau memenuhi kebutuhan belajar murid.
Baca Juga : Lonceng Kematian dari Usaha Pertambangan
Tugas melayani seorang guru seperti yang diharapkan oleh Yayasan Astra – Yayasan Pendidikan Astra Micahel D Ruslim itu sebenarnya sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan yang berpihak pada murid adalah pendidikan yang ”bebas dari segala ikatan dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuaitu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.”
Dikutip dari buku Pedagogik Telaah Kritis Ilmu Pendidikan dalam Multiperspektif, Yusuf Tri Herlambang (2018: 159), dalam rangka melaksanakan peran tersebut, pendidik hendaknya “berhamba” pada anak. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan yang berhamba pada anak artinya seorang pendidik harus memiliki kesadaran diri untuk melaksanakan tanggung jawabnya tanpa pamrih. Pendidik tidak meminta atau menuntut sesuatu hak apapun, sehingga lebih memiliki idealisme pendidikan.
Dalam membangun sebuah ekosistem pendidikan diperlukan adalah sebuah idelisme yakni pendidik yang punya kesadaran diri sekaligus melaksanakan tanggung jawabnya.
Dalam presepsi penulis yang dimaksud dengan idealisme pendidikan saya sebut sebagai integritas. Nilai-nilai integritas ini sejatinya harus tecermin dalam kehidupan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat bahkan ini dijadikan sebagai fondasi dan keadaban sekolah.
Baca Juga : Contoh Visi, Misi dan Program Kerja Calon Kepala Desa
Integritas adalah suatu kualitas, sifat, atau keadaan yang menunjukkan keutuhan atau kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan untuk memancarkan kewibawaan atau kejujuran. Secara sederhana, integritas dapat diartikan sebagai keutuhan karakter dan prinsip moral seseorang.
Dari penjelasan di atas profil seorang guru yang memiliki integritas bahwa guru merupakan seorang pribadi yang jujur artinya bertindak dan berkata dengan benar dan tidak menipu. Konsisten bahwa guru tersebut perkataan dan tindakan selaras dengan nilai-nilai yang dianut. Guru tersebut bertanggung jawab artinya ia mampu menjalankan tugas dan kewajiban dengan baik.
Seorang guru juga mampu menjaga rahasia yakni mempertahankan kepercayaan yang diberikan. Guru juga punya sikap menghormati hak-hak dan martabat orang lain. Seorang guru sejatinya bersikap adil dalam segala tindakan dan keputusan. Ia juga memegang teguh asas transparansi maksudnya bersikap terbuka dan jujur dalam menyampaikan informasi.
Membangun Ekosistem Pembelajaran
Untuk mewujudkan SMK Negeri 1 Pandawai sebagai sekolah vokasi unggul dan berwawasan global diperlukan ekosistem pembelajaran efektif, integratif dan holistik. Ekosistem pembelajaran adalah sistem yang saling berhubungan yang mencakup orang, konten, teknologi, budaya, dan strategi, yang semuanya memiliki dampak pada pembelajaran formal maupun informal dalam satu sekolah.
Baca Juga : Modus Penipuan kepada Siswa dengan Mencatutkan Nama Guru di SMK Negeri 1 Pandawai
Sekali lagi, agar terciptanya ekosistem pembelajaran yang efektif, integratif dan holistik diperlukan karakter yang kuat dari komunitas sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Seperti dijelaskan di atas integritas tidak sekedar slogan tapi harus diwujudnyatakan dalam aktivitas pembelajaran dan penerapan budaya positif sekolah. Seorang guru dia memegang teguh prinsip keguruan dan etika profesi. Dia bukan guru yang mencla-mencle atau menjadi benalu bagi sekolahnya.
Harus diketahui bahwa tujuan dari membangun ekosistem pembelajaran untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kaya, fleksibel, dan relevan. Disini yang berperan sebagai elemen utama adalah sumber daya manusia-nya dalam hal ini guru. Guru berperan penting dalam mengelola aset-aset atau sumberdaya yang ada di sekolah sehingga menciptakan lingkungan simbiosis dan interaksi dengan berbagai sumber daya yang pada akhirnya bermuara pada pemenuhan kebutuhan belajar murid.
Membangun ekosistem pembelajaran di SMK Negeri 1 Pandawai adalah mengintegrasikan karakter Core Values Cerdas (Cermat, Dinamis, Antusias, dan Sinergis) pada kurikulum sekolah dan non kurikulum. Integrasi karakter non kurikulum dilaksanakan diluar jam pembelajaran aktif.
Pada pelaksanaan pembelajaran guru juga bisa memasukan berbagai strategi maupun pendekatan yang ditawarkan Yayasan Astra seperti Tandur : tumbuhkan, alami, namai, demonstrasi, ulangi, dan rayakan. Beragam strategi maupun pendekatan ini mengambarkan karakter pembelajaran kekinian yang kaya, fleksibel namun harus tetap memperhatikan konteks dan relevansinya.
Baca Juga : Seperti Apa Manifesto Politik Ala Kristiani?
Praktik pelaksanaan pembelajaran dengan tujuan menginternalisasi nilai-nilai karakter CERDAS yang menjadi bagian dari intervensi Yayasan Astra ini harus disambut antusias dan dilaksanakan secara kolaborasi dan penuh tanggung jawab. Para guru harus open minded dalam setiap dinamika pengembangan bahan ajar. Guru harus mampu mengembang konten-konten pembelajaran secara rutin dan berjenjang.
Untuk mengimplementasikan beragam pendekatan maupun strategi untuk mewujudkan ekosistem pembelajaran yang efektif, integratif dan holistik diperlukan kepemimpinan pembelajaran yang berkualitas sehingga mampu menghadirkan konten-konten pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan murid yang unik dan beragam.
Kepemimpinan pembelajaran yang dimaksud adalah kepemimpinan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Maksud dari kepemimpinan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik adalah pendekatan kepemimpinan yang berfokus pada pengembangan dan pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik. Pemimpin pembelajaran yang berpusat pada peserta didik membantu peserta didik untuk mengambil kendali atas pembelajaran mereka sendiri, mendorong motivasi dan keterlibatan yang lebih besar, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Lantas seperti apa implementasi kepemimpinan pembelajaran di SMK Negeri 1 Pandawai? Dari laporan hasil pengamatan Yayasan Astra dan Hasil Pengamatan Penulis pada saat pelaksanaan Gebyar SMK tahun 2025 (2-3 Mei 2025) dan laporan guru-guru pendamping bahwa kemampuan murid atau peserta didik belum nampak pada aspek sikap yakni percaya diri. Di aspek lain adalah kemampuan bernalar kritis dan komunikasi. Dikatakan bahwa peserta didik belum mampu tampil percaya diri serta kecakapan berkomunikasi secara efektif saat menjawab atau mempresentasikan produk unggulan dan inovasi ketika dimintai keterangan. Artinya murid saat ini belum merepresentasikan profil murid abad 21.
Baca Juga : Pancasila Lahir Tanpa Henti untuk Negeri
Apa yang menyebabkan murid belum memenuhi tuntutan kompetensi pembelajaran Abad 21 atau sering disebut sebagai "4C" (Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity) karena pola penyelenggaran pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru-guru di SMK Negeri 1 Pandawai masih bersifat tradisional. Maksudnya pembelajaran yang dilaksanakan lebih dominan ceramah ketimbang mengunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran. Guru juga belum mampu mengembangkan pembelajaran ke level HOTs (Higher Order Thinking Skill) atau pada tataran berpikir tingkat tinggi. Yang terjadi dilapangan guru masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan pemantik pada level rendah.
Langkah-langkah untuk menghadirkan profil murid abad 21 atau mewujudkan SMK Negeri 1 Pandawai menjadi sekolah unggul berwawasan global adalah menerapkan prinsip Plan, Do, Check dan Action (PDCA). Secara implementatiff dapat dijelaskan sebagai berikut sekolah perlu melakukan perencanaan yang matang program kerja kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua program studi, dan para guru mata pelajaran. Perlu ada pelaksanaan program. Kemudian lakukan evaluasi dan hasil evaluasi harus ditindaklanjuti. Pada akhirnya PDCA menjadi sebuah siklus yang dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan.
Penutup
Integritas itu mengandung nilai-nilai universal seperti kejujuran, konsistensi, bertanggung jawab, menjaga rahasia, penghormatan, keadilan, dan transparansi. Nilai-nilai ini memampukan seorang guru untuk membangun sebuah ekosistem pembelajaran efektif, integratif, dan holistik untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Impelemtasinya diperlukan sebuah sistem kepemimpinan pembelajaran yang berkualitas sehingga dapat mewujudkan profil murid abad 21 yang "4C" (Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity).



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!