Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Sephia - unclebonn.com

Tuesday, June 15, 2021

Sephia


Gadget ditangan ku bergetar keras. Walau begitu kubiarkan saja. Segera ku simpan kedalam tas punggung yang akan kupakai nanti. Sebentar lagi baru kubaca satu persatu disaat duduk santai sambil seruput segelas kopi panas. Palingan puluhan kali pemberitahuan itu kebanyakan pesan-pesan dari grup whatsapp. Gak penting-penting amat itu yang terpikir dibenak ku saat ini.

Siang ini aku harus ke lokasi. Maklum saja sebagai karyawan di salah satu perusahaan BUMN aku ditugaskan beroperasi di beberapa kecamatan. Akibat pandemi Covid-19 tuntutan pekerjaan kian berat. Bekerja dengan norma baru sedikit mengganjal. Karyawan mesti adaptasi dengan kondisi lapangan yang mana masyarakatnya belum sepenuhnya taat dengan protokol kesehatan. Di desa-desa masih jarang warga yang mengenakan masker. Pokoknya berhadapan dengan kondisi demikian serba dilema deh. 

Baca Juga : Tamu-Tamu Misterius

Terik kian menyengat. Ku arahkan sepeda motor ke sebuah warung kopi sederhana pas di persimpangan jalan masuk sebuah desa. Tempat yang strategis memang. Beberapa rekan kerjaku sering mampir di warung kopi itu. Warung itu milik warga setempat tapi yang mengelola istrinya. Istrinya orang Jawa. Keduanya eks TKI di Malaysia yang sudah belasan tahun meninggalkan profesi TKI itu. Itu desas-desus yang kudengar. 

Sambil menikmati segelas kopi ku ambil gadget yang tersimpan di tas punggung ku. Sudah ku pikir akan banyak pesan yang masuk. Ternyata bukan hanya puluhan sudah ada ratusan pesan. Wajar sih ada sepuluh grup yang aku join. Terutama grup-grup yang sesuai pekerjaan ku saat ini. Apalagi lagi grup para karyawan lapangan so pasti ramai dan pecah kalau mengulas sesuatu karena ada komentar-komentar yang kocak. 

Aku terhenti sejenak setelah sebuah direrct message dengan nama ku beri spesial itu muncul. Sephia

"Ada apa sih nih orang? Tumben DM aku." gumamku. 

"Met siang. Maaf sedikit mengganggu waktu kamu. Boleh kan?"

"Jeff, kamu tuh egois ya tak pernah memahami perasaanku. Kamu tega banget ya sama aku!."


Suasana seketika bak disambar petir. Berubah campur aduk. Antara emosi dan penuh tanda tanya. Gila nih orang. Tidak ada hujan, tidak ada angin tiba-tiba datang dan menyalahkan orang lain. 

Sephia sebuah nama yang kusematkan pada seorang gadis perawat yang pernah ku cintai beberapa tahun silam. Aku memacarinya hampir tiga tahunan. Dianya sudah berkali-kali memintaku melamari dirinya namun aku belum siap. Semua gegara masalah modal. Maklum belis nona Sumba itu mahal coy. Butuh kekuatan modal yang super duper kuat. Apalagi lagi nona dari kalangan maramba (bangsawan) modal cinta doang gak cukup. Perjuangannya berat. Apalagi anak perempuan orang yang sudah kerja dan berpendidikan tinggi. Jangan hanya modal berani dan tampang saja. Harus mapan secara ekonomi.  Jika tidak mau ditikar adat jangan sampai duduknya bisa seminggu setelah itu pulang nihil hasil. Tanpa hasil.

Ini bukan soal materi guys ini soal keadaban budaya. Bahwa wanita itu mesti dihargai dan ditinggikan derajatnya dan ini juga menyangkut harga diri rumah tangga dan keluarga besar. 

Aku memahami itu semua. Makanya karena dirasa modalku belum cukup aku tidak buru-buru melamar dirinya. Soal rasa cinta padanya itu final dan terbantahkan. Setelah dia pergi meninggalkan aku dan bersanding dengan laki-laki lain aku sudah ikhlas walau hati ini hancur berkeping-keping. Mungkin menurutku itu yang terbaik. Rambu Jean itu wanita terhormat dan baik di mataku. Soal perpisahan itu hanya soal modal dan waktu. Menurutku ia terlalu buru-buru mengambil keputusan.  

Barangkali dia tidak mengetahui niatku sesungguhnya.  Padahal aku sangat memahami dirinya. Mengetahui ketulusan dirinya. Sudah kujelaskan bahwa aku belum cukup modal. Tapi dia terus meminta diriku untuk melamarnya dengan segera. Apakah itu cara dia ingin meninggalkan diriku? Aku tak menemukan jawaban hingga saat ini. Karena ketulusan dan rasa cintaku padanya aku tak benci caranya ia menyakiti aku. 

Memang semenjak ada pria lain yang mendekati dirinya sikapnya mulai berubah. Semenjak ada yang lain lama-lama sikapnya menjadi-jadi. Jarang memberi kabar apalagi membalas sms dariku. Tiba-tiba sebuah sms masuk dengan bahasa yang tegas dan lugas. 

"Kisah cinta kita berakhir sampai disini. Kita putus. Jeff, kamu cari saja yang lebih baik dari aku. Terima kasih atas segala kebaikan dari mu." 

"Baik. Sama-sama." Itu balasan sms dariku saat itu.

Aku tak mau mengambil sikap perang dengannya. Atau berusaha menyakiti dengan cara yang sama. Aku harus terus berjalan. Dan percaya hanya cinta yang bisa mengobati sakit hati karena cinta. Tapi aku tak bisa menipu diriku. Aku masih punya rasa cinta hingga detik ini saat setelah membaca DM darinya.


DM itu kembali menggugah nostalgia masa lalu ku. Ada perjalanan cinta yang menarik di sana. Antara aku dan dirinya.  Aku Jeffry Agustino dididik untuk menghormati perempuan seperti ibuku. Karena didikan orang tuaku aku rela tersakiti daripada menyakiti.  Karena cinta akan mencari cinta.  Love seeks love bahwa sejauh ia mengembara ia akan menemukan cintanya kembali. Tapi dalam mahligai kesucian cinta.

Dari sini aku hanya mau bertanya kepadamu Sephia. Mana janjimu yang dulu pernah terucap? Apa gerangan merasuki pikiran mu sampai kamu tega meninggalkan diriku? Terus terang saja sejak saat itu aku berantakan. Ada dia disampingmu hati ini hancur. 

Namun karena dorongan cinta yang lebih besar aku tetap hidup. Aku tetap baik-baik saja. Tak ada kebencian dalam diri ini. Aku bahagia karena derita itu datang darimu.  Sebuah kenangan yang tak terlupakan. Sampai nanti. Sampai akhir.*

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!