Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Pertarungan Guru Hari Ini - unclebonn.com

Saturday, May 22, 2021

Pertarungan Guru Hari Ini


Hari ini wajah guru sudah berubah. Kalau zaman dulu guru kerap diidentikkan dengan Oemar Bakrie. Pria tua nan sederhana dengan sepeda ontelnya.  Hari sebagian besar guru sudah memiliki mobil. Kalaupun tidak punya mobil minimal dia punya sepeda motor model kekinian.  Penampilan sudah sama seperti pegawai kantoran. Yang namanya guru PNS sama dengan pegawai birokrasi.  Beda hanya terletak pada tugas dan fungsinya. 


Wajah baru guru hari ini sudah ditopang dengan tambahan penghasilan yang melekat tunjangan profesi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik.  Nilainya lumayan bekin senyum bahagia. Satu kali gaji plus tambahan penghasilan lainnya. Maka sejahtera-lah mereka. Kesejahteraan ini mestinya berdampak pada kualitas pendidikan. Itu idealnya.  Namun fakta dan data membuktikan bahwa belum ada dampak signifikan terkait peningkatan kualitas pendidikan. 


Nah, formulasi sampai dikatakan guru profesional itu berbeda-beda.  Diawal proses kebijakan sertifikasi guru (2007) masih dalam bentuk portofolio.  Sejak 2012 (kalau tidak salah) mulai dengan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Namun pada tahun yang sama ada kebijakan baru yaitu Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan kurang lebih setahun. PPG diperuntukkan bagi guru dalam jabatan (status berdasarkan data Dapodik) dan Prajabatan untuk sarjana pendidikan yang belum terdaftar di Dapodik dan sarjana non pendidikan. PPG ini memungkin banyak sarjana non kependidikan bisa menjadi guru. 


PPG adalah jalan terbaik untuk menghasilkan tenaga pendidik yang berkualitas. Ini tidak menegasikan bahwa proses sebelumnya bukan yang terbaik. Namun secara prosedural dan intensitas pembelajaran serta tahapan prosesnya kita bisa simpulkan bahwa menjadi guru bukan perkara mudah dengan kata lain bahwa untuk menjadi guru profesional harus menguasa ilmu pedagogik dan profesional. Dengan ditetapkan passing grade secara berkala maka proses pendidikan profesi guru   semakin sulit. Apalagi ada wacana bahwa penerima tunjangan sertifikasi bukan lagi sesuatu yang abadi. Ada upgrading secara berkala. Bisa dalam lima tahun bisa juga dalam 10 tahun seorang guru akan melewati proses Uji Kompetensi Guru (UKG). Dan kedepan yang namanya tambahan penghasilan guru akan berbasis kinerja. Semua penilaian yang diberlakukan kepada guru bisa saja diperlakukan secara real time.  Jadi hal tersebut terasa mengerikan bagi guru-guru yang bertugas jauh dari kota dan guru-guru yang bertugas di daerah 3T. 


Perihal kesejahteraan kerap menjadi masalah. Tak mungkin guru bekerja dalam keluhan dan keterbatasan.  Baik guru PNS maupun guru honorer terkait kesejahteraan memiliki kompleksitas masing-masing.  Semua memiliki tantangan terkait kondisi ekonomi dan sosial-masyarakat setempat dengan segala keunikannya. Begitulah kira-kira. 


Era Internet of Thing 


Pandemi COVID-19 sudah menjadi bukti bahwa proses kegiatan pembelajaran sudah bergeser dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran dengan pemanfaatan produk-produk teknologi. Semua aspek kehidupan sudah terkoneksi dengan internet. Ini akan menjadi perkara bagi golongan guru yang masih gagap teknologi (gatek). 


Pertarungan guru hari ini bukan saja soal guru hadir di sekolah atau selalu ada di kelas. Melainkan tuntutan profesional secara holistik.  Menerjemahkan tantangan zaman untuk kebutuhan peserta didik. Guru mesti multi skill. Guru mesti mampu memanfaatkan berbagi produk-produk teknologi,  model pembelajaran,  dan memiliki berwawasan luas. Karena di era internet of thing siapapun bisa mengakses segala sesuatu termasuk peserta didik. Oleh karena itu, penguasaan teknologi yang standar bagi pendidik adalah sebuah keniscayaan. 


Kurikulum adaptatif terus dikembangkankan dengan penerapan ragam model pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Pada tataran teknisnya karakteristik rancangan pembelajaran inovatif ditandai dengan penerapan unsur-unsur baru pembelajaran abad 21, antara lain: kolaborasi peserta didik-guru, berorientasi pada HOTS, mengintegrasikan ICT, berorientasi pada keterampilan belajar, mengembangkan keterampilan Abad 21 (4C) dan 6 literasi, serta penguatan pendidikan karakter peserta didik. Karakter lainnya yaitu adanya penerapan konsep TPACK, Neuorscience, Model pembelajaran STEAM maupun Digital Learning.


Karakteristik produk pembelajaran saat ini adalah implikasi dari perkembangan sains dan teknologi secara sistematis dan masif yang sudah masuk di segala bidang dan aspek kehidupan manusia. Secara teoritis kita sepakat ini akan berdampak baik dalam proses pembelajaran namun pada tataran praktiknya ini butuh waktu dan proses yang terus menerus dilakukan. Sehingga mampu merealisasikan tujuan pendidikan nasional sehingga kita bisa menjadi sebuah bangsa Indonesia yang cerdas, terdidik dan berpendidikan. Kita bisa menjadi bangsa yang besar dan maju serta bermartabat di mata dunia. Pendidikan adalah modal utama untuk bangsa saat ini.


Dengan demikian, guru memiliki peran penting untuk menerapkan berbagai software pendidikan seperti yang sudah disebutkan di atas. Guru adalah lokomotifnya.  Namun diperlukan proses-proses pelatihan dan pendidikan secara kontinyu dan berkesinambungan dengan topangan kesejahteraan yang adil dan merata. Tanpa kesejahteraan yang adil dan merata dan guru bekerja dalam keluhan sulit untuk menjadi pribadi yang berkualitas secara utuh.*


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!