Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Sejoli di Bukit Savana - unclebonn.com

Friday, November 20, 2020

Sejoli di Bukit Savana

Ilustrasi: Pixabay.com

Rona jingga itu mulai menampakkan dirinya. Ia memang tak pernah lelah menunaikan rutinitas hariannya.  Ia sadar dalam edaran alam, hadirnya  akan membawa berkah bagi segenap makhluk penghuni jagad.


Cinta bisa saja berakhir tapi semesta terus akan berjaya sampai pada akhirnya.


Tapi kali ini, sang pujangga imajiner akan berkisah tentang cinta tanpa batas. Cinta yang tak sekedar  indah dalam syair tapi dalam kasih nyata. Cinta yang tak pernah lelah merajut asa, tak pernah terjungkal menapaki jalan terjal, cinta yang tak lekang oleh waktu.  Cinta yang tak pernah redup cahayanya  dalam melintasi kegelapan kabut misteri ilahi.


Titik terang itupun nampak. Dari situ pula pembuktian kekuatan cinta dimulai. Oktober, 31 ini, mereka  mulai melangkah dalam panduan suluh cinta nan indah.


"Sayang, maaf kan aku. Tak ada pesta megah untuk dirimu. Mudah-mudahan kamu bahagia setelah pernikahan ini," kata pengantin pria itu kepada istrinya.  


Si pengantin wanita terlihat memeluk mesra suaminya. Di pipinya ada butiran-butiran air mata kebahagiaan.


Setelah diikrarkan cinta di rumah ibadah mereka kembali ke rumah tanpa resepsi.  Untuk menyenangkan hati sang istri, Umbu membawa Shinta ke sebuah bukit langganan mereka. Ia tak rela istrinya mendapat cibiran  tetangga karena keterbatasan mereka saat itu.


Umbu,  bukan orang miskin ia merana karena dikucilkan keluarga. Ia ditolak keluarga karena memilih wanita dari seberang sana. Ketulusan hati Shinta membuat Umbu rela ditolak keluarga besarnya. Mereka hanya diberi gubug tua di padang. Gubug yang biasanya di pakai para gembala saat menggembalakan kuda, sapi, atau kerbau. Selama ini mereka tinggal di padang dan hidup dalam keterbatasan selama proses menuju ke pelaminan.


"Sayang kamu tahu, aku sudah meninggalkan segalanya demi hidup bersama dirimu. Dan mulai detik ini aku akan selalu setia dan selalu ada bersama dirimu," janji Shinta.


"Ikutilah aku Shinta!"


"Kemana?" tanya Shinta.


"Pokoknya ikuti saja, sayang!" kata Umbu  sedikit memerintah.


Akhirnya Shinta pun menuruti ajakan Umbu.  Ia menggandeng  lengan Umbu mereka melangkah beberapa puluh meter ke arah bukit. Dan perlahan-lahan mulai kelihatan sebuah tenda kecil yang terbuat dari bahan-bahan alami. Atapnya dari pohon nyiur dan tiang-tiang tenda dari pohon kayu hutan. Di bawah atap tenda itu, Umbu sengaja membuat hiasan dari janur kuning.


Itu terlihat sangat indah dalam balutan alami.


Umbu sudah menyiapkan hadiah istimewa ini sehari sebelumnya.  Ia juga menyiapkan sebuah mahkota rajutan dari rangkaian bunga alam. Mahkota bunga ini akan dipersembahkan  untuk sang istri.


"Sayang, duduklah di kursi ini walau kursi pengantin kita ini hanya berupa tatakan kayu. Tapi kesungguhan cinta kita membuat segalanya menjadi indah. Biarlah alam yang menyaksikan kebahagian kita," ungkap Umbu dengan tatapan dalam ke arah Shinta.


Mendengar kata-kata itu, Shinta bangkit lalu memeluk erat Umbu. Mereka berdua tenggelam dalam kekuatan aliran cinta penuh bahagia. Walau tak ada kemegahan tapi  kebahagiaan mereka hadir dalam kesederhanaan.


Tak ada pula resepsi. Dan janji suci merekapun tak disaksikan oleh ribuan pasang mata.


"Duduklah sayang! Pejamkan matamu!"


"Dengar ya, sebelum ada aba-aba dariku, kamu tak boleh buka mata!" kata Umbu mengingatkan.


Terlihat Umbu mengambil sesuatu dari bawa kursi tatakan kayu itu.


Wow, terlihat seperti mahkota dari rangkaian bunga bakung dan edelweis. Cantik sekali warna dan bentuk mahkota itu. Ya, mirip cerita dari negeri dongeng.


Perlahan -lahan Umbu meletakkan mahkota itu tepat di kepala istrinya. Ia juga merapihkan rambut istrinya yang dihempas angin saat itu. Setelah itu ia mempersilahkan istrinya buka mata.


"Kamu cantik sekali sore ini. Kamu bagai bidadari, sayangku," puji Umbu.


Sang istri hanya menitikan air mata. Mereka saling berangkulan. Tak ada pujian, tak ada lagu pengiring pesta, tak ada tepuk tangan meriah. Yang ada hanya gemerisik dedaunan dan paduan kicauan  burung yang akan kembali ke peraduannya.  Semesta menyaksikan janji suci Umbu dan Shinta.


Hari mulai gelap. Udara makin dingin. Umbu dan Shinta menghabiskan hari bahagia mereka di tenda alam itu. Mereka belum berencana untuk kembali ke gubuk  tempat tinggal mereka.


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh deretan cahaya yang datang ke arah mereka. Makin lama makin dekat. Jumlah mereka cukup banyak.


"Umbu....Umbu. ..Umbu," ada suara memanggil-manggil nama Umbu dari dalam barisan manusia yang memakai lampu itu.


Tiga puluh menit berselang, segerombolan orang itu sudah berada di depan Umbu dan Shinta.  Mereka tak lain orang tua Umbu dan Shinta dan keluarga besar Umbu lainnya.  Tapi ada dua orang yang agak asing bagi Umbu dan Shinta.  Salah satunya maju dan mendekat Umbu, lalu menyalami kedua pengantin baru itu.


"Umbu dan Shinta, kalian berdua diterima di perusahaan Bapak. Bapak sudah baca cv kalian. Ternyata kalian berdua cerdas dan mantan mahasiswa berprestasi. Selamat untuk kalian berdua ya" uangkap pemilik perusahaan dari Jakarta itu.


Suasana tiba-tiba berubah. Seketika suka cita terjadi di "bukit cinta" itu kala kedua orang tua Shinta dan Umbu memeluk dan mencium kedua anak mereka yang hari itu resmi menjadi sepasang suami istri. Pesta sederhana pun terjadi di atas bukit. Lampu-lampu, obor, dan nyala lilin membaur menjadi terang indah yang membahagiakan. Teriakan, kayaka, menggema di memenuhi seantero bukit itu. Tarian adat yang sudah disiapkan dari keluarga Umbu makin meramaikan suasana malam itu.


Alam dan manusia telah menjadi saksi atas ketulusan cinta Umbu dan Shinta. "The power of love," kata si pemilik perusahaan dari Jakarta tadi.


Orang tua Umbu mengajak Umbu dan Shinta kembali ke rumah besar mereka. Dan pesta pun berlanjut di rumah keluarga besar Umbu. Dan setelah itu Umbu dan Shinta harus terbang ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan terkemuka di ibu kota negara Indonesia.


Umbu dan Shinta adalah sepasang suami istri yang selama masa pacaran di tentang oleh kedua orang tua  masing-masing karena pertimbangan budaya dan adat istiadat .  Karena ditentang makanya prestasi akademik yang mereka raih tak dikabari ke kedua orang tua mereka. Umbu harus bekerja keras karena ia harus membiayai kuliah pacarnya. Karena semua biaya kuliah Shinta  sudah hentikan oleh orang tuanya. Hal ini terjadi semenjak permintaan orang tua tak diindahkan oleh Shinta.


Mereka terbantu karena keduanya mendapatkan beasiswa prestasi. Sebagai mahasiswa saat itu mereka berdua berkomitmen untuk menuntaskan kuliah mereka. Pada akhirnya mereka di wisuda dengan predikat cum laude. Pada akhirnya Shinta memutuskan mengikuti Umbu ke Pulau Sumba.


Saat penerbangan ke Jakarta di atas pesawat Shinta berkata kepada suaminya:


Sayang, engkau telah membawa ku kemari. Sirih dan pinang telah membuat aku semakin jatuh cinta, bukan hanya pada dirimu, tapi pada batu besarnya, pada bukit-bukitnya, pada padang savananya.  


Kayaka dan tariannya telah menghentakan kesedihanku,  membangkitkan imajiku,  imajiku pada tanah leluhurmu, tanah leluhur kita.


Kelak aku akan kembali bersama kamu, suamiku. Dan akhir hidupku, kita akan beratapkan megalitik, rumah kita.


Ingat sayang, bukit dan padang savana itu adalah rumah cinta kita.*



No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!