Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com SMK, Kreativitas, Entrepreneurship dan Perlu Money Oriented! - unclebonn.com

Saturday, October 17, 2020

SMK, Kreativitas, Entrepreneurship dan Perlu Money Oriented!

Ilustrasi - Foto : psmk.kemdikbud.go.id

SMK tanpa kreativitas, tanpa jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan tanpa menghasilkan (uang) ibarat raga tanpa jiwa atau pribadi yang buntung secara sosial. Makanya kita masih menjumpai banyak lulusan SMK yang menganggur. Hal ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik tahun 2020. 


Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendominasi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 6,88 juta orang pada Februari 2020. Lulusan SMK menyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut pendidikan mencapai 8,49% - Okezone.com.


Dengan kondisi ini SMK yang notabene sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja siap pakai akhirnya kurang diminati atau sebagai second school: ketika calon siswa ditolak masuk ke SMK baru mereka memilih SMK. Dari laporan kepala sekolah dalam suatu pertemuan rata-rata minat masuk lulusan SMP ke SMK pada Tahun 2020/2021 menurun antara 25 - 40 %. Hal ini sebagai konsekuensi atas minimnya sosialisasi selama masa pandemik Covid-19 yang terjadi sejak bulan Maret 2020 lalu.


Menurut Evans dalam Djojonegoro (1999) seperti dikutib dari Silabus.org mendefinisikan bahwa pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya. 


Dengan pengertian bahwa setiap bidang studi adalah pendidikan kejuruan sepanjang bidang studi tersebut dipelajari lebih mendalam dan kedalaman tersebut dimaksudkan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Artinya ketika siswa SMK setelah  menamatkan pendidikan ia sudah dibekali kecakapan tertentu untuk bekerja pada bidang tertentu sehingga ia bisa hidup secara normal. Karena siswa SMK memiliki kompetensi atau keahlian tertentu. 


Masih dikutib dari Silabus.org bahwa kompetensi lulusan pendidikan kejuruan sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional menurut Depdikbud (2001) adalah : (1) penghasil tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaan IPTEK dengan bidang dari tingkat keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, (2) penghasil tamatan yang memiliki kemampuan produktif, penghasil sendiri, mengubah status tamatan dari status beban menjadi aset bangsa yang mandiri, (3) penghasil penggerak perkembangna industri Indonesia yang kompetitif menghadapi pasar global, (4) penghasil tamatan dan sikap mental yang kuat untuk dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan. Dikmenjur (2000) mengatakan bahwa hasil kerja pendidikan harus mampu menjadi pembeda dari segi unjuk kerja, produktifitas, dan kualitas hasil kerja dibandingkan dengan tenaga kerja tanpa pendidikan kejuruan.

Jadi pendidikan kejuruan adalah suatu lembaga yang melaksanakan proses pembelajaran keahlian tertentu beserta evaluasi berbasis kompetensi, yang mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja setingkat teknisi (Wakhinuddin S).


Namun realita bahwa tujuan SMK yang sudah termaktub dalam berbagai regulasi perundangan dan peraturan yang ditelurkan oleh pemerintah masih jauh panggang dari api. Dalam bahasa "koreksi" SMK sastra. 


Sebenarnya bahwa membangun SMK itu beda dengan membangun SMA. Karena SMK memiliki karakter berbeda dengan sekolah formal lainnnya. Apalagi kalau dalam sebuah SMK terdapat beberapa bidang keahlian dengan berbagai kompetensi keahlian sehingga diperlukan pemahaman secara utuh tentang keberagaman itu. Maka dari itu bahwa membangun SMK dibutuhkan SDM yang berkualifikasi dibarengi budget besar. Harus total dan serius sehingga hasilnya selaras dengan apa yang dicita-citakan. 


Perlu Adanya Lompatan Jauh Kedepan


Ini merupakan pemikiran radikal. Bahwa uang harus diganti dengan uang. Maksudnya begini pemerintah melalui lembaga pendidikan memberi dana hibah kepada peserta didik dan peserta didik harus mengembalikan dana tersebut dalam bentuk keuntungan usaha. Dengan cara apapun. Mau jadi kucing hitam atau kucing putih asalkan kucing itu bisa menangkap tikus. Dalam konteks ini dapat dikatakan pendidikan di SMK harus berorientasi bisnis kalau tidak mau disebut berorientasi uang atau money oriented. 


Pendidikan di SMK harus merubah mindset lama dengan pola pikir baru : dari pencari kerja ke pembuka lapangan kerja dari mentalitas buruh ke mentalitas manager atau pengusaha. 


Dalam programnya Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat meminta bahwa lembaga pendidikan kejuruan harus berkontribusi untuk PAD NTT. Artinya SMK perlu menggiatkan unit produksinya. Oleh karena itu para kepala sekolah beserta pendidik (guru) perlu memiliki persepsi yang sama tentang pengelolaan unit produksi. Dibutuhkan jiwa wirausaha. Jiwa wirausaha tanpa kreativitas itu mentok. Memiliki kreativitas dipadukan dengan  semangat wirausaha namun tanpa orientasi profitable itu bangkrut. Jadi diisi kepala selalu ada kata uang, uang dan uang. Sehingga semua komponen (guru, siswa dan kepala sekolah) punya oreantasi untung (profit oriented). Sehingga apa yang dicita-citakan oleh Gubernur NTT ini bisa terwujud. 


SMK yang selalu digambarkan dengan tawuran mesti sudah digeser dengan paradigma baru : manager madya. Tenaga kerja menengah yang terampil dengan kemampuan manajerial. Sehingga mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan yang 15 jam seminggu di sekolah benar-benar dioptimalkan. Dalam pembelajaran prinsip-prinsip manajemen menjadi kebiasaan bagi siswa dalam lingkungan sekolah. Siswa belajar membuat produk,  mereka memproduksi barang dan sampai pada tahap pemasaran prinsip manajemen sudah mesti ditanamkan. Mereka mendapatkan keuntungan (uang) melalui prinsip manajemen (P.O.A.C) dan evaluasi tentunya. 


Nah pada tahap ini diperlukan kepemimpinan yang visioner. Memiliki kemampuan kepemimpinan (quality of leadership) dan kemampuan manajerial (quality of managerial) sehingga kepala sekolah mampu membawa sekolah sesuai cita-cita pendidikan kejuruan atau dalam level sekolah mampu mewujudkan visi dan misi sekolah. Sehingga dalam pemilihan kepala sekolah tidak harus orang dalam atau harus orang kejuruan siapa yang memiliki visi SMK, kemampuan memimpin dan kemampuan manajerial dia bisa menjadi kepala sekolah.*


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!