Rambu Bagian 1 & 2
Hujan masih betah mengguyur bumi pertiwi siang itu, membasahi tanah yang kerap dijuluki sebagai negeri kemarau panjang. Di pulau ini, napas alam terasa keras; bukit-bukit batu yang kering dan hembusan angin muson membentuk karakter manusianya menjadi jiwa-jiwa kreatif yang pantang menyerah.Inilah Sumba—tanah yang merawat adat dengan sangat kental, tempat di mana pekik Pasola bergema, rumah-rumah menara berdiri megah menantang langit, dan wangi kayu cendana pernah menjadi primadona dunia.
Di balik pagar batu sebuah rumah menara di pelosok pulau, duduklah seorang gadis remaja. Jemari lentiknya menari lincah di antara benang-benang pada alat tenun. Sebuah kain bermotif besar dengan perpaduan warna merah, kuning, dan hijau mulai menampakkan keindahannya. Tanpa bantuan sang nenek, ia menyatukan helai demi helai benang itu dengan satu tujuan: untuk seseorang yang telah mencuri tidurnya. Seseorang yang hadir membawa mimpi-mimpi indah tentang masa depan; seorang pemuda kota yang datang membangun asa di dekat desanya.
Sambil merapatkan benang, ingatan Rambu melayang pada pertemuan pertama mereka di persimpangan jalan tepat di depan rumahnya. Saat itu, sang pemuda turun dari mobilnya, mendekat ke arah Rambu yang sedang menapis beras di halaman.
"Maaf, saya mau tanya. Tanah yang akan dibangun perusahaan itu letaknya di mana, ya?" tanya pemuda itu ramah.
Rambu menghentikan gerakannya sejenak. Debar jantungnya tiba-tiba saja tidak beraturan. "Di sebelah rumah menara ini ada kali. Tanahnya tepat di seberang kali itu," jawab Rambu malu-malu sambil menunjuk arah.
"Baik, terima kasih," balas sang pemuda singkat sebelum kembali ke kemudinya.
Rambu terpaku, matanya tak lepas menatap mobil yang mulai menjauh. Namun, secara mengejutkan, mobil itu berhenti lalu bergerak mundur tepat di hadapannya. Rambu sampai lupa pada tampah beras di tangannya.
"Maaf, boleh saya tahu nama kamu siapa?" tanya pemuda itu lagi melalui kaca jendela.
"Sa... saya..." Rambu gugup. Lidahnya mendadak kelu.
"Rambu! Bawa masuk beras itu!" Suara tegas sang nenek tiba-tiba memecah suasana.
"Cepat masuk!"
Tanpa berani menoleh lagi, Rambu bergegas masuk mengikuti langkah neneknya. Di dalam rumah, suasana mendadak dingin.
"Kau harus ingat, Ambu," tegur neneknya dengan nada yang tak bisa dibantah. "Kau harus menikah dengan laki-laki dari suku kita sendiri. Jika ada yang meminangmu dari suku kita, kau harus menerimanya."
Nenek mengambil paksa tampah beras dari tangan Rambu, meninggalkan cucunya yang hanya bisa terdiam membeku.
Empat bulan telah berlalu sejak pertemuan singkat itu, namun rasa penasaran masih merantai hati Rambu. Hingga hari yang dinanti pun tiba: perayaan Pasola.
Pasola bukan sekadar permainan rakyat. Ini adalah ritual suci Marapu, sebuah pertempuran di atas punggung kuda di mana dua kubu saling melempar sola—lembing kayu—dengan kecepatan tinggi. Di arena ini, darah yang tumpah tidak dianggap sebagai perkara hukum, melainkan simbol kesuburan dan berkah dari dewa bagi tanah Sumba.
Rambu, yang akrab disapa Ambu, berdiri di antara kerumunan. Matanya liar mencari sosok yang mendiami pikirannya selama empat bulan terakhir. Menonton Pasola hanyalah alasannya agar diizinkan keluar rumah oleh sang nenek.
"Ambu, dia datang tidak?" bisik Erli, salah satu sahabatnya.
"Aku belum melihatnya. Kalau hari ini dia tidak muncul, aku tidak akan menunggunya lagi," jawab Rambu, meski hatinya berkata lain.
"Dia pasti datang! Orang kota biasanya sangat antusias menonton Pasola," Daisy mencoba memberi semangat.
"Itu! Dia sudah datang!" seru Novi tiba-tiba.
"Mana, Novi?" Rambu menoleh dengan semangat yang meledak.
"Itu, Kabizu Lahi Pangabang!" jawab Novi lebih bersemangat lagi.
Rambu, Erli, dan Daisy hanya bisa saling pandang lalu tersenyum kecut. Mereka lupa kalau Novi mema…
Rambu masih terpaku di tempatnya berdiri. Jemarinya meremas pinggiran kain tenun motif besar yang ia dekap erat di dada. Tekstur benang yang kasar dan aroma pewarna alami dari kain itu entah bagaimana memberi sedikit kekuatan pada kakinya yang terasa lemas. Di belakangnya, ketiga temannya hanya saling lirik, seolah tak berani memecah keheningan yang menyelimuti Rambu.
Dengan napas yang sedikit tertahan, Rambu melangkah. Setiap langkah menuju pemuda kota itu terasa seperti meniti seutas benang di ketinggian. Di samping pemuda itu, seorang gadis cantik berdiri dengan anggun. Cemburu? Mungkin. Tapi rasa penasaran Rambu jauh lebih raksasa.
"Maaf..." suara Rambu hampir tercekat di tenggorokan. Ia berdeham kecil, mencoba mencari sisa keberaniannya.
"Kamu... masih ingat saya? Saya Rambu, yang waktu itu..."
"Tentu," potong pemuda itu cepat, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang tegas.
"Gadis yang menapis beras di rumah menara, dekat lahan yang akan kami bangun perusahaan, kan?"
Rambu merasa oksigen seolah berebut masuk ke paru-parunya. Dia ingat!
"Saya Ryan," lanjut pemuda itu, lalu menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Dan ini Rini, adik saya."
Seketika, beban berat yang menghimpit dada Rambu luruh begitu saja. Adik. Kata itu terdengar seperti musik yang paling merdu di telinga Rambu. Langit Wanukaka yang tadinya terasa terlalu terik, mendadak jadi lebih bersahabat.
"Kakakku sering cerita," Rini menimpali dengan suara ceria yang jujur.
"Katanya, gadis-gadis Sumba itu cantik, dan yang paling cantik adalah gadis yang dia lihat sedang menapis beras di depan rumah menaranya. Hari ini, melihatmu langsung, aku tahu Kak Ryan tidak melebih-lebihkan."
Wajah Rambu memanas. Ia yakin pipinya sekarang sudah semerah benang mengkudu pada kainnya.
"Ah, tidak..." gumamnya malu-malu, menunduk untuk menyembunyikan senyum yang tak bisa dibendung.
"Kami belum punya banyak teman di sini," sambung Rini lagi.
"Kalau tidak keberatan, maukah kamu jadi teman kami?"
"Iya, saya mau," jawab Rambu. Singkat, tapi matanya berbinar terang.
Ryan yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya bersuara.
"Sebenarnya, Rini sedang menulis buku tentang Sumba. Kalau kamu punya waktu, bolehkah kami bertanya-tanya tentang budaya di sini?"
"Tentu, saya pasti bantu," jawab Rambu mantap.
"Ambu! Ayo kesana!" Teriakan Erli dari seberang jalan memecah momen itu.
Rambu menoleh, melihat teman-temannya sudah melambai-lambai tidak sabar.
"Saya harus kembali ke teman-teman saya," ujar Rambu.
Ia menunduk sebentar, lalu dengan gerakan cepat—seolah takut keberaniannya menguap—ia menyodorkan bingkisan kain tenun itu kepada Ryan. "Dan... ini untukmu."
Ryan tampak terperanjat. "Untuk saya?"
"Iya, saya buat ini khusus untukmu," jawab Rambu, suaranya sedikit bergetar namun penuh penekanan.
Ryan menerima bingkisan itu dengan tangan yang ragu-ragu, matanya menatap Rambu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkejut dan kagum. Rini di sampingnya hanya tersenyum penuh arti.
"Terima kasih banyak. Saya... saya tidak tahu harus membalas apa," kata Ryan tulus.
"Tidak usah dibalas. Kamu terima saja saya sudah sangat senang," sahut Rambu polos.
Ia memberikan anggukan pamit, lalu berbalik pergi dengan langkah yang terasa ringan, seolah ia baru saja memberikan separuh hatinya dalam bingkisan kain itu.
Di seberang jalan, teman-temannya langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Namun, sebelum Rambu sempat menjawab, suara bum... bum... bum... yang dalam dan bertenaga mengguncang udara.
Bunyi tambur adat itu bukan sekadar suara; ia adalah detak jantung tanah Sumba. pertanda upacara Kajalla telah usai. Ayam-ayam telah disembelih, ramalan telah dibaca, dan kini, pintu arena Pasola telah terbuka lebar. Ketupat-ketupat adat mulai dibagikan, menandakan perang tanding suci akan segera dimulai.
Matahari Wanukaka hari itu seperti sedang bermain petak umpet. Cahayanya menyiram padang Lahi Hagalang, namun sesekali awan mendung turun mengirimkan rintik hujan yang membawa aroma tanah basah dan keringat kuda. Ribuan orang menyemut, menciptakan gelombang manusia dari berbagai penjuru dunia.
Rambu dan ketiga temannya terseret di tengah hiruk-pikuk itu. Di tengah arena, debu membubung tinggi saat kuda-kuda yang didandani meriah mulai dipacu. Pekik keberanian para penunggangnya bersahutan dengan sorakan penonton. Lembing-lembing kayu melesat di udara, menciptakan tarian bahaya yang memukau. Namun, di tengah keriuhan itu, pikiran Rambu tetap tertinggal pada sentuhan tangan Ryan saat menerima kain tadi.
Sore merayap perlahan. Lelah mulai menggelayuti pundak mereka.
"Ayo pulang, sebelum bis terakhir lewat," ajak Erli.
Mereka berjalan menjauhi arena, menuju jalan raya yang mulai sepi. Namun, hingga matahari hampir tenggelam di cakrawala, tak satu pun bus terlihat. Hanya suara jangkrik dan tawa kecil mereka yang memecah sepi.
"Mungkin sopir bis nya masih nonton Pasola," canda Daisy, membuat yang lain tertawa getir.
Tiba-tiba, sebuah suara mesin mendekat. Cahaya lampu mobil membelah remang senja. Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Kaca jendela turun, menampakkan wajah yang membuat jantung Rambu kembali melakukan lompatan kecil.
"Mau pulang? Ayo naik, saya antar kalian," ajak Ryan.
Rambu sempat ragu. "Terima kasih, biar kami tunggu bis saja..."
"Bis tidak akan lewat jam begini, Ambu!" celetuk Novi cepat, membuat Rambu melotot kecil.
Rini menjulurkan kepalanya dari jendela. "Anggap saja ini balasan untuk kain cantik yang kamu berikan tadi. Ayo, jangan nolak."
Rambu berdiri mematung di pinggir jalan. Debu tipis dari ban mobil Ryan masih melayang di udara. Haruskah ia ikut? Malu rasanya jika langsung mengiyakan, tapi tatapan Ryan seolah mengunci kakinya agar tidak beranjak ke mana pun kecuali masuk ke dalam mobil itu.



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!