Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Hijrah Cinta Tanpa Batas - unclebonn.com

Tuesday, August 10, 2021

Hijrah Cinta Tanpa Batas

https://www.unclebonn.com/2021/08/hijrah-cinta-tanpa-batas.html

Ketegaran hati lelaki paruh baya itu akhirnya runtuh juga. Air matanya berderai membasahi pusara kuburan itu. Kubur dari mendiang istrinya


Sepengetahuan orang-orang, istrinya meninggal dunia dua tahun lalu. Meninggal karena penyakit menahun yang tak tertolong lagi. Ia meninggal dan saat dikebumikan tak didampingi oleh suaminya. Karena disaat itu suaminya dipenjara oleh suatu kasus tindak pidana kejahatan. 


Baca Juga : Hari Ini Adalah Cinta


Lelaki empat puluh tahunan itu memeluk erat pusara kubur istrinya. Ia yang dikenal sebagai preman jalanan, sadis dan tak kenal kompromi pada musuh-musuhnya kali ini bagai pria tak berdaya, lemah dan tanpa harapan. 


Sudah beberapa jam ia duduk lesuh di kuburan istrinya. Padahal maghrib telah tiba. Dia seperti ingin mencurahkan segala dosa dan kesalahan masa lalu saat itu.


Tiba-tiba sepasang tangan memeluk laki-laki itu dari belakang. Disusul sepasang tangan mungil lainnya. Suasana menjadi makin haru. Dua pasang tangan itu adalah harta terindah buah perkawinan dengan mendiang istrinya. Seorang gadis remaja dan seorang anak berusia balita. Mereka hadir untuk mengajak ayahnya kembali ke rumah.


Baca Juga : Ku Cinta Caramu


“Ayah, ayo ayah kita pulang!” kata gadis remaja itu. 


Namun ayahnya tetap membisu. Si kecil akhirnya menangis entah apa sebabnya. Yang jelas malam telah meliputi lokasi kuburan yang tak bercahaya itu.


Pria itu akhirnya bangkit lalu memeluk kedua anaknya dan mengajak mereka pulang.


“Nak, ayo kita pulang karena malam makin pekat!”. 


Mereka pun kembali ke rumah namun si bontot dalam gendongan ayahnya.


Hari ini adalah hari pertama lelaki itu bebas dari sel tahanan. Setelah mendekam di penjara kurang lebih tiga tahun karena kasus pembunuhan. Ia dan beberapa teman geng-nya dituduh telah membunuh seorang pimpinan perusahaan. 


Baca Juga : Cinta Yang Mendamaikan


Dan proses hidup yang keras sampai kematian istrinya membawa lelaki itu menemukan secercah harapan tentang damai dalam kehidupan. Ia harus hijrah. Meninggalkan masa lalunya yang kelam. Ia harus tahu tentang makna cinta, kasih sayang dan perhatian. Kini ia akan menapakinya selangkah demi selangkah jalan hidup baru.


Ia lalu merebahkan badannya di sofa ruang tamu. Ia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya pelan. Mata laki-laki itu tiba-tiba menemukan bingkai foto nikahnya. Seketika air matanya kembali menetes. 


Ia tahu betul betapa setia istrinya. Menerima dia apa adanya. Malam itu memori indah masa lalu kembali menguak. Ia melangkah perlahan ke kamar tidur mereka. Semua tertata rapih. Pernak pernik pemberiannya kepada sang istri tertata rapih. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir ia memberi pesan agar kamar itu dikunci sampai suaminya kembali ke kamar jika ada keperluan penting tanpa merubah isi dalam kamar itu.


Baca Juga : Aura Jubahmu Menggetarkan Jiwaku (Cerita Tentang Seorang Ibu Muda Yang Jatuh Cinta Dengan Pastornya)


“Ayah, mama melakukan ini semua untuk menyambut kedatangan papa,” kata putrinya sambil memeluk ayahnya erat.


Tanpa berkata apa-apa ia merangkul kedua anaknya.


“Anak-anakku. Mulai saat ini papa akan senantiasa menjaga kalian sama seperti ibumu merawat kalian. Papa mu akan menjadi pembela kalian,” gumamnya dalam hati.


Baca Juga : Mistikus Cinta


Tiba-tiba anak gadisnya menyodorkan amplop putih itu kepada ayahnya. Tanpa bertanya amplop itu dibuka dan dibacanya.


“Suamiku dalam sakit yang tak tertahankan ini pesanku hanya satu kamu mesti hijrah dengan cintamu padaku tanpa batas seperti janjimu padaku bahwa anak-anakmu kelak tidak akan mengikuti jejak ayahnya. Jaga dan didik mereka seperti janjimu padaku. Teriring salam dan cintaku yang tanpa batas, Hana.” 


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!