Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Membaca Kegelisahan Hati Denny Siregar - unclebonn.com

Saturday, November 14, 2020

Membaca Kegelisahan Hati Denny Siregar

https://www.unclebonn.com/2020/11/membaca-kegelisahan-hati-denny-siregar.html

Pegiat media sosial mana yang tak kenal dengan Denny Siregar? Apalagi mereka yang suka dengan masalah politik, masalah kebangsaan di tanah air. Ia memiliki nama lengkap Denny Zulfikar Siregar. Bang Denny begitu ia disapa oleh para pengikut setianya.


Denny Siregar kerap dicap sebagai buzzer social media (sosmed) bahkan dicap buzzer-nya pemerintahan dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Dia adalah penulis yang tak sungkan menguliti habis siapa saja yang dianggapnya sebagai kaum intoleran. Kaum yang menentang kebhinekaan. Kaum radikal atau orang-orang yang berbeda paham atau ideologi dengan dirinya. Atau sekelompok orang yang ingin merongrong Pancasila yang ingin menggantinya dengan faham-faham lain.


Denny Siregar bukan orang baru dijagat media sosial. Keterlibatannya sudah sejak tahun 2012 seiring masifnya angka pengguna teknologi jejaringan sosial. Atau dimana social media dipakai sebagai media atau sarana kampanye. Tulisan-tulisan Denny Siregar sering viral saat membahas sesuatu topik yang sedang trending. Ia kerap dihujat bahkan diancam dibunuh. Katanya bully-an, caci maki itu seperti sarapan pagi.


Nama Denny Siregar juga sempat viral beberapa bulan lalu ketika identitas dirinya terbongkar melalui peretasan SIM-card yang ia gunakan. Akhir ia melaporkan salah satu vendor operator seluler agar bisa diproses secara hukum. Namun sampai saat ini kasus Denny Siregar sepertinya menguap begitu saja. 


Namun bukan itu yang akan kita bahas. Yang kita bahas adalah mengenai tulisan-tulisan Denny Siregar dalam seminggu terakhir ini. Kalau kita baca dan simpulkan DA mengalami kegelisahan yang mendalam bahkan dicap sedang paranoid. Hal ini dimulai sejak tibanya imam besar FPI Habib Rizieq Shihab sehingga terjadi kemacetan besar, penundaan penerbangan sampai terjadi pengumpulan massa di masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di DKI Jakarta. 


Menurut Denny Siregar, Presiden Joko Widodo dianggap mulai luntur pengaruhnya sementara itu aparat keamanan dianggap bimbang untuk bertindak. Benarkah demikian? Mari kita bahas satu persatu tulisan yang dimuat Denny Siregar pada laman resmi facebooknya.


Membaca Kegelisahan Hati Denny Siregar


Pertama, Rizieq Pulang, Aparat Bimbang ditulis oleh Denny Siregar pada tanggal 10 November 2020 pukul 21: 25 WIB.


Ia menyoroti bahwa banyak massa yang datang ke bandara Soekarno-Hatta saat menyambut kedatangan Habib Rizieq Shihab namun pengamanan disana sangat longgar. Akibatnya jalan macet total termasuk pilot dan pramugari harus berjalan kaki dan penerbangan harus dijadwa ulang. Padahal yang datang satu orang. Yang dimaksud DA adalah Habib Rizieq Shihab.


"Dimana negara?"

"Kenapa negara seperti tidak hadir mengamankan simbolnya yang sekelas bandara?" Tulis Denny Siregar. 


Denny Siregar sebagai pegiat sosial media pasti punya referensi bahwa kondisi ini sungguh sangat mengganggu ketertiban umum. Fasilitas sekelas bandara internasional Soekarno-Hatta jika terjadi apa-apa maka runtuhlah nama Indonesia dimata dunia. Ini juga terkait masalah  ekonomi. Dengan adanya penundaan maka berapa kerugian yang diterima oleh negara (perusahaan BUMN). Secara individu penundaan penerbangan ini tentu merugikan para penumpang. Lalu bagaimana nanti jika semua ormas (organisasi masyarakat) melakukan hal yang sama?


Kondisi yang “bimbang” ini sangat mengkuatirkan Denny Siregar secara personal. Apalagi dia seorang pegiat sosmed yang kerap bersuara lantang kepada ormas radikal berbaju agama itu. Jika suatu saat kelompok ormas ini berkuasa bisa jadi Denny Siregar menjadi korban kebrutalan mereka.   


Kedua, Pak Jokowi Belajarlah pada Suriah (11 November 2020 pukul 18.58)

Menurut DS kondisi Suriah hampir sama dengan Indonesia, Sebuah negeri  yang indah dan masyarakatnya toleran sebelumnya. 


Sebelum perang tahun 2011, sebenarnya sudah muncul banyak ormas agama, terutama dari Islam Sunni yang mencapai 60 persen dari agama masyarakat di sana. Rakyat Suriah tidak begitu perduli, mereka sibuk dengan hari-harinya dan menganggap, "Ah, itu biasa.."  

Situasi di Indonesia, menurut DS, punya pola yang mirip dengan Suriah. Suriah punya jalur pipa gas, kita punya Nikel. Itu kekayaan yang sedang diincar oleh banyak negara. Bisa saja negeri lain memanfaatkan ormas-ormas itu. 

Denny Siregar meminta agar pemerintah belajar dari Suriah! Dengan mengambil langkah-langkah hukum.

“Kapan pemerintah kita belajar ? Tidak cukupkah cerita Suriah, Libya, Afghanistan menjadi pelajaran ?” Sebuah pertanyaan kritis dari Denny Siregar.

Menurut Denny Siregar membiarkan bahkan memelihara kelompok fanatik berbaju agama itu, bukan ketenangan yang didapatkan, malah kehancuran. Merekalah sesungguhnya para pembuat kerusakan.


Pemerintah setidaknya perlu memperhatikan kegelisahan DS ini. Bisa jadi dalam konteks ini Presiden Joko Widodo dan jajaran punya pertimbangan lain. Mungkin karena masa Covid-19. Masih dalam masa transisi.  Daripada gaduh dan mengganggu iklim ekonomi, ya sudahlah, selagi masih dalam batas yang wajar. Mungkin!


Ketiga, Fenomena Nikita, Hilangnya Figur Negara (14 November 2020)


Sikap diam pemerintahan Joko Widodo kemudian oleh Denny Siregar disandingkan dengan keberanian Nikita Mirzani seorang artis yang penuh kontroversi itu. Ini gegara Nikita dianggap menghina Habib Rizieq Shihab. 

Peristiwa ini bermula saat Nikita membuat video di Instagram Stories dan mengeluhkan ramainya orang yang menjemput kepulangan Habib Rizieq. Ia pun mengatakan nama Habib adalah tukang obat


"Gara-gara Habib Rizieq pulang sekarang ke Jakarta, penjemputannya gila-gilaan. Nama habib itu adalah tukang obat. Screenshot! Nah nanti banyak nih antek-anteknya mulai nih, nggak takut juga gue," ungkap Nikita di Instagram Stories kala itu.


Lantaran ucapannya itu juga, Nikita Mirzani diminta untuk menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. Bahkan, Ustaz Maaher At-Thuwailibi mengaku akan mendatangkan 800 orang ke rumah Nikita Mirzani dan menuntut permintaan maaf.


Lewat unggahannya di Instagram. Tulisan panjang itu diunggah bersamaan dengan video ancaman dari Maheer At-Thuwailibi.


"Yukkk bawa deh tuh 800 orang itu sekalian kita makan bakso bareng. Gue open house. Dan jangan lupa bawa KTP. Gue mau kasih hadiah untuk rumah terjauh," tulis Nikita Mirzani.


Perseteruan Nikita Mirzani dengan pendukung Habib Rizieq bagi Denny Siregar sebagai sebuah fenomena, dimana tiba-tiba saja sosok Nikita sebagai “pahlawan.” Denny Siregar punya alasan sendiri. 


“Ketika Rizik pulang, banyak orang gelisah bukan karena kepulangan Rizik, tapi karena lemahnya aparat kita dalam penanganannya. Apalagi melihat begitu bebasnya pendukung Rizik menguasai objek vital negara sekelas bandara, yang kalau kita bercanda tentang bom saja langsung ditangkap."


Kenapa aparat lemah ? Kenapa negara diam saja ? Kenapa tidak ada tindakan apapun ? Apakah benar bahwa kelompok fanatik itu sebenarnya sudah berkuasa ?” Ungkap Denny Siregar melalui tulisannya.


Denny Siregar gilasah seakan saat ini negara kehilangan figur yang  kuat. Menurutnya figur Jokowi pun semakin kesini semakin padam. Bangsa Indonesia tidak memiliki lagi figur kuat seperti Soekarno. 


"Saya gelisah. Bangsa ini kehilangan figur. Bahkan figur Jokowi pun semakin kesini semakin padam. Iya beliau membangun infrastruktur. Tapi kalau kelompok fanatik itu berkuasa, semua infrastruktur itu bisa hancur. Seperti Suriah."


"Karena tidak ada figur yang kuat, yang berani muncul seperti Soekarno, yang berani keras seperti Soeharto, figur itu kemudian diisi oleh pemeran antagonis seperti Rizik. Dan beberapa hari ini berita selalu tentang dia. Muak lihatnya, tapi banyak yang tidak berdaya." Jelas DS lagi.


Keempat, Ketika Suara Hanya Satu-Satunya Senjata (14 November 2020) 


Denny Siregar mengakui mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa dirinya sedang paranoid. Namun jika jika kita tarik benang merahnya Denny Siregar meminta agar Pemerintahan Joko Widodo perlu waspada dan berani bersikap tegas kepada setiap orang (warga negara) yang tidak tertib dan tidak taat hukum.  Ormas-ormas yang radikal dengan memakai jubah agama harus ditindak tegas. 


Denny Siregar juga meminta kaum-kaum terpelajar harus bergerak jangan hanya berdiam diri. Seperti yang sering diungkapkan Denny Siregar ketika kezaliman menguasai maka mereka akan mengincar orang-orang terpelajar. Karena bagi kaum bar-bar orang-orang pintar, orang baik adalah ancaman bagi mereka.  Musuh mereka. 


Seperti kata Denny Siregar dalam tulisannya hari ini, “….dalam situsi tertentu saya selalu ingat nasihat bijak ini.”

"Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tetapi karena diamnya orang-orang baik ."


“Bersuaralah, jika itu satu-satunya senjata kita.” Pesan Denny Siregar.*

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!