Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Jalan Panjang Sang Pangeran - unclebonn.com

Monday, July 6, 2020

Jalan Panjang Sang Pangeran

Ilustrasi : Pixabay.com

Siang itu udara sangat panas namun begitu terik mentari tak mampu menghalangi langkah pemuda itu. Langkahnya begitu lincah menuju hutan untuk sekedar mencari kayu bakar. Pria muda nan tampan ini bernama Azka. Sehari-hari pekerjaan pria ini membantu ibunya menjual kayu api. Jika tidak, ia akan berburu. Ia jejaka baik. Banyak bunga desa sebenarnya menaruh hati kepada Azka dan kerap menggodanya. Namun Azka menganggap biasa saja. Bagi Azka mereka sebagai teman dan tidak lebih. Azka memiliki wajah tampan bak pangeran. Tubuhnya juga kekar. Konon katanya Azka memiliki ilmu kanuragan yang memang dianugerahi sejak lahir. Soal itu hanya Ibu Azka yang tahu.

Tapi kali ini ibunya harus ke kota. Azka mesti menggantikan ibunya ke hutan mencari kayu bakar agar dua hari berikut kayu itu bisa dijual. Biasanya mencari kayu bakar merupakan pekerjaan ibunya. Karena tugas utama Azka berburu. Tapi kali ini tidak. Azka harus menggantikan ibunya. Mereka benar-benar hidup dari berjualan kayu bakar dan berburu. Membantu ibunya bagi Azka adalah kebanggaan.

Terik memang. Namun langkah kakinya begitu lincah menyusuri jalan setapak ke arah hutan. Jika ada rumput atau dahan yang menghalangi langkahnya ia tebas dengan parang yang ada di tangannya. Hutan lebat tujuannya disaat musim panas menyediakan banyak kayu  kering sehingga tak butuh banyak waktu untuk  memilih dan mengumpulkan kayu-kayu kering itu. Sejam berselang kayu kering sudah terkumpul. Kayu kering ini kemudian diikat untuk dibawa ke rumah.

Situasi berubah. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara dari kejauhan. Azka berhenti sejenak dari kesibukannya lalu memastikan suara itu. Kemudian ia berusaha mendekat ke arah sumber suara yang didengarnya tadi. Makin dekat suara itu makin jelas. Tak disangka sumber suara ternyata ada sesosok makhluk berwujud manusia seukuran jempol tangan orang dewasa lebih sedikit besarnya. Wajahnya bagai boneka. Makhluk itu memiliki paras yang amat cantik. Pada bagian punggung terdapat dua sayap seperti sayap kupu-kupu berwarna sejernih air pegunungan.

Si Azka terdiam sesaat dan merasa ganjil dengan penampakan yang ada di depannya. Ia terus mengamati makhluk aneh itu. Makhluk mungil ini terperangkap pada jaring laba-laba. Beberapa jengkal lagi makhluk aneh ini akan digigit laba-laba beracun yang berada dalam jaringnya. 

Melihat gerakan laba-laba tadi secepat kilat Azka mengambil sebatang kayu lalu memukul laba-laba yang siap menyengat dan menyemprotkan bisanya ke dalam tubuh mungil gadis ini.  Laba-laba beracun itu terhempas dari sarangnya. Dan makhluk aneh itu diambil Azka. Saat makhluk itu berada dalam genggaman Azka sontak terjadi konfigurasi nan ajaib.

Tampaklah seorang gadis jelita sudah berdiri di hadapan Azka. Ia laksana bidadari. Seketika itu pula beberapa gadis yang tak kalah cantik turut hadir bersama gadis peri itu. Mereka tak lain pengawal gadis yang sudah diselamatkan oleh Azka. Bagi Azka ini seperti kisah yang biasa didongengkan oleh ibunya.

"Terima kasih atas bantuannya, Kanda. Jika kakanda tidak segera datang dan mengeluarkan aku dari jaring laba-laba ini mungkin saja aku akan hidup dengan membawa cacat di tubuhku," kata gadis itu sembari menatap dalam kepada pria yang berdiri depannya.

Azka masih dalam kondisi setengah sadar. Mungkin dirinya masih berada di alam bawa sadar. Sehingga ia tak mampu menggunakan akal sehatnya untuk berkata-kata apalagi menanggapi ungkapan terima kasih dari bidadari cantik di depannya.

"Namaku Maheswari. Putri kerajaan Astana Pitaloka negeri para peri," katanya memperkenalkan diri.

"Saya Azka,  saya tinggal tidak jauh dari hutan ini. Anak dari seorang perempuan penjual kayu bakar," jawabnya.

Terlihat, Maheswari masih terus menatap dalam pria desa ini.  Pria muda yang sudah menyelamatkan dirinya dari sengatan laba-laba beracun. Sungguh sesuatu yang mulia. Sang bidadari seperti terpesona dengan keberadaan pria desa ini. Baginya Azka bukan pria desa biasa. Bisa saja seorang pria misterius. Dengan busur ditangan di bahu menyandang anak panah Azka  terlihat begitu gagah.

"Pria ini sepertinya bukan pria desa biasa. Saya merasakan aura darinya begitu luar biasa," aku Maheswari dalam hati.

Tiba-tiba Maheswari mengeluarkan sesuatu dari balik jubah yang biasa dikenakan putri kerajaan. Jubah wanita peri ini didominasi warna putih dengan bagian sulaman keperak-perakan dan tampak semakin indah dengan sulaman ornamen bunga. Pada rambut wanita ini diselipkan butiran permata dengan untaian bunga melingkari kepalanya.

"Terimalah benda ini sebagai tanda terima kasihku, kakanda" ucap Maheswari sambil menyodorkan benda itu ke tangan Azka.

Dengan ragu-ragu Azka menerima pemberian putri peri itu. Sebuah benda berbentuk prisma. Dan benda itu mengeluarkan cahaya. Cahaya khas yang lembut berpenndar dari batu prisma itu.

Batu prisma yang ukurannya bisa digenggam ini berasal dari dunia para peri. Kekuatannya  bersumber dari energi para peri yang berkorban nyawa. Energi gaibnya akan mencari orang-orang baik dan tulus untuk dijadikan pemiliknya. Bentuknya unik dan disisinya terdapat gambar bunga surga yang biasa ditanam di depan istana kerajaan peri. Batu prisma ini menebarkan aroma wangi yang mampu membuai orang-orang yang mencium baunya. Aroma dari yang bersumber dari batu prisma ini secara tidak sadar mampu menaklukkan musuhnya.

Dari tutur para tokoh adat setempat bahwa batu prisma itu adalah batu abadi milik peri. Batu itu akan membawa peri melewati ribuan tahun dan musim. Biasanya batu prisma ini dikalungkan pada leher peri namun lebih banyak peri menaruh dibalik jubah mereka. Jika batu itu diberikan kepada orang lain maka usia peri tak akan mencapai ribuan tahun bahkan dia akan mengikuti laju hidup manusia dan berujung pada kematian tanpa inkarnasi. Jika batu itu diberikan kepada seseorang maka akan mendatang keberuntungan atau nasib baik. Dan kalau diberikan kepada seorang jejaka muda melambangkan cinta sejati dari sang pemiliknya.

Namun Azka tak pernah mengerti soal batu itu. Padahal dengan menerima batu prisma tersebut dia sudah mulai jalan baru kehidupannya yang selama ini menjadi rahasia.

Bagi Maheswari sendiri tindakannya ini adalah ancaman bagi dirinya. Batu prisma ini mestinya tak boleh diberikan kepada siapapun. Kecuali atas seijin ratu peri. Kalau ingin diberikan kepada manusia mestinya melalui upacara sati. Itu pun diberi kepada manusia terpilih. Korbannya peri dari pegawai kerajaan bukan dari kalangan keluarga istana.

Maheswari sadar akan hal ini bahwa setiap keputusan akan menimbulkan masalah bagi dirinya.

Tiba-tiba peri itu mengeluarkan suara seperti  menyanyikan sajak balada kehidupan. Beberapa penggal sajak kasmaran terdengar jelas.

"Purnama pertama datanglah  ke telaga tirta. Disana para bidadari akan turun menikmati wangi bunga melati dan edelweis. Datanglah di setiap purnama pertama. Di sana ada keabadian cinta selalu ada bersamamu. Jangan kau tinggalkan prisma berlian itu. Bawalah dia seperti setiap tarikan napasmu."  Itulah kata-kata terakhir dari Maheswari.

Tak lama berselang Maheswari dan pengawalnya lenyap dari hadapan pemuda itu. Batu prisma yang ada dalam genggaman Azka tiba-tiba cahayanya meredup dan mati.

Kejadian ini semakin membuat Azka heran. Tak sehari berada di hutan ia sudah ditimpa serangkaian kejadian aneh. Kejadian yang tidak bisa dia terima dengan akal sehat.

Dalam kebingungan menerpa ia sadar bahwa ada sebuah benda  dalam genggamannya. Benda misterius itu menyimpan beribu rahasia kehidupan tentang cinta, perjuangan, nasin dan kematian.  

Malam ini di langit timur akan dihiasi purnama pertama. Tapi dimanakah letak Telaga Tirta? Apakah benar di telaga itu dipakai sebagai tempat pemandian para bidadari khayangan?  Apa hubungannya dengan batu prisma dengan dirinya?

Itulah beberapa pertanyaan yang sering menghantui alam pikiran Azka beberapa minggu terakhir. Sebagai pria dewasa ia mulai merasakan getaran asmara pada wanita peri itu. Ia terpesona mengenang wajah cantiknya. Di masa kecil dulu ibunya sering mendongengkan cerita tentang seorang pangeran yang jatuh cinta dengan seorang bidadari dari khayangan. 

Namun cinta mereka kandas karena alam mereka berbeda. Karena kecewa pangeran itu memutuskan meninggalkan kerajaan dan menjadi pengelana. Keluarga kerajaan sampai hari ini tidak tahu bagaimana nasib si pangeran kerajaan itu. Dikatakan bahwa pangeran itu hidup berkelana di tengah hutan berteman makhluk penghuni rimba yang tak jauh dari pemukiman Azka dan ibunya.

Dikeheningan malam ruang kamar Azka yang hanya diterangi lampu semprong tiba-tiba muncul cahaya. Betapa kagetnya Azka. Batu prisma yang selama ini tak bercahaya malam ini tiba-tiba memancarkan cahaya menakjubkan. Tak cuma cahaya tapi diiringi suara memanggil-memanggil namanya dari kejauhan.

"Azka...Azka...Azka datanglah."

Tiba-tiba saja Azka seperti mengalami halusinasi. Ia memegang batu prisma itu dan berlari ke arah hutan tempat dimana ia bertemu bidadari itu pertama kali. Di hutan ia disambut suara malam yang menakutkan. Ia terus menerobos pekatnya malam. Batu prisma itu menjadi penuntun jalan bagi Azka. Disaat itu Azka begitu menggunakan segala keberanian. Sepertinya batu prisma itu mampu menggandakan keberanian Azka.

Siapapun dia, tak terkecuali setan belantara jika berani menghalangi langkahnya, Azka siap bertarung. Ibu Azka tak tahu jika di hutan tempat mereka mencari nafkah telah tercipta kisah baru perjuangan anaknya.  Azka memang memiliki kemampuan bela diri dan mampu menggunakan pedang dengan baik selain busur panah yang menjadi andalanya. Lalu siapa sesungguhnya Azka dan ibunya? 

Azka terus menerobos pekatnya malam. Melewati hutan belantara tanpa rasa takut sedikit pun. Di dalam perjalanannya ia mulai sadar pencariannya saat ini seperti tanpa arah dan mungkin akan menemui kegagalan. Sejenak ia berdiam diri. Tiba-tiba sekelebat bayangan nyaris menerjang dirinya. Tapi bayangan itu seperti memberi isyarat kepadanya. Azka memutuskan membuntuti bayangan itu. Tapi herannya ketika Azka berusaha mendekat bayangan itu semakin jauh. Azka pun mulai penasaran dan ragu. Tapi ia tetap mengikuti arah bayangan itu. Karena tak ada petunjuk lain.

Tubuhnya yang sejak tadi tak kenal lelah saat ini ia perlahan mulai merasakan lelah. Azka sudah memasuki wilayah hutan yang selama ini tidak bisa dijamah manusia biasa. Hutan itu dikenal angker dan banyak terdapat binatang buas. Banyak cerita bahwa setiap orang yang ke hutan ini tak akan kembali hanya akan meninggalkan nama. Orang juga berprasangka bahwa pangeran yang meninggalkan istana sudah tiada di hutan tersebut.

Walaupun Azka ragu, pilihan saat ini ia harus tetap membuntuti bayangan putih itu. Dengan bantuan cahaya dari batu prisma ia mulai menebak bahwa di depannya adalah sosok perempuan berjubah kelabu dengan selipan warna putih. Tingginya semampai. Busana yang dikenakan sosok tersebut membuat dirinya nyaris tak terlihat dalam pekatnya malam. Wanita itu tak pernah menunjukkan sosok dirinya kepada Azka.

Dari kejauhan mulai ada titik-titik cahaya seperti kerlap kerlip cahaya kunang-kunang. Ada juga suara nyanyian peri hutan terdengar syahdu. Separuh waktu berjalan mulai tampak telaga dengan kabut tipis di atasnya. Cahaya temaram memenuhi isi telaga itu. Di sisi-sisi telaga rimbunan bunga edelweis dan melati berjejer memenuhi telaga itu. Di tengah telaga tampak deretan bunga teratai. Sungguh indah pemandangannya. Tak hanya itu, di depan telaga terdapat altar batu pualam dihiasi bunga beraneka warna beraroma wangi malam. Tangga-tangga batu tersusun rapi sebagai jalan menuju ke atas altar batu tersebut.

Seperempat jam lagi Azka akan memasuki lokasi telaga tirta. Tempat pemandian para bidadari. Lokasi ini hanya bisa dijangkau oleh orang pilihan. Tempatnya terlihat makin jelas tapi untuk menjangkau membutuhkan beberapa waktu lagi. Azka merasa seperti berputar ditempat. Itu terjadi secara ajaib. Kejadian ini seperti cerita dongeng tentang tanah lelembut. Tempat dimana seorang berjalan tak pernah sampai ke tujuan. Kali ini benar-benar dialami Azka. Seperti misteri tanah lelembut untuk mencapai tujuan diperlukan mantra khusus. 

Azka merasa bahwa ini adalah ujian nyata baginya. Parahnya lagi batu prisma yang ada ditangannya tak berfungsi. Kondisi menjadi benar-benar gelap. Ditempat dimana dia berada saat itu ibarat ruang hitam. 

Namun ia terus melangkah tanpa kenal lelah. Kondisi fisik Azka kian lemah. Kesabarannya sudah diambang batas. Sekelebat bayangan tiba-tiba menghardik dirinya sambil menghunus pedang ke arah Azka. Pedang bermata dua dengan ukiran burung phoniex di dua sisi mata pedang. Pedang ini mengeluarkan cahaya sehingga tampak jelas gambar yang ada di dua sisi pedang itu. Pemandangan ini mengerikan bagi manusia biasa. Namun Azka cukup tenang menghadapi hadangan itu. Jika saja dia mau bertarung disisa tenaganya ia siap saat itu untuk meladeni dalam pertarungan itu.

Pemilik pedang mengenakan topeng transparan, walau begitu dari pakaian yang dikenakan bisa ditebak dia sosok perempuan. Aroma tubuhnya begitu wangi khas aroma bunga mawar. Gerakannya sangat atraktif dengan kemampuan bela diri yang mumpuni. Wajar saja kalau Azka tak bergeming dihadapan perempuan berpedang itu.

Perempuan itu menuntun Azka ke kawasan Telaga Tirta. Di atas altar batu pualam seorang perempuan jelita duduk bersila. Ia memandang lepas ke arah datangnya Azka. Tapi wajahnya tak mampu menyembunyikan benih-benih cinta yang mulai tumbuh. Benar, selama ini memang Lady Maheswari memendam rasa cintanya pada Azka.

Malam ini adalah penentuan akhir untuk Maheswari dalam hidupnya. Ia telah dikucilkan dari istana karena memberikan batu prisma kepada Azka. Dengan sikap Maheswari seperti ini artinya dia harus meninggalkan kehidupan abadi dan akan hidup menjadi manusia yang serba terbatas. Yang kematiannya ditentukan oleh usia dan nasib. Namun keputusan ini tak mudah karena harus melewati upacara sati yaitu melewati lorong api sebagai proses pelepasan diri.

Perempuan bertopeng ini membawa Azka ke hadapan Maheswari. Azka sudah yakin dengan wanita dihadapannya.

"Selamat datang Azka. Ketulusan dan cintamu membawa keselamatan bagi dirimu. Kamu adalah pria terpilih karena itulah kamu bisa sampai ke telaga tirta," ucap Maheswari menyambut kedatangan Azka.

Azka hanya terdiam membisu dihadapan wanita cantik itu. Ia sebenarnya ingin memeluk erat Maheswari dalam dekapannya. Tapi apa daya di sekitar telaga tirta berdiri perempuan-perempuan bersenjata pedang. Apalagi ini baru kali kedua ia bertemu Maheswari. Akhirnya Azka hanya memendam perasaannya itu. Mereka masing-masing belum mengutarakan isi hatinya. Mereka sebatas mencintai dalam hati saja.

Namun dari tatapan mata yang terpancar ada kobaran api asmara yang siap membakar jiwa mereka. Jika disitu hanya mereka mereka berdua dunia seakan menjadi milik mereka.

"Maheswari, maafkan aku. Cintaku padamu melampaui batas kekuatan ku," ungkap Azka.

Hari sudah larut malam tapi suasana di telaga tirta tampak lain. Disitu bak hidup di alam lain  yang berjalan tanpa waktu hanya ada kedamaian dan keindahan yang dirasakan?

Cinta dua insan lain dunia ini menghadirkan rasa haru yang mendalam. Maheswari ingin melepaskan keabadian sebagai bangsa peri demi merajut hidup bersama Azka. Namun transisi kehidupan Maheswari melalui prosesi Sati dimana ia harus melewati lorong api abadi agar dia bisa hidup bersama Azka. Ini yang menghalangi jalinan asmara Maheswari dan Azka.

Bersambung....

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!