Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Siswa Wajib Memiliki Smartphone dan Guru Punya Gadget Mahal, Why Not? - unclebonn.com

Sunday, July 5, 2020

Siswa Wajib Memiliki Smartphone dan Guru Punya Gadget Mahal, Why Not?

Belajar dari rumah home learning
Ilustrasi : Pixabay.com
Di tengah pandemi global terkait Coronavirus Desease 2019 (Covid-19) para pakar memprediksi bahwa untuk kembali ke kondisi normal seperti sedia kala masyarakat global membutuhkan waktu lama. Padahal dewasa ini manusia harus berpacu dengan waktu. Jika tidak maka dia akan dilindas oleh waktu itu sendiri.   Dan manusia dituntut bergerak dinamis dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya yang ada. Sumberdaya dimaksud adalah produk-produk sains dan teknologi yang tak lain adalah manivestasi dari peradaban tertinggi manusia itu sendiri. 

Sejak China melaporkan kasus Covid-19 secara resmi kepada WHO tanggal 31 Desember 2019 dampak pandemi Covid – 19 sangat luas dan memengaruhi tatanan kehidupan masyarakat secara global. Dan Covid -19 di Indonesia sejak terdeteksi pada tanggal 2 Maret 2020 membawa dampak pada pertumbhan ekonomi yang stagnan bahkan cenderung menurun. Selain itu banyak tenaga kerja yang di PHK, kantor layanan publik dan instansi pemerintah dihentikan sementara. Sementara itu di dunia pendidikan mengalami “libur Panjang” dari aktivitas pembelajaran di sekolah.

Kenapa saya memakai term, “libur Panjang”? Hal ini berkaitan dengan efektivitas dan optimalisasi pembelajaran online (Online Learning). Apakah pembelajaran online dari rumah (Home Learning) yang dilaksanakan atau diikuti oleh seluruh siswa atau peserta didik maksimal selama ini? Apakah guru mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal selama masa bekerja dari rumah (Work From Home)? Jawabannya ada di bawah ini.

Dikutib dari Beritasatu.com (21/04/2020), komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Lystiarti mengatakan bahwa sejak masa belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 19 Maret 2020 KPAI menerima    246 pengaduan baik dari siswa maupun dari orang tua. Berdasarkan hasil survei KPAI sendiri bahwa satu bulan belajar online, 72,8% siswa mengeluh penumpukan tugas. Dan masih banyak temuan dari hasil survei yang dilaksanakan oleh KPAI yang bisa menjadi fokus studi.

Pada praktiknya selama masa “dirumahkan” terhitung tanggal pelaksanaan Home Learning yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur sejak tanggal 19 Maret 2020 – 30 Mei 2020 banyak temuan yang bisa dijadikan obyek studi atau penelitian.

Dari hasil tanya jawab langsung dengan beberapa siswa masalah utama bagi siswa adalah tidak memiliki smartphone sekaligus tidak memiliki paket data atau kuota internet. Jika mereka memiliki dua-duanya (smartphone dan paket data) mereka masih terkendala  dengan belum terjangkaunya jaringan 4G.  Pada kondisi ini mereka jelas tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan melalui aplikasi WhatsApp, Facebook, Google Classroom dan beberapa aplikasi yang disepakati antara peserta didik dan guru mereka.

Dibalik problem di atas, ada temuan lain. Hal ini berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa guru yang aktif melaksanakan pembelajaran : memberi penugasan online selama masa Belajar Dari Rumah (BDR). Dikemukakan dalam diskusi kami masih banyak siswa yang apatis pada tugas yang diberikan oleh guru walau mereka memiliki smartphone dan paket data. Mereka lebih senang menikmati apa yang mereka sukai ketimbang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Jika ada pertanyaan kenapa tidak mengerjakan tugas dalilnya adalah tidak punya paket data.

Selain siswa masih terdapat guru yang belum mengoptimalkan fitur-fitur aplikasi untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh. Misalnya penggunaan aplikasi Google Classroom atau yang paling minimal Google Form. Padahal jika dibandingkan dengan aplikasi pembelajaran lainnya, Google Classroom salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh dengan manajemen atau system pembelajaran yang sangat baik dan sangat support dengan kebutuhan atau model pembelajaran yang diterapkan selama masa BDR. Tinggal bagaimana guru mengeksplorasi fitur-fitur yang ada di dalam aplikasi tersebut. Google Classroom memungkinkan guru mengintegrasikan dengan aplikasi pihak ketiga sehingga kinerja guru optimal selama masa Belajar Dari  Rumah.

Lantas bagaimana agar peserta didik lebih efektif mengerjakan tugas dan guru bisa optimal  atau dengan kata lain lebh maksimal dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (online learning)?

Pertama, siswa wajib memiliki smartphone. Kedua guru perlu memiliki gadget yang mahal. Mengapa harus wajib dan mengapa harus gadget yang lebih mahal? Sebelum menjawab dua poin di atas perlu dijelaskan apa definisi smartphone dan apa definisi gadget.

Menurut Williams dan Sawyer seperti dikutib dari Maxmanroe.com definisi smartphone adalah telepon selular yang memakai beberapa layanan seperti layar, mikroprosesor, memori, dan modem bawaan. Dengan begitu, smartphone memiliki fitur yang lebih lengkap dibanding handphone biasa.

Mengutib dari Bulelengkab.go.id gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Indonesia, gadget disebut sebagai gawai. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Contoh-contoh dari gadget diantaranya laptob/computer, telepon pintar (smartphone) seperti iphone dan blackberry, tablet, serta netbook (perpaduan antara komputer portabel seperti notebook dan internet), dan lain-lain.

Maksud siswa wajib memiliki smartphone dan guru harus menggunakan gadget yang mahal

Pertama, jika siswa memiliki smartphone (telepon pintar) dalam konteks pembelajaran dia bisa mencari dan mendapatkan banyak informasi untuk menjawab atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Dengan smartphone yang berkualitas siswa dapat meng-install berbagai macam aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh. Seperti WhatsApp, Facebook, telegram, atau aplikasi yang murni untuk tujuan pembelajaran seperti Google Classroom. Pada aplikasi Google Classroom ada fitur-fitur yang akan maksimal fungsinya jika menggunakan smartphone yang berkualitas. Misalnya jika guru mengirim materi atau konten berupa gambar atau video jika memakai handphone biasa bisa saja tampilan akan hilang atau handphone tersebut akan error. Selain itu jika masih menggunakan handphone biasa pengelolaan panel dan menu-menu di dalam aplikasi tersebut tidak akan maksimal.

Jika ada orang bertanya kenapa sekolah tidak menyiapkan smartphone seperti itu?

Pemerintah dalam hal ini lembaga pendidikan sudah menganggarkan dana khusus melalui dana BOS Afirmasi. Namun tidak semua sekolah mendapatkan dana itu dan tidak semua dana itu dipakai untuk membeli handphone atau tablet. Dana tersebut untuk pengadaan barang dan jasa lain demi kelancaran operasional sekolah. Sedangkan smartphone itu tidak menjadi milik perseorangan melainkan dipakai secara kolektif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain smartphone itu hanya dipakai di sekolah dan tidak di bawa ke rumah.

Dengan memiliki handphone atau smartphone sendiri maka siswa tersebut bisa menggunakan smartphone miliknya dimana saja dan kapan saja. Selain dipakai untuk media pembelajaran bisa juga digunakan untuk media hiburan dan bisnis. Apalagi siswa SMK harus jeli memanfaatkan peluang untuk menjadi wirausahawan muda. 

Catatan pentingnya bahwa semua aplikasi-aplikasi sosial media akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam penerapan online learning. Karena informasi-informasi terkait pelaksanaan pembelajaran disebarkan luaskan melalui grup social media yang sifatnya interen.

Kedua, mengapa gadget guru harus mahal? Bagaimana mungkin guru hari ini berpikir cukup pakai handphone sekedar berkomunikasi ria (telpon dan sms) - saja. Memiliki smartphone, tablet, iPad, kamera, drone dengan harga mahal bukan lagi dibilang pamer atau sekedar gaya-gayaan. Saat ini gadget mahal bagi guru adalah kebutuhan.

Bayangkan seorang guru memakai smartphone biasa ketika mau meng-install berbagai jenis aplikasi seperti  e-book, aplikasi social media, aplikasi pembelajaran, namun memori internalnya kecil system operasinya terbatas dan ngadat apa bisa maksimal?

Hari ini guru harus kreatif dalam menyiapkan materi pembelajaran. Menyiapkam media pembelajaran yang inovatif, kreatif, sekaligus tidak meninggalkan sisi nyaman dan menyenangkan untuk peserta didik. Oleh karena itu mau tidak mau guru perlu belajar memanfaatkan teknologi android, belajar editing video melalui Kinemaster, misalnya, yang memiliki fitur-fitur simple untuk membuat video tutorial pembelajaran. Atau belajar membuat video animasi dari aplikasi yang tersedia di dunia maya.

Dengan tuntutan pembelajaran di masa online learning mau tidak mau guru harus menyiapkan smartphone, laptob, kamera, dll (gadget yang memerlukan anggaran besar) sehingga mampu menjawab tuntutan guru di saat ini. Guru harus melek teknologi dan tahu apa yang harus direncanakan dan dikerjakan saat ini. Jika ada kekurangan bisa dievaluasi.    

Lantas Seperti Apa Kegiatan Pembelajaran Pasca Wabah Covid-19 Nanti?

Seperti dilansir BBC (10/05/2020) dua wartawan BBC memaparkan pandangan mereka seperti apa kehidupan kita nanti setelah wabah virus Corona berakhir. Dikatakan mereka bahwa aplikasi Zoom dan WhatsApp menjadi pilihan utama manusia dan mayoritas anak usia sekolah akan belajar menggunakan internet.  

Zoe Kleinman, wartawan teknologi BBC berpendapat, “Mulai dari Zoom sampai ke WhatsApp group, platfrom digital menjadi satu-satunya cara bekerja bagi kebanyakan orang, selain untuk berolah raga, mendapatkan pendidikan dan menikmati hiburan sehingga batasan antara rumah dan pekerjaan akan semakin kabur.” Sedangkan menurut Branwen Jeffreys, seorang editor pendidikan pada BBC mengatakan, “lebih dari 90% anak-anak tidak belajar di ruang kelas. Pengajaran di internet semakin meningkat.”

Dengan merujuk dua narasumber di atas bisa dikatakan bahwa pembelajaran online yang massif dilaksanakan selama masa belajar dari rumah akibat wabah Covid-19 akan tetap dipertahankan dan kecenderungan pemerintah menjadikan Online Learning sebagai New Normal atau paradigma baru dalam dunia Pendidikan Indonesia.

Saya pun memprediski bahwa ada grand design pendidikan bagi bangsa dan negara ini yang sifatnya terpadu (Kemdikbud, BKN, Kementerian Dalam Negeri dan KemenPAN-RB) bahwa kedepan akan dibuatkan aplikasi khusus untuk mencatat aktivitas berbasis kinerja bagi guru maupun dosen secara berkala : harian, mingguan, dan bulanan. Hal ini akan berdampak pada gaji, kenaikan pangkat serta promosi jabatan - (reward and punishment).

Dengan demikian kalau hari ini misalnya, siswa memiliki smartphone dan guru memiliki gadget mahal itu merupakan hal biasa. Karena dunia pendidikan saat ini sudah bergeser dari pengajaran yang sifatnya konvensional kemudian melompat ke suatu fase yang disebut Online Learning. Sudah terbukti beberapa tahun lalu Online Learning masih bersifat wacana dan penerpannya masih selektif (sekolah tertentu saja). Kedepan Online Learning akan disusun secara terstruktur, sistemik dan massif. Oleh karena itu jika sekolah menghimbau agar anak-anak memiliki smartphone maka orang tua perlu mempertimbangkan hal tersebut.

Dengan memiliki smartphone sendiri peserta didik lebih bebas berekspresi, berkreasi dan sekaligus me-manage waktu pembelajaran mereka.  Namun begitu tugas kita bersama untuk peserta adalah  memberikan proper advice agar mereka bijak dalam menggunakan smartphone dan mampu mendisiplinkan diri sehingga mereka tidak terlena dengan suguhan informasi yang bisa memanjakan mereka dan menjadikan mereka generasi instan*

Penulis adalah Pegiat Sosial Media dan Guru


No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!