Materi ajar ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai alat tangkap Payang, yang secara teknis diklasifikasikan sebagai pukat tarik berkapal (boat seines) untuk menangkap ikan pelagis kecil. Fokus utama materi ini mencakup aspek historis payang sebagai alat tangkap tradisional Indonesia, detail konstruksi yang terdiri dari bagian sayap (wings), badan (body), dan kantong (cod-end), serta spesifikasi kapal operasionalnya.
Metode pembelajaran diarahkan
pada penguasaan teknik operasional yang meliputi tahapan persiapan, pelingkaran
gerombolan ikan (setting),
hingga penarikan jaring (hauling)
dengan memperhatikan olah gerak kapal yang presisi. Selain aspek teknis, materi
ini menekankan pentingnya alat bantu penangkapan seperti rumpon dan lampu untuk
meningkatkan efektivitas tangkapan. Sebagai bentuk edukasi terhadap
keberlanjutan lingkungan, dibahas pula mengenai urgensi modifikasi ukuran mata
jaring (mesh size) untuk
mencegah overfishing dan
menjamin kelestarian sumber daya ikan di perairan Indonesia. Melalui materi
ini, peserta didik diharapkan tidak hanya terampil secara operasional, tetapi
juga memiliki kesadaran ekologis dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan di
masa depan.
1. Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan modul ini, siswa diharapkan
mampu:
- Menganalisis
sejarah dan evolusi penggunaan payang dalam perikanan Indonesia.
- Mengidentifikasi
komponen konstruksi jaring payang secara mendetail (dimensi dan material).
- Menjelaskan
spesifikasi kapal dan alat bantu penangkapan yang digunakan.
- Menguraikan
tahapan operasional (setting hingga hauling) dan olah gerak
kapal.
- Mengevaluasi
aspek keberlanjutan sumber daya ikan terkait penggunaan mata jaring (mesh
size).
2. Sejarah Alat Tangkap Payang
Payang merupakan alat tangkap asli Indonesia yang
bersifat tradisional namun sangat efektif. Namanya bervariasi di setiap daerah:
- Pantai
Utara Jawa:
Disebut Payang (Jakarta, Tegal, Pekalongan).
- Sumatera: Pukat Banting (Aceh)
dan Pukat Tengah (Sumatera Barat).
- Indonesia Timur: Panja/Pajala (Muna/Buton), Pukat Buton (Manokwari/Kupang), dan Jala Oras (Sumbawa). Awalnya, payang dioperasikan menggunakan perahu layar tak bermotor dengan mengandalkan tenaga manusia (dayung) dan pengamatan visual untuk mencari gerombolan ikan (fish schooling).
3. Pengertian Alat Tangkap Payang
Secara teknis, Payang adalah Pukat Kantong Lingkar.
- Klasifikasi: Berdasarkan Kepmen KP No.
06/2010, payang termasuk kelompok Pukat Tarik Berkapal (Boat Seines).
- Karakteristik: Alat ini menangkap ikan
dengan cara melingkari gerombolan ikan kemudian menariknya ke arah kapal.
Berbeda dengan Purse Seine, payang tidak memiliki tali kerut di
bagian bawah, sehingga ikan diarahkan masuk ke dalam kantong melalui
proses penggiringan.
4. Konstruksi dan Komponen Alat
Tangkap Payang
Berdasarkan data teknis, konstruksi payang terdiri
dari:
- Kantong
(Cod-end): Bagian akhir tempat ikan terkumpul. Memiliki
mata jaring terkecil (sekitar 1-2 cm). Terbuat dari bahan Polyethylene
(PE).
- Badan
(Body):
Terdiri dari beberapa bagian (perut atas, bawah, dan samping) dengan
ukuran mata jaring yang bergradasi (semakin ke arah kantong semakin
kecil).
- Sayap
(Wings): Bagian
terpanjang yang berfungsi sebagai "pagar" pengiring ikan.
Panjang sayap bisa mencapai 100-150 meter per sisi.
- Tali
Ris Atas (Head Rope): Tempat melekatnya pelampung untuk menjaga
mulut jaring tetap mengapung.
- Tali
Ris Bawah (Foot Rope): Tempat melekatnya pemberat agar bagian bawah
jaring tenggelam dan membentuk mulut jaring yang terbuka vertikal.
- Tali
Selambar (Warp Rope): Tali yang sangat panjang (bisa mencapai 500
meter) untuk menarik jaring kembali ke perahu.
5. Konstruksi Kapal Payang
Kapal payang memiliki ciri khas khusus untuk
menunjang operasional:
- Desain
Lambung:
Umumnya bertipe V-bottom atau Round-bottom untuk stabilitas
saat penarikan jaring.
- Dimensi
Umum:
Panjang (LOA) 10-15 meter, lebar 2-3 meter.
- Dek
Kapal:
Memiliki area luas di bagian tengah atau belakang untuk menumpuk jaring (net
storage).
- Tiang
Pengamat:
Beberapa kapal memiliki tiang untuk nelayan memantau keberadaan burung
atau riakan air yang menandakan adanya ikan.
6. Teknik Penangkapan dan Olah
Gerak Kapal
Operasi penangkapan terdiri dari beberapa fase
krusial:
- Searching: Kapal bergerak berkeliling
mencari tanda-tanda ikan (burung yang menukik, warna air, atau bantuan Echo
Sounder).
- Setting
(Penebaran): *
Salah satu ujung tali selambar dilepas (biasanya diikatkan pada pelampung
tanda atau dipegang ABK yang turun ke air).
- Kapal
bergerak melingkar (berlawanan arah jarum jam atau searah) sambil
menurunkan jaring dengan kecepatan stabil.
- Hauling
(Penarikan): *
Kapal berhenti atau bergerak perlahan.
- Tali
selambar ditarik secara bersamaan dari sisi lambung. Kecepatan penarikan
sisi kanan dan kiri harus seimbang agar mulut jaring tidak miring.
- Ikan
digiring masuk ke bagian badan hingga terkumpul di kantong.
7. Alat Bantu Penangkapan Ikan
Keberhasilan payang sangat bergantung pada alat
bantu berikut:
- Rumpon
(Fish Aggregating Devices/FADs): Rangkaian bambu dan daun kelapa yang ditanam
di laut untuk menarik ikan kecil (umpan) yang kemudian diikuti oleh ikan
target.
- Lampu
(Light Fishing): Digunakan pada malam hari untuk mengumpulkan
ikan yang bersifat fototaksis positif (tertarik pada cahaya).
- Serok
(Scoop Net): Digunakan untuk mengambil ikan dari kantong
jaring ke dalam palka kapal saat hauling selesai.
8. Aspek Keberlanjutan
(Sustainable Fishing)
Isu utama alat tangkap payang adalah Selektivitas.
- Masalah: Ukuran mata jaring (mesh
size) yang terlalu kecil di bagian kantong menyebabkan ikan-ikan yang
belum dewasa (juvenile) ikut tertangkap. Jika ini terus berlanjut,
populasi ikan akan menurun drastis.
- Solusi: * Penerapan aturan Mesh
Size minimum sesuai regulasi pemerintah.
- Modifikasi
kantong jaring menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.
- Menghindari
area pemijahan ikan (spawning ground) saat melakukan operasi.
9. Kesimpulan
Alat tangkap Payang adalah warisan budaya maritim
Indonesia yang memiliki efisiensi tinggi dalam menangkap ikan pelagis kecil.
Kesuksesan operasionalnya ditentukan oleh ketepatan olah gerak kapal saat
melingkari ikan dan kerja sama tim ABK saat penarikan. Namun, modernisasi
payang harus tetap mengedepankan aspek keberlanjutan melalui pengaturan ukuran
mata jaring agar kekayaan laut Indonesia tetap terjaga untuk generasi
mendatang.



No comments:
Post a Comment
Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!