Terima Kasih Telah Berkunjung ke Unclebonn.com Mengapa Guru Lost Control dan Melakukan Kontak Fisik kepada Muridnya? - unclebonn.com

Saturday, February 7, 2026

Mengapa Guru Lost Control dan Melakukan Kontak Fisik kepada Muridnya?

https://www.unclebonn.com/2026/02/mengapa-guru-lost-control-dan-melakukan.html

Membatasi kebebasan anak dalam berekspresi : bertutur kata dan bertindak di dunia pendidikan bertujuan membangun kesadaran murid tentang hidup bersama ditengah komunitas masyarakat bahkan di dunia kerja. Biar mereka tahu apa yang mereka sukai atau kerjakan bahkan rayakan tidak semuanya diterima atau dirayakan oleh orang lain.  


Dunia kerja pun membutuhkan SOP (Standar Operasional Prosedur). Keterampilan tanpa prosedur pun akan beresiko.  


Dunia membutuhkan keteraturan oleh karena itu dibutuhkan sebuah tatanan. 


Tuhan yang menciptakan manusia untuk menguasai bumi dan isinya namun tetap saja kepada manusia diberikan roh hikmat dan akal budi agar manusia bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.


Baca Juga : Seandainya Saya Seorang Politisi


Memang dunia pendidikan itu melarang tindakan kekerasan melalui kontak fisik, hukuman fisik maupun verbal. Namun tidak selamanya kontak fisik selalu dianggap tindakan brutalitas oleh guru dan mengarah pada proses hukum. Atau hukuman fisik sudah dianggap tidak relevan lagi walau untuk melatih kebugaran tubuh.


Ada beberapa alasan kenapa guru  sampai melakukan kontak fisik:  


Pertama, saat menghadapi anak-anak yang melakukan perbuatan indisipliner berulang-ulang kali, dan Kedua, menghadapi anak-anak yang agresif kepada gurunya atau rutin menjadi biang keributan di kelas. Dalam menghadapi kondisi demikian perlu ada detterent effect atau efek jera kepada oknum murid tersebut agar mampu menghadirkan kondisi kelas yang nyaman bagi semua peserta didik.


Baca Juga :  Guru Diantara Tuntutan Profesi dan Upah


Jika anak-anak yang indisipliner dan agresif dimaklumi saja mereka akan merasa seperti untouchable man : pria (manusia) yang tak dapat disentuh, dan itu akan menjadi kebanggaan semu pada “geng-geng siswa” di sebuah sekolah dan akan diikuti oleh siswa lain bahwa guru tak berdaya menghadapi ulah mereka. Ini kerap terjadi dijenjang SMA/SMK.


Melakukan kontak fisik maupun hukuman fisik dari guru kepada murid itu bukan perkara mudah. Tidak seheboh publikasi media. Sebenarnya ada resiko untuk guru itu sendiri. Menghadapi anak SMA/SMK yang secara fisik mereka lebih berotot, bertenaga bahkan kuat guru pasti sangat hati-hati. Anak-anak SMA/SMK mereka masih labil dan bisa sangat mungkin untuk menyerang balik gurunya. Jadi kontak fisik itu sebenarnya jarang terjadi dan hanya beberapa guru saja yang berani dan terukur karena butuh strategi khusus. 


Saya sendiri baru mengalami bagaimana ketika rekan guru saya dikatai bodoh dan dipermalukan oleh siswa di dalam kelas. Saya nyaris meneteskan air mata saat menghadapi kondisi demikian. Mau bertindak tegas kita bisa saja disalahkan atau dikulik media. Guru sering menghadapi situasi dan kondisi yang dilematis dalam menegakan disiplin. 


Mungkin masyarakat berharap guru harus menempuh banyak cara untuk mengatasi masalah murid.


Memang benar ada banyak cara atau pendekatan dalam menyelesaikan masalah murid. Cara-cara seperti segitiga restitusi, mindfullnes dan lain itu memang “canggih”. Namun itu butuh waktu dan tenaga. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh guru untuk menuntun anak-anak yang memang benar-benar serius dan antusias dalan mengejar cita-cita dan masa depan mereka.


Baca Juga : Guru itu Pelopor dan Pilar Bangsa


Pendidikan membutuhkan proses secara holistik dan utuh. Dimulai dari rumah, sekolah dan regulasi dari pengambil kebijakan bahkan dukungan politik sehingga akan melahirkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.


Sebagai sebuah catatan bahwa setiap sekolah, setiap kelas, dan jurusan atau konsentrasi keahlian memiliki karakter yang berbeda-beda.  Jadi butuh pendekatan atau strategi maupun metode yang bervariasi.  Kondisi disekolah unggulan pasti berbeda dengan sekolah yang murid-murid harus dicari demi memenuhi quota. 


Nah, kalau sampai kepala sekolahnya turun tangan hanya ada dua kemungkinan: 1) Guru-guru takut dan dilema menghadapi tindakan indisipliner siswanya, dan 2) Tidak berjalannya sistem pembinaan siswa di sekolah itu. Kalau ada yang ke-3, mungkin bukan hari yang beruntung bagi kepala sekolah itu. Begitulah kira-kira pembaca yang budiman | Salam dan Bahagia 

No comments:

Post a Comment

Kami sangat menghargai pendapat Anda namun untuk kebaikan bersama mohon berkomentarlah dengan sopan!